| 10 komentar ]

Bingung, malas, tidak antusias, capek, jalanan macet, banjir, kemiskinan, rumah kumuh, kriminalitas, dan prostitusi. Inilah sebagian kecil dari jawaban warga Jakarta jika berbincang mengenai kota Jakarta. Apakah sedemikian parahnya wajah kota ini? Mengapa ini bisa terjadi? Jakarta oh Jakarta.

Sebuah ironi bukan? Ketika sebuah ibukota negara harus mengalami kondisi morat-marit seperti ini. Apa yang salah?

Kota Jakarta merupakan kota dengan penduduk yang sangat padat dengan berbagai macam kebudayaan yang dibawa oleh warga pendatang. Kondisi ini membuat Jakarta sarat dengan kebudayaan yang bermacam-macam. Akan tetapi secara garis besar terdapat dua macam jenis budaya dalam perilaku warga Jakarta.

Yang pertama adalah budaya kota. Budaya kota sangat kental dengan sifat individualis, materialisme, kekuatan intelektual, dan kecepatan kerja. Sementara yang kedua adalah budaya desa yang sangat menonjolkan tenggang rasa, kebersamaan tanpa mempedulikan kecerdasan intelektual, maupun kecepatan bekerja. Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan kedua budaya tersebut masing-masing mempunyai nilai positif dan negatif.

Akan tetapi yang menjadi masalah adalah ketika orang-orang dengan budaya desa mencoba melakukan aktualisasi diri di kota tanpa dibarengi dengan perubahan budaya. Mereka mencoba hidup di kota dengan mempertahankan budaya desa yang akhirnya menciptakan sebuah ambiguitas dalam kehidupan bermasyarakat. Orang-orang inilah yang biasa kita sebut “kampungan”.

Orang-orang kampungan ini mencoba mengikuti pergerakan kota tanpa dibarengi kecerdasan intelektual ataupun kecepatan kerja dan parahnya sering kali mereka tidak lagi memegang budaya desa yaitu tenggang rasa dan sopan-santun. Mereka seperti kehilangan jati diri dalam membaur ke dalam lingkungan kota yang memang identik dengan kecerdasan, jaringan (network), dan uang.

Golongan ini merusak tatanan kehidupan yang baik. Mereka tidak mau berkompromi terhadap kecerdasan intelektual ataupun kerja keras serta mereka pun tidak mengedepankan tenggang rasa dan sopan santun lagi. Yang ada di pikiran mereka bagaimana mereka bisa memperoleh yang mereka inginkan. Hak-hak orang lain dirampok tanpa ada perasaan bersalah, melanggar aturan dianggap biasa, melakukan kriminalitas bahkan menjadi hal yang lumrah. Budaya seperti begitu mendarah daging dalam masyarakat kota Jakarta: pelajar, mahasiswa, pegawai pemerintahan, aparat keamanan, pengusaha, supir angkutan, PRT, PKL, dll.

Satu-satunya jalan keluar untuk menuju Jakarta yang lebih baik adalah melakukan revolusi budaya. Mengkombinasikan sisi-sisi positif dari budaya kota dan budaya desa dan melapisinya dengan nilai-nilai spriritual. Mencoba mencetak generasi yang mempunyai kecerdasan intelektual, kecepatan kerja, mempuanyai nilai tenggang rasa, sopan-santun, dan memiliki pengetahuan agama yang baik. Karena generasi emas seperti inilah yang akan mampu membuat Jakarta mempunyai keunggulan komparatif dengan kota-kota lainnya.

Dengan semakin terjepitnya Jakarta oleh pengaruh globalisasi, perbedaan antara orang-orang yang berada di kasta “they have” akan semakin melebar dibandingkan dengan orang-orang yang berada di kasta “they don’t have.” Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin jatuh di dalam lubang kemiskinan: sebuah kondisi yang saat ini pun sudah bisa dirasakan.

Jawabannya adalah revolusi budaya. Revolusi budaya bukan suatu jalan untuk menciptakan kemenangan atau kejayaan untuk golongan tertentu akan tetapi revolusi budaya lebih dimaksudkan sebagai upaya untuk menyadarkan warga kota Jakarta untuk hidup lebih baik.

“I see skies of blue and red roses too I see them bloom for me and you. And I think to myself what a wonderful world.”

Kebahagian hanya akan tercipta apabila manusia sadar, paham, dan bersyukur atas anugerah yang diberikan oleh Tuhan.


sumber

10 komentar

Anonim mengatakan... @ 16 November 2008 pukul 18.39

maslahnya memang sistemik.kebijakan pemerintah DKi gak efektif menyelesaikan masalah yang makin berkembang....

Anonim mengatakan... @ 16 November 2008 pukul 20.29

judulnya kaya nama blog favorit Panda :)

Anonim mengatakan... @ 17 November 2008 pukul 13.47

Walah, Jakarta mah bisa dibilang sudah hampir rusak, akar budaya timur nya sudah tingal sekian persen. Orang-orang jakarta materialis abiss...

belly wijaya mengatakan... @ 17 November 2008 pukul 13.49

menurut saya (satu2nya) tempat di jakarta yg masih "berbudaya" dimana kita masih bisa merasakan aroma non-profit hanya di taman ismail marzuki.. itupun nyempil di IKJ-nya :)

arya mengatakan... @ 17 November 2008 pukul 13.58

wes................


kayaknya gw demen debat ma loe...............

1.ok gue bisa terima banyak pendatang baru dari desa yang bisa lo sebut "kampungan" ke jakarta,emang gw akui jakarta kota megapolitan..............otomatis kebayakan orang kampung hijrah ke kota besar................,dan itu bisa merusak tata kota dengan penuhnya lingkungan kumuh dsb,,blm lagi basic mereka yang orang desa mengikuti trend kita atau lo yang orang jakarta,otomatis terlihat morak.tapi di sini mereka berbuat pasti ada sebab kan.......????

gw lebih setuju dengan kalimat terakhir lo...................... dan mereka yg lebih panats di sebut kampungan............kenapa mereka dari kalangan pelajar,pejabat,dsb malah melakukan hal2 yang di lakukan orang yang tidak pernah berpendidikan..???



eh nyambung gak,>>>

heheheheheh



lah kenal ye..............!!!!

Anonim mengatakan... @ 17 November 2008 pukul 17.14

saya bukan penduduk jakarta, tapi karena tugas saya sudah sering kali pergi ke jakarta.

memang benar jakarta memerlukan semacam revolusi budaya, tapi budaya yang seperti apa? mengingat jakarta bukanlah milik satu etnis tertentu saja.

jakarta menjadi rumah puluhan etnis beserta budayanya masing-masing. amatlah teramat sulit untuk menemukan suatu 'pattern' yang akan menjadi acuan sebuah revolusi budaya.

saya melihat hal seperti ini bukanlah hanya menjadi masalah bagi jakarta saja. misalnya, hal seperti ini juga terjadi dalam skala yang lebih kecil di kota saya, samarinda. dimana dalam sepuluh tahun terakhir ini samarinda telah menjadi kota multi etnis. persoalannya sama, kota menjadi 'tak berbudaya'

mungkin ada kawan di sini yang bisa memberikan pemikiran?

salam kenal.

Toni Blog mengatakan... @ 17 November 2008 pukul 19.40

ternyata parah juga ya :D

Anonim mengatakan... @ 17 November 2008 pukul 22.27

betul juga, tapi kita gak bisa pukul rata warga jakarta. Kenyataannya ribuan warga yang ada dijakarta pada jam kerja (senin-jumat) adalah bukan warga jakarta alias yg tinggal disekitarnya bogor, tangerang, bekasi dll. Jadi pekerja yang kerja dijakarta juga perlu digembleng hehe :)

Anonim mengatakan... @ 17 November 2008 pukul 23.43

hehehehe Yang perlu di benahi itu Orang-orang penjitat yang ada di pemerintahan bukan jakartanya :D

admin mengatakan... @ 18 November 2008 pukul 06.12

@ gus
seperti busway bukan mengurangi kemacetan malah menambah kemacetan kota

@ panda
saya memang publikasi ulang bang dari jakaratbutuhrevolusibudaya.com

@ p3durungan
gak semua materialis kok bang... kita tak bisa memukul rata hitam, hitam semua pasti ada putihnya yang semnbunyi

@ belly wijaya
benar bang belly

@ arya
"kenapa mereka dari kalangan pelajar,pejabat,dsb malah melakukan hal2 yang di lakukan orang yang tidak pernah berpendidikan..???"
nyambung bang, saya setuju...

@ bingungin
benar apa kata abang, bukan kota jakarta yang seperti ini, kota-kota besar lainnya di indonesia pun sama, menurut saya yang dilakukan pertama kali adalah kita harus bisa mengatur tata kota, dan dunia penididikan di kota harus di tingkatkan.... dan seharusnya pemerintah membantu pembangunan-pembangun di daerah (pembangunan industri) bukan di kota karena menurut saya kota tak butuh lagi industri (akan membuat semakin berpolusi ria), sehingga tak ada lagi warga yang nekat pergi ke kota untuk mencari kerja (jika pemerintah membantu membuka lowongan kerja di daerah)...

mungkin ada kawan di sini yang bisa memberikan pemikiran lainya?

salam revolusi

@ tony
ya bang "darurat" heheh

@ yoki
benar bang yoki, banyak warga kota lain yang ke jakarta hanya buat kerja aja, ini yang membuat jakarta semakin macet ...

digembleng seperti apa ya bang?... :D

@ gelandangan
manusia memang pandai mencari kambing hitam, padahal kambing hitam aja tak mau di manusia hitamkan..hehehe

setuju banget kalo yang ini, yang dibenahi bukan jakarta tapi manusianya, dari hal yang kecil kata aa gym, dari diri kita sendiri..

mari sama-sama kita merevolusi budaya dari diri kita sendiri

salam

Posting Komentar