Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
| 5 komentar ]

Penyair adalah pemimpi yang selalu sembunyi di balikkhayalan,
berlindung dibawah selimut kata,
dan melawan kenyatan dengan puisinya yang seakan dapat meremukan segala.

penyair adalah pengecut yang hanya memandang hidup sebatas opini,
hanya mencari jalan keluar dengan menyelami kamus.
penyair juga tak lebih dari "seekor" penipu,
yang mengelabui jiwa-jiwa yang sedang terluka dengan pengindahan kata-kata yang sebenarnya memiliki arti yang sama perihnya.

penyair adalah pemabuk akut yang selalu lari dari kepahitan hidup dan berlindung di alam bawah sadar,
larut dalam masalah yang direkayasa sedemikian rupa agar nampak lebih indah dan ketika terbangun ia baru sadar bahwa tulisan tak kan menyelesaikan masalah penyair adalah seorang pembual ulung yang sangat mengerti bagaimana cara bercerita tentang kebohongan besar yang hebat untuk menutupi kenyataan yang ia sesali, kenyataan yang membuatnya kecewa,
kenyataan bahwa dirinya tak cukup hebat untuk dibanggakan bahkan terlalu membosankan untuk sekedar diceritakan..

tapi itu semua hanya opiniku tentang penyair dan aku sadar terkadang akupun dengan sekejap dapat berubah menjadi seorang penyair yang menuangkan opini dan imajinasi dalam tulisan ketika aku menjadi sangat pengecut dan tak mempunyai kekuatan ataupun keberanian untuk berbuat lebih...

by : Ade Qdel Setiyana

Baca selengkapnya......
| 6 komentar ]

Pesta demokrasi di tahun 2009 ini begitu meriah,iklan Partai Politik mendominasi di seluruh media. Menurut Anda iklan Partai Politik apa yang paling...

komunikatif?

menarik?

membosankan?

norak?

dan alasan Anda, kenapa???

Ayo siapa yang mau jawab? ...... hehehhee..... (Jawab di Komentar)

Baca selengkapnya......
| 14 komentar ]

Pejabat itu jenis manusia juga meski tidak setiap manusia bisa menjadi pejabat. Mereka tentu saja berbeda dengan orang kebanyakkan, kalau tidak bisa dibilang sengaja membedakan diri. Kalau diibaratkan ikan lele, mereka adalah lele dumbo. Kalau ayam, pejabat itu jenis ayam Bangkok yang tidak hanya pandai berkokok, tapi juga mahir bertarung.

Karena itu, wajar saja jika mereka harus dihormati. Bukan saja karena kapasitasnya sebagai pejabat, tapi juga mereka itu punya intelegensi yang diatas rata-rata. Karena beliau-beliau itu manusia juga, tentu saja mereka juga butuh makan. Cara makannya pun berbeda dengan orang banyak. Makannya sedikit-sedikit, pelan-pelan dan punya etika makan sendiri. Kalaupun porsi makan mereka banyak, mereka akan menelannya secara diam-diam supaya tidak terlalu kentara. Di mata mereka yang makannya banyak dan asal lahap itu cuma kambing.

Bahkan mereka punya adat-istiadat tersendiri jika tertawa. Tidak boleh tertawa terbahak-bahak atau mulut sampai terbuka lebar. Tapi cukup ditahan saja. Karena kalau tertawa sampai giginya nongol keluar, itu dianggap tidak sopan. Cuma tukang becak saja yang ketawa ngakak sampai berguling-guling. Dan pejabat tidak boleh bertingkah konyol seperti tukang becak. Bisa jatuh kredibilitas dan nama besarnya.

Dunia pejabat memang bukan dunia tukang becak, tukang gali sumur, apalagi tukang sayur. Dunia mereka agak diatas dan karenanya harus bersikap anggun, sopan, dan rapih. Ini bukan persoalan sepele, tapi menyangkut wibawa dan harga diri. Mereka memang seolah memisahkan diri dari orang banyak. Maklum saja, mereka itu bibit-bibit unggul. Apalagi mereka orang penting yang patut dipisahkan. Jadi harap dimaklumi kalau untuk menemui mereka agak sedikit sulit dan harus melewati setumpuk birokrasi yang rumit. Walhasil, sebagai pejabat, tentu saja mereka tidak layak naik bus kota. Mereka harus punya kendaraan pribadi sendiri-sendiri. Dari mana uangnya? Itu bisa diatur. Lagipula tugas mereka kan mengurusi rakyat. Dan untuk ngurusi rakyat itu bukan kerjaan main-main. Ada beban ekstra berat dipundak mereka. Jadi, sangat wajar jika mereka mendapat dan meminta fasilitas lebih.

Soal permintaan fasilitas yang datangnya justru disaat masyarakat sedang kalang-kabut dipermainkan krisis, itupun masih bisa dimaklumi. Pejabat itukan bukan orang kebanyakkan, sehingga mereka harus berbeda dan dibedakan. Kalau di zaman dulu, kedudukan mereka persis seperti kaum priyayi yang berdarah biru. Yang harus disanjung, dipuji dan ketika orang biasa lewat di depannya harus membungkuk-bungkukkan badan serendah mungkin. Satu lagi, para priyayi itu juga harus menjaga jarak dari rakyat, harus membuat garis sejelas mungkin antara mana yang rakyat dan mana yang priyayi.

Hanya saja, ketika pejabat sudah seperti priyayi yang harus menjaga jarak dengan rakyat, bagaimana mereka bisa benar-benar mengerti aspirasi masyarakat? Bagaimana mungkin mereka akan mengerti jerit keprihatinan rakyat kecil jika mereka hanya mendekam di ruang kerjanya yang ber AC? Apakah perlu di wilayah demokrasi untuk membuat sekat-sekat antara pejabat dengan rakyat atau antara penguasa dengan yang dikuasai? Mungkin mereka memang hanya cukup mengintip keadaan masyarakat lewat celah sempit di atas sana. Atau mungkin juga dua ratus juta rakyat cukup dilihat nasibnya lewat beberapa lembar laporan. Itukan jauh lebih praktis, lebih mudah, dan lebih efisien daripada harus mendengarkan langsung tuntutan rakyat, berisikkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk !!!!!!!!!!!!!

gambar : arsuka.wordpress.com

Baca selengkapnya......
| 7 komentar ]

Akankah pemimpin yang baru mencabut TAP MPRS tentang larangan komunisme dan pembubaran PKI?

Kalau masalah atau membicarakan komunisme adalah sesuatu yang sangat dan amat tabu untuk dibicarakan di Negara ini (Indonesia). Sepertinya benar juga ketika seorang kawan berkata seperti itu. Karena banyak orang yang sudah terprovokasi bahwa komunisme bertentangan dengan Pancasila (Apakah benar?). Akankah pemimpin yang baru kritis menanggapi hal ini sehingga mempunyai kebijakan baru mencabut TAP MPRS tentang larangan komunisme dan pembubaran PKI. Jangan sinis melihat kami, kami hanya merawang hal-hal yang mungkin saja terjadi. He.2…

Sejarah September kelabu sangat mengganggu memory kolektif berbangsa. Jangankan TAP MPRS tentang komunisme, kasus soeharto yang sudah jelas di depan mata tak pernah tersentuh tangan hukum. Jika dilihat dari backgorund capres Prabowo, Sutiyoso, Wiranto adalah mantan militer yang memiliki doktrin "AWAS BAHAYA LATEN KOMUNIS". Sedangkan Megawati dan SBY sudah pernah memerintah dan tidak melakukan apa-apa (Gusdur ? ). Lagipula capres yang akan mencalonkan akan berhitung dengan wacana ini. karena bisa kontraproduktif dengan popularitas mereka Kami bukan mau menarik garis konklusi bahwa kami mendukung PKI, tapi ada sejarah yang belum tuntas yang harus diselidiki. Kami pesimis kalau ada yang berani mencabut TAP tersebut.

TAP MPRS ini harus dicabut atau tidak ?

1. Karena belum terbukti benar bahwa PKI adalah dalang dari Gerakan 30 September.
2. Tidak relevan dengan UUD 1945 pasal 28 yang menyatakan kebebasan berpendapat dan berserikat.

Intinya sebuah produk hukum kan dibuat setelah melalui penelusuran fakta yg ada. Toh TAP MPRS itu kan produk politik..so pastinya HARUS DICABUT.. tapi kalau boleh minta pendapat,siapa dalang September kelabu menurut anda ? (mencoba mebuka lembaran hitam – jas merah)….

Mungkin sekarang bagi anda, dicabut atau tidak itu bukan hal yang penting (tapi bagi saya penting, untuk menjelaskan sejarah yang sebenarnya pada waktu itu), yang penting bagaimana pemilu berjalan dengan damai yang akan bergulir sedikit lagi di Negara ini. Tentang kontes seo pemilu damai, kami setuju dengan abang kami, kontes ini sangat bagus, tapi mudah-mudahan bukan menjadi ajang kekuatan unjuk gigi bagi para blogger Indoensia, tapi menjadi doa kita semua blogger Indonesia “kampanye damai pemilu Indonesia 2009”. (ada udang dibalik batu)

Baca selengkapnya......
| 4 komentar ]





Ada yang bilang kalau pemilu itu pesta rakyat?....

Kami hanya ketawa... benar-benar ketawa.... suerrrrrrrrrr...

Yang Kami tahu pemilu itu pemilihan umum, sedangkan pesta rakyat itu adalah dangdut, layar tencep, dan hiburan lainnya....

jadi siapa yang bilang pemilu itu pesta rakyat?.... hiks.2.....

jadi pemilu itu?... sampe saat ini kami gak ngerti... huaaaaaaaaaaaaaa (peace)

Tadi mau ikut kontes "Kampanye Pemilu Damai Indonesia 2009".... setalah berpikir, (tahu diri).. mendingan berdo'a aja biar benar-benar damai pemilu 2009...

Baca selengkapnya......
| 7 komentar ]

Segala sesuatu memang telah dan akan berubah. Kalau dulu buku cerita “Keliling Dunia 80 Harinya Jules Verne begitu digemari dan dikagumi, sekarang bukan mustahil malah menjadi bahan tertawaan anak-anak. Kerena saat ini untuk keliling dunia tak perlu selama itu.Cukup duduk manis di dalam Jet, dan dalam waktu tak kurang 1 x 24 jam dunia sudah bisa dikelilingi. Bahkan bulan yang orang dulu dianggap sebagai villanya para Dewa, kini sudah di kunjungin oleh manusia. Dari bulan itu pula Yuri Gagarin sanggup “mengelilingi” bumi hanya dengan satu kedipan mata. Tentu saja bukan karena dia Dewa, tapi karena makhluk yang bernama tekhnologi itulah yang membuat kita mampu merubah mimpi menjadi nyata, yang menjadi nyata, yang menjadi jembatan antara alam nyata dan alam maya. Tekhnologi pula yang menggeser singa dari gelar raja hutan menjadi raja kebun, karena hutannya sudah tak ada lagi, yang masih ada tinggal kebun, tepatnya kebun binatang.

Semua memang sudah berubah. Kalaupun ada yang abadi, itu tidak lain adalah proses perubahan itu sendiri. Kalau di zaman dulu perang selalu menuntut jiwa-jiwa patriotik, sekarang tidak perlu lagi prajurit yang berani mati. Mereka cukup menekan tombol-tombol dan berlindung di balik kecanggihan rudak dan bahkan nuklir. Sehingga sang prajurit tidak perlu mati, sebaliknya, akibat rudal-rudal itu, ribuan warga sipil terpaksa angkat kaki dari tanah mereka sendiri. Bahkan ribuan lainnya terpaksa mati tanpa mereka bisa mengerti kenapa mereka, yang tidak terlibat perang bisa ikut mati. Begitulah satu sisi manusia yang menggerakkan perubahan, disisi lain manusia pula yang harus menjadi korban perubahan itu sendiri.

Begitu juga kota ini (Jakarta). Kota yang terkenal dengan polusinya itupun tak luput dari perubahan. Dulu , ketika masih bernama Batavia, kota ini cukup lenggang dengan barisan pepohonan disana-sini tak ada bising klakson yang bersahut-sahutan, hanya ada delman yang berlenggak-lenggok menyusuri jalan. Penduduk yang tak suka naik delman, bisa menggunakan trem yang nyaman. Namun karena dianggap mengganggu lalu lintas, oleh walikota Sudiro saat itu, trem tersebut dilenyapkan. Rel-rel yang melingkari kotapun dicabuti. Sementara, ditengah kota mengalir air ciliwung yang jernih tanpa sampah apalagi limbah. Saat itu, untuk berenang tak perlu pergi ke kolam renang. Ciliwung telah menyediakan tempat bagi siapapun yang ingin menceburkan diri. Baik sepanjang jalan Hayam Wuruk maupun dipintu air Manggarai Batavia, lepas dari masalah penjajahan, adalah kota yang tertata indah yang penduduknya bisa menarik nafas panjang tanpa takut terkena gangguan pernafasan.

Namun, kini semua itu tinggal sejarah yang telah lama di kubur waktu. Tak ada lagi penduduk tertawa sambil mencipratkan air di Ciliwung karena airnya sudah hitam pekat dan bau. Trem yang nyaman telah berganti wajah KA Jabodetabek yang berbau kematian setiap saat, jika lengah sedikit penumpang bisa jatuh lalu diseret kereta tanpa ada pihak manapun yang merasa bertanggung jawab. Barisan pohon pun kini tinggal penghias jalan-jalan penting, selebihnya gersang dan panas. Tata kota pun telah jauh dari rapi. Gedung-gedung tinggi menjamur berdiri angkuh diantara ratusan rumah-rumah kumuh. Kota tak lagi terasa lagi akrab karena orang-orang kaya terlalu menjaga jarak. Mereka mendirikan pagar-pagar tinggi yang atasnya berduri sambil tak lupa menuliskan “Awas Anjing Galak!”.

Apa maksud itu? Untuk menghindari pengemis atau menakuti petugas pajak? Entahlah, yang jelas, kota ini telah berubah dan akan tetap berubah. Jika perubahan tidak sesuai yang diharapkan, harap dimaklumi. Karena perubahan itu seperti kuda liar yang seringkali di luar kendali. Bukan, sama sekali bukan karena petugas kota tidak professional, kurang tegas atau bijak, ini semata-mata hanya karena, seperti biasa, kesalahan teknis.

Baca selengkapnya......
| 8 komentar ]

Debu, panas, dan macet adalah pemandangan sehari-hari kota ini. Kota yang konon menjadi impian masyarakat desa, oleh para seniman justru dijadikan ajang bulan-bulanan dan bahan kritikan. Tentu ini bukan sekedar omong kosong. Sebab ada yang bilang kalau keadaan masyarakat suatu daerah itu bisa dilihat dari karya-karya seni tidak hanya berfungsi sebagai entertain, tapi juga cermin. Nah , kalau karya-karya seni yang dilahirkan “miring” bisa disimpulkan kalau keadaan Jakarta itu sebenarnya juga “miring”. Sebab menurut beberapa seniman, karya seni itu lahir karena adanya realita yang di transfer dalam bentuk seni.

Slank misalnya, dalam sebuah lagunya mengatakan kalau Jakarta itu kota yang penuh srigala. Sementara iwan fals, dalam lagunya yang berjudul Jakarta lebih ekstrem lagi, ia bilang kalau Jakarta itu kota yang pincang. Berikut penggalan liriknya…

…gedung-gedung tinggi mewah angkuh bikin iri, gubuk-gubuk liar yang resah di pinggir kali, terlihat jelas kepincangan kota ini, tangis bocah lapar bangunkanku dari mimpi malam, lihat dan dengarlah riuh lagu dalam pesta, diatas dari kita mereka masih bisa tertawa, memang ku akui kejamnya kota Jakarta, namun yang kusaksikan lebih parah dari yang kusangka…


Banyak dan banyak lagi musisi lain yang berbicara tentang Jakarta. Kalau kawan sering naik angkot, kawan pasti pernah dengar seorang pengamen menyanyikan lagu yang kira-kira liriknya begini…

Siapa suruh datang ke Jakarta, siapa suruh datang ke Jakarta…
Atau kawan juga pernah melihat film lama yang berjudul “Ibu Tiri Tak Sekejam Ibu Kota”. Begitulah seniman memang sangat peka terhadap gejala sosial yang terjadi. Tidak hanya seniman musik, tapi juga seniman-seniman lain. Kalau kawan pernah mengikuti pameran fotografi tentang Jakarta, hampir semua yang dipajang adalah potret suram kota Jakarta. Dari kawasan kumuh dipinggir Ciliwung sampai potret seorang anak tanpa baju yang terlelap diteras di sebuah took.

Begitu juga ekspresi pelukis tentang Jakarta. Dapat dipastikan kalau ilustrasi yang timbul dikanvas mereka tak jauh dari kawasan kumuh dengan jemuran yang selalu melilit dan anak-anak kecil yang sedang bermain ditempat yang becek, atau seorang ibu yang gendong anaknya disisi sebuah gubuk yang kecil background gedung megah dan mewah.

Ya, itulah Jakarta dimata seniman, Jakarta yang penuh srigala, Jakarta yang pincang, Jakarta yang kumuh, Jakarta yang kejam… Jakarta yang …

oh Jakarta…
si kaya bertambah gila dengan harta kekayaannya,
sedang luka si miskin semakin manganga….

Jakarta..oh …Jakarta….
Kau tampar siapa saja sudaraku yang lemah,
manjakan mereka yang hidup dalam kemewahan.

Baca selengkapnya......
| 6 komentar ]

Siapakah Pahlawan Indonesia sekarang ini?

Dulu, lewat lembar-lembar sejarah kita mengenal Soekarno, Hatta, W.R Supratman, dan lainnya. Lalu di abad ini, siapakah pahlawan Indonesia?

Seorang teman menjawab dalam bahasa Inggris yang waluapun agak terpatah-patah namun cukup jelas…

“The real heroes in Indonesia today are the Heroes Supermarkets!”



Agak ngawur memang, tapi cukup lucu. Apa maksudnya? Tentu saja, jawaban nyeleneh tersebut, langsung atau tidak langsung, merupakan sindiran betapa saat ini kita kekurangan pahlawan.

Zaman memang telah berubah. Para pejuang dan pahlawan yang dulu gagah kini telah rapuh dimakan usia, tak sedikit pula yang gugur (semoga semangatnya tak pernah rapuh). Zaman telah mengubah ketulusan menjadi pamrih. Kapitalisme pun berkuasa, akarnya menancap dalam setiap otak kita. Dan dibawah kaki kapitalisme setiap orang selalu memikirkan dirinya sendiri. Pada saat yang sama, tak seorangpun yang memikirkan nasib semua orang. Dibawah kapitalisme pula ego manusia berkembang pesat dan ketidak pedulian terhadap sesama merebak dan bahkan menjadi trend. Tak heran jika di pinggir-pinggir rumah mewah, di tepi pingir-pinggir pagar berduri, ada petak-petak rumah yang saling tumpang tindih.

Namun adalah seorang yang sanggup memikirkan semua orang?
Kalau ada dialah pahlawan kita sekarang. Namun benarkah kita membutuhkan pahlawan?

Kalau kita terus mengharapkan datangnya seorang pahlawan, kita hanya akan menjadi pemimpi atau punguk yang merindukan bulan. Kalau toh pahlawan itu benar-benar ada, sanggupkah ia membawa kita semua menuju kesejahteraan? Sanggupkah ia membebaskan kita dari jerat hutang?

Pahlawan bukanlah pesulap yang tinggal berabrakadabra lantas beres. Pahlawan bukan pula superman yang dengan tinjunya mampu melibas setiap kezaliman. Superman bukan pahlawan, ia jagoan (huaaaaaaa, perlu di ingat).

Dan memang yang kita butuhkan saat ini bukanlah pahlawan karena tak seorangpun hingga kini, mampu memikirkan semua orang. Tanpa pahlawan pula bukan berarti dunia ini akan menjadi rimba yang luas.

Kalau sistem berjalan dengan baik,
kalau pengadilan bertugas semestinya,
dan kalau sistem itu mampu memikirkan nasib semua orang,
rimba itu tidak akan tercipta.

Semoga sistem itu kembali berjalan normal, semoga para penggerak sistem itu bukan kanibal yang gemar makan daging sesama.

email : suarabersama@gmail.com

Baca selengkapnya......
| 4 komentar ]

Hendaklah kalian yakin akan eksistensi kalian, mengetahui posisi kalian, dan percaya bahwa kalian adalah para pewaris kekuasaan dunia, meski musuh-musuh kalian menghendaki agar kalian tetap terhina (Hassan Al Banna)


Semestinya Intelektual

Pada akhir abad ke-18 pecah sebuah revolusi di Perancis yang mengubah wajah sejarah Negara tersebut, dan bahkan wajah sejarah Eropa secara keseluruhan. Yaa! revolusi tersebut adalah revolusi Perancis yang mengantarkan Perancis bebas dari sebuah dunia yang usang, dunia yang penuh dari feodalisme, yang penuh kungkungan rezim agama yang represif, yang penuh ketidakadilan menuju kepada sebuah masyarakat yang lebih baik dari masyarakat sebelumnya yaitu masyarakat demokratis yang mengakui hak asasi manusia. Revolusi ini merupakan sebuah collective consciousness movement yang dimotori oleh kalangan borjuis (kalangan menengah) dan kaum miskin. Tetapi spirit serta ide yang menjadi bara api bagi revolusi ini tetaplah kaum intelegensia Perancis seperti Volltaire, Rousseau, Montesquieu, dll.

Kaum intelegensia atau yang sering kita sebut kaum intelektual bila meminjam pendapat Gramsci adalah manusia yang memiliki semangat perubahan dalam dirinya yang semangat perubahan itu bertumpu pada aspek kognisinya dalam mengintepretasikan realitas yang ia lihat. Dengan menggunakan pisau analisisnya, intelektual dapat melihat realitas jauh lebih dalam dari pada orang-orang awam kebanyakan sehingga kemungkinan besar intelektual mencari akar permasalahan pun lebih terbuka lebar.

Tetapi sekali lagi aspek kognisi dari seorang intlektual tidaklah cukup baginya dalam melihat sebuah realitas dalam masyarakat. Seperti yang dinyatakan oleh Michael Foucault, selalu ada aspek kekuasaan dalam ilmu pengetahuan. Artinya kognisi (pengetahuan) seorang intelektual tidak serta-merta membuatnya dapat menyelesaikan permasalahan masyarakatnya, alih-alih, malah pengetahuan yang dimilikinya digunakan oleh penguasa sebagai alat legitimasi bagi kekuasaannya.

Lalu apa yang mesti dimiliki oleh intelektual selain aspek kognisi tadi? Gramsci telah menjawab pertanyaan ini. Aspek satu lagi yang diperlukan seorang intelektual dan yang paling penting adalah kesadaran akan tujuan yang ingin dicapai (consciousness). Dengan adanya kesadaran yang dimiliki oleh intelektual maka pengetahuan yang dimilikinya pun digunakan dengan sebuah kesadaran untuk melakukan perubahan. Tapi sekali lagi permasalahan muncul, terkadang kesadaran yang muncul bukanlah kesadaran yang sebenarnya melainkan kesadaran palsu atau yang disebut sebagai kesadaran naif (Naive Consciousness) dimana kesadaran yang dimiliki seseorang sudah terhegemoni oleh kekuasaan tertentu yang ditanamkan melalui indoktrinasi dan pendidikan. Kaum fundamentalis radikal di Afganistan adalah contoh kesadaran naif yang muncul. Kaum fundamentalis tahu bahwa mereka sedang ditindas dan mereka sadar akan hal tersebut dan kesadaran itu menimbulkan sebuah semangat pergerakan diantara mereka, namun kesadaran yang mereka miliki adalah kesadaran yang berasal dari sebuah indoktrinasi bukan dari kesadaran diri dalam melihat realitas dengan kognisinya (akalnya) pada akhirnya yang terjadi adalah sebuah bentuk pergerakan yang reaksioner.

Banyak sekali kita melihat seorang intelektual yang hidup dari hasil intelektualnya, dan pemikiran yang dimilikinya hanya dimengerti oleh kaum sesamanya. Intelektual telah membentuk suatu kelas baru di dalam pengelompokkan masyarakat. Intelekual pada dasarnya bukanlah individu-individu yang terlepas dari masyarakatnya, indvidu bahkan seharusnya membaur dalam masyarakat dan berjuang bersama masyarakat dalam mewujudkan sebuah tatanan masyarakat yang adil. Inilah konsep yang disebut oleh Gramsci sebagai intelektual organik (organic intellectual). Intelektual organic adalah intelektual yang lahir dan tumbuh di dalam masyarakat. Dia tidak dapat terpisahkan dari masyarakat dan akan selalu berada dalam masyarakat.

Keadaan mahasiswa dewasa ini

Lalu apa hubungan semua ini dengan Mahasiswa? Mahasiswa kalau boleh saya klasifikasikan maka tempat mereka adalah di barisan para intelektual. Mahasiswa adalah kaum dimana berkumpul tiga hal yang dibahas diatas, aspek kognisi dan kesadaran (bisa yang kesadaran naif bisa juga yang kesadaran utuh). Dan lebih jauh lagi berani saya katakana bahwa mahasiswa adalah kandidat besar untuk menempati diri dalam posisi intelektual organic. Oleh sebab itu sudah sewajarnya mahasiswa memiliki peranan yang sangat penting dalam sejarah bangsa Indonesia.

Tapi yang kita lihat selama ini, pergerakan mahasiswa tidaklah mencerminkan ketiga hal diatas sana. Mahasiswa, dewasa ini, karena mereka hidup dalam hingar bingar budaya massa (mass culture) dan budaya pop (pop culture) yang dikonstruksi kapitalisme. Mahasiswa jarang sekali yang memakai aspek kognisi mereka untuk melihat realitas masyarakat yang ada. Mereka tidak menggunakan kompetensi pengetahuan mereka kecuali hanya didalam ruang kelas saja tetapi tidak untuk memahami realitas yang terjadi di dalam masyarakatnya.

Lalu mahasiswa juga sudah tidak memiliki kesadaran akan apa yang sedang terjadi di masyarakat. Sekali lagi karena mahasiswa sudah terhegemoni (soft hegemony) oleh sebuah kekuatan yang kita sebut kapitalisme global. Seperti yang diutarakan John Lennon, Sex, TV, and Music make you weak. Mungkin itulah yang dapat menggambarkan hilangnya kesadaran mahasiswa.

Mahasiswa oleh sebab itu tidak dapat disebut sebagai intelektual organik sebab mereka sudah tercerabut dari tempatnya semestinya yaitu masyarakat. Mahasiswa menjadi sebuah kelas baru yang sangat prestisius, mahasiswa menjadi borju-borju muda dengan masa depan yang cerah dihadapannya.

Dampaknya Pada Gerakan Mahasiswa


Dengan keadaan mahasiswa yang seperti itu, maka itu berimbas kepada gerakan mahasiswanya. Gerakan mahasiswa yang seharusnya menyatu dengan masyarakat pada kenyataannya malah menjadi sebuah gerakan baru dalam masyarakat.ciri khas dari gerakan mahasiswa yang paling kentara adalah mahasiswa memposisikan gerakan mereka sebatas gerakan moral an sich. Mahasiswa terkesan menjadi pahlawan kesiangan yang tiba-tiba datang bila ada masalah yang dihadapi bangsa dan setelah menunjukkan muka lantas mahasiswa langsung kembali ke kampus, seperti jelangkung yang datang tak dijemput pulang tak diantar. Padahal sebuah persoalan bangsa tidaklah muncul saat itu saja, melainkan sebuah akumulasi dari kejadian-kejadian yang terdahulu. Permasalahan bangsa harus dilihat sebagai sebuah adegan bukan sebuah potret sehingga untuk menyelesaikannya pun perlu sebuah usaha yang sistematis dan terprogram yang melihat permasalahan dari segi strukturnya.

Oleh karena itu hal ini mensyaratkan sebuah perubahan pola pergerakan mahasiswa dari gerakan yang berbasis moral an sich menuju ke sebuah pola yang gerakan sosial yang tetap berbasiskan kepada moral dan intelektual. Dengan begitu gerakan mahasiswa tetap terintegrasikan dalam sebuah gerakan masyarakat yang lebih besar, bersinergi dengan gerakan-gerakan social lain dan tujuan yang ingin dicapai dapat tercapai dengan sebuah gerakan yang massif terkoordinir dan tidak terpecah-pecah seperti yang terjadi dengan gerakan mahasiswa sekarang, baik hubungan gerakan mahasiswa dengan gerakan mahasiswa lainnya maupun hubungan gerakan mahasiswa dengan gerakan masyarakat lainnya.

Idealisme Praksis; Sebuah Usaha Mengkomunikasikan Idealisme

Jurgen Habermas menyatakan bahwa teori harus mempunyai maksud praksis. Artinya teori tidak akan bermakna bila tidak ada relevansinya dengan kondisi kehidupan sosial masyarakat. Berangkat dari kerangka ini maka saya mencoba untuk memakai kerangka ini dalam melihat idealisme yang ada pada mahasiswa.

Bila kita lihat kembali banyak sekali mahasiswa yang terperangkap dalam dunia idealismenya sendiri. Dia terperangkap dalam dunia ideal yang dibangunnya yang dunia itu sama sekali tidak memiliki relevansi dengan kondisi real masyarakatnya. Dan yang lebih parah lagi terkadang idealisme itu sama sekali tidak terejawantahkan dan termanifestasikan dalam realitas yang sebenarnya. Hal ini disebabkan, meminjam konsep praksis Habermas, karena tidak ada jembatan yang menghubungkan alam idealitas menuju alam realitas. Jembatan yang paling ampuh untuk mengejawantahkan idealisme ini tak lain adalah gerakan sosial yang tersistemik dan terprogram.

Kita bisa belajar dari Ikhwnul Muslimin (IM) yang merupakan sebuah organisasi Islam dunia yang didirikan oleh ideolog Islam Hassan Al Banna. Ikhawnul Muslim secara ideologis dapat dikatagorikan (meminjam istilah yang dipakai oleh barat) fundamentalis yang radikal. Tetapi pada kenyataannya gerakan Ikhwanul Muslim adalah gerakan yang dapat diterima oleh hampir mayoritas masyarakat Mesir. Hal ini disebabkan karena IM mampu mengkomunikasikan sebuah idealisme yang secara murni tak dapat diterima oleh masyarakat, tetapi melalui penerapan apa yang saya sebut idealisme praksis, yaitu melalui gerakan-gerakan sosial yang dilakukan IM, IM dapat mengkomunikasikan cita-cita yang diusungnya tanpa adanya resistensi dari masyarakat.

Sudah seharusnya mahasiswa menggunakan metode ini dalam mengkomunikasikan idealisme yang dimilikinya. Jangan sampai idealisme yang dimiliki mahasiswa hanya terealisasi dalam bentuk-bentuk demonstrasi yang tidak sistemik dan tanpa arah tujuan yang jelas. Gerakan mahasiswa harus mengakomodir idealisme praksis dan bertransformasi kedalam bentuk gerakan sosial yang berbasis pada moralitas dan intelektualitas.

sumber : kekuatanperubahan.blogspot.com

Baca selengkapnya......
| 3 komentar ]

Matahari sudah terlihat tinggi namun udara masih sejuk. Kupeluk guling dan mencoba mengacuhkan waktu. Berharap mimpi yang semalam singgah kembali hadir pagi ini. Tapi mata ini tak bisa kuajak kompromi segera kubangkit dan membuat secangkir kopi. Baru aku ingat aku kehabisan gula. Dengan sedikit berbasa-basi, aku hutang di warung tetangga. Kebetulan orangnya baik. Akupun bisa menyambut pagi ini dengan aroma kopi. Sambil duduk diberanda depan, aku baca berita di koran pagi ini. Siapa tahu ada lowongan kerja, pikirku.

Terus kutelusuri halaman demi halaman sambil terus ku berharap ada kesempatan kerja. Tiba-tiba mulutku tersenyum, harapanku timbul lagi ketika kutemukan sebuah iklan yang membutuhkan tenaga kerja. Semua syarat yang diminta rasanya bisa kupenuhi. Hanya sial, ya sial sekali, karena surat kaber tersebut sudah terbit sebulan yang lalu.

Beginilah nasib seorang pengangguran. Tak pernah dipusingkan oleh kemacetan dan hiruk-pikuk kota besar. Karena kerjaku hanya bengong, ya bengong. Seperti pagi ini akupun kembali bengong. Terkadang lucu juga. Tapi lama-lama aku sadar hidup menganggur seperti ini tak lucu, malah membosankan. Lalu kuputuskan untuk mencari kerja. Itulah kenapa setiap hari aku selalu bangun pagi, tidak lain hanya untuk melihat kalau-kalau ada lowongan kerja dikoran.

Dan pagi berikutnya, aku telah sibuk membuka halaman demi halaman. Namun tak juga ada lowongan. Hanya saja ada satu berita yang menyentak sekaligus membuatku sewot setengah mati. Dikoran tersebut kubaca berita tentang impor mobil-mobil mewah sementara dibawahnya tertera indeks rupiah yang belum berubah. Ini pasti gila, pikirku. Edan ! ditengah kesengsaraan seperti ini kok masih ada orang yang sempat berfoya-foya. Akalku tak dapat menerima. Sementara makian “gila !” terus keluar dari mulutku.

Menurutku ini benar-benar tidak lucu. Aku memang pengangguran, namun aku tidak terlalu dungu. Aku masih bisa beropini kalau semua ini tidak sama sekali manusiawi. Sebagai pengangguran aku tidak sendiri. Ada berjuta-juta pengangguran dinegeri ini. sehingga wajar saja bila aku sakit hati. Lah kami yang jumlahnya berjuta-juta ini untuk mendapatkan kesempatan kerja sulit bukan main, kok mereka yang sudah mapan malah semakin ditimang. Ataukan memang sudah takdir kami untuk selalu menjadi yang dianggurkan, ditendang, alu dibiarkan terkapar?

Ironisnya, kita selalu dinasehati oleh penguasa negeri kita untuk mengetatkan ikat pinggang. Aku hanya tertawa. Sebab apalagi yang perlu diketatkan kalau jatah makanku saja sudah benar-benar ketat? Dan impor mobil-mobil mewah itu benar-benar membuat jengah. Dan sadar atau tidak, impor mobil mewah-mewah itu semakin memperdalam jurang social yang memang sudah dalam. Sebagai penganggur yang juga anak bangsa, aku merasa telah dikhianati oleh bangsaku sendiri. Dan jelas gara-gara berita mobil mewah itu, kopiku menjadi dingin sehingga terpaksa aku menghutang gula lagi dan akupun terpaksa mengutang dengan kopinya juga. Akupun jadi malu !!!

email : suarabersama@gmail.com

Baca selengkapnya......
| 13 komentar ]

Dulu sekali, ketika TVRI masih satu-satunya stasiun televisi di negeri ini, tidak banyak anak-anak yang menghabiskan waktunya di depan televisi. Mereka lebih senang berkeliaran di lapangan bola, main mobil-mobilan di lapangan, atau bernyanyi-nyanyi kecil di bawah sinar purnama (oh indahnya). Mereka bermain bersama-sama, tertawa, dan tidak jarang pula bertengkar. Keadaan sudah berubah kini, sudah lain sama sekali. Saat ini, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di depan televisi, entah itu menonton film atau bermain playstation. Petak umpat, galasin, tok kadal, dan permainan anak-anak lainnya kini mulai hilang (khusus di Jakarta, saya tidak tahu di kota sahabat lainnya), mulai jarang ditemukan lagi (bahkan mungkin sudah punah). Semuanya telah tergantikan dengan permainan teknologi canggih yang tentunya lebih mengasyikkan.

Teknologi memang tak ubahnya seperti gerimis yang muntah begitu saja dari langit. Tak seorangpun bisa menahannya. Aneka produk permainan, mulai dari Nintendo, playstation, x-box, hingga game-game PC merebak dipasaran. Semuanya menggiurkan dan tentunya mengasyikan. Namun dampak dari game-game tersebut rupanya banyak dikhawatirkan orang. Terutama pengaruh game tersebut pada perkembangan psikologis anak.

Banyak orang tua yang mengeluhkan anak mereka yang sering lupa waktu. Kalau sudah main playstation. Mereka jadi sulit perintah, sulit disuruh dan selalu menunda-nunda tugas sekolah. Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya berduaan dengan televisi dan playstation saja. Sehingga mereka akan tumbuh menjadi makhluk-makhluk individualis yang jarang bermain keluar dan bersosial dengan anak-anak lainnya. Tidak hanya itu, sikap merekapun jadi kaku, tidak licah, dan “klemat-klemot”. Kalau diibaratkan ayam, mereka seperti ayam ras atau ayam negeri yang manja dan bukan lagi seperti ayam kampung, yang walaupun agak kotor, namun lincah dan tanggap.

Anak-anak seharusnya memang dibiarkan bermain bebas bersama kawan-kawannya. Karena dengan begitu mereka akan belajar bersosialisasi, beradaptasi, dan belajar memahami bahwa di luar sana banyak sekali perbedaan yang harus mereka terima. Juga agar mereka menyadari bahwa hidup tidaklah sesempit ruang kamar dan layar televisi. Tidak hanya itu, mereka juga harus belajar untuk bekerja sama dengan kawan-kawannya.

Memang game-game berteknologi tinggi itu tidak selamanya berdampak buruk. Yang saya pikirkan adalah semakin banyak jiwa-jiwa sosial yang terkikis. Apalagi game-game tersebut banyak diantaranya yang berbau sadis (sadisme) dan darah (darahisme). Dan kita pun sama-sama tersenyum aneh ketika melihat wajah adik-adik kecil kita yang berseri-seri ketika berhasil memenangkan permaian dengan membunuh sang musuh. Setidaknya game itu mengajarkan kepada mereka, tidak ada pilihan kompromi atau berdamai selain membunuh untuk menuju kemenanganya. Dan ini , dalam waktu yang panjang, akan memberikan dampak psikologis yang sangat buruk bagi mereka.

email : suarabersama@gmail.com

Baca selengkapnya......
| 8 komentar ]

Ketika sorang gadis dilecehkan, di rendahkan harkatnya dengan pelecehan sex, kita sama-sama naik pitam dan sama-sama menuding serta memaki-maki lelaki yang telah melakukannya. Bagaimana, wanita itu seperti juga lelaki yang harus duduk sama tinggi dan jongkok sama rendah. Sebab kaum lelaki akan dengan setia mengitip celah sempit itu hingga berjam-jam. Lagian ini bukan lagi era dimana wanita hanya berfundsi sebagai pembuat kopi suami, tapi wanta sudah beremansipasi, sudah mampu menandingin lelaki dan membuktikan bisa berkompetisi dengan sehat.

Lantas jika pelecehan seksual terus berlamgsung, siapa yang harus disalahkan? Tentu dengan mudah kita akan menunjuk tangan-tangan iseng lelaki sebagai pelaku utama. Tapai jangan lupa, ada api pasti ada sebab. Lantas apa penyebabnya?

Sebelum mari bersama-sama kita bercermin. Wanita dimata pria identik dengan keindahan. Hal ini jelas sekali tersirat dari pelukis-peluksi pria yang sangat gemar mengabadikan sosok wanita di dalam kanvasnya. Dan itu sangat alamiah, sangat manusiawi dan wajar. Karena memang makhluk yang bernama wanita itu dilebihkan dengan daya tarik. Silahkan simak puisi tentang cinta, ada sejuta bahkan lebih pujian untuk wanita dari pria. Ini bukan semata karena cinta, tapi karena daya tarik. Bukankah cinta berawal dari rasa tertarik?

Dan agaknya ada sedikit pergeseran moral di kalangan wanita. Wanita sekarang tak perlu lagi bersikap malu-malu, karena itu hanya menghambat tujuan. Wanita sudah berani bersikap, sudah berani mendobrak tata nilai yang selama ini dianggap tabu. Termasuk menentukan pilihan sendiri. Segingga ketika beberapa kawan gadis kita memakai rok mini plus kemeja tanpa bra, kita hanya manggut-manggut ketika mereka bicara tentang kebebasan bersikap. Karena toh diam-diam kita (pria) juga menikmati “tontonan” Cuma-Cuma tersebut. Belum lagi eksploitasi tubuh wanita yang kerap disamarkan sebagai karya seni dibeberapa majalah yang membuat lelaki “sumringah”.

Apakah semua ini bagian dari emansipasi? Tentu saja tidak. Karena ibu kita Kartini tak kan sampai hati anak cucunya menjadi objek nafsu dangkal kaum lelaki. Hanya kitalah yang mungkin terlalu pandai sehingga menefsirkan emnsipasi melebihi dosis yang ditentukan. Karena itu sama-sama kita bercermin. Tak perlu mencari kambing hitam, karena bukan musthail kambing hitam itu adalah bayangan kita sendiri. Mari sama-sama kiota berbenah, sama-sama mengancingkan baju, sama-sama menutup resleting, sama-sama menggantungkan rok mini dibalik pintu, sama-sama malu diintip dan mengintip mulai sekarang. Biar pelecehan itu tak semakin menyevar bagaikan virus.

email : suarabersama@gmail.com

Baca selengkapnya......
| 9 komentar ]

Baca koran, niatnya untuk iseng, malah bikin kepala jadi pusing. Bukan karena berita-beritanya, tentang BBM atau juga politik. Yang memusingkan justru kata-katanya yang kelewat canggih dan intelek sehingga selalu nyangkut di tenggorokan. Misalnya dalam sebuah berita ekonomi, muncul kata-kata macam fluktuasi, urgensi, restrukrisasi, dekonsiliasi dan macam-macam lagi “sisi” lain yang sulit dicerna, mungkin kata-kata itu sengaja di munculkan agar koran yang bersangkutan dipandang lebih bonafid, lebih intelek dan lebih memiliki kredibilitas (kata apalagi itu?) disbanding koran-koran lain. Tapi apalah arti semua itu kalau beritanya justru sulit dicerna? Kenapa nggak menggunakan saja kata-kata yang lebih sederhana, yang ke Indonesia-indonesian, dan bukan yang ke inggris-inggrisan? Siapa coba yang sudi membaca koran sambil membolak-balik kamus?

Memang kecenderungan kalau kita ini mulai menyukai apapun yang berbau inggris. Mulai dari parfum, fashion, sampai pola pikir kita pun terkadang mengekori negeri mantan kolonial itu. Padahal apa sih istimewa inggris?

Orang inggris memang terkenal memiliki rasa kasih sayang yang tinggi kepada binatang. Mereka tidak sungkan-sungkan jika harus tidur sebantal dengan anjing. Anjing-anjing disini pasti ngiri melihat anjing-anjing di inggris disuapi makanan yang harganya jauh lebih mahal dibanding makanan para gembel. Sayangnya, perlakuan yang sama tidak berlaku bagi orang afrika. Orang yang berbeda kulit itu nasibnya jauh lebih buruk dibanding anjing.

“orang kulit putih jauh lebih mulia dibandingkan orang kulit hitam. Karena itu wajar saja jika kami perlakukan mereka seperti budak, kerbau, atau kuda untuk memenuhi kebutuhan kami.” Begitu kata apartheid. Dan Nelson Mandela pun berang. Dan apartheid pun mati. Bukan karena kebaik-hatian inggris, tapi karena tandukan “kerbau”.


Ingris, Amerika, dan “Barat” saat ini memang seperti “dewa” yang harus di puja, di sembah. Yang jika Negara berkembang lewat di depannya meski bungkuk-bungkuk badan. Sebagai “dewa” tentu saja makanan, pakaian, dan gaya hidup mereka pasti baik dan benar. Sehingga orang Indonesia, tak perlu lagi menyaring atau menimbang-nimbang, karena apa yang cocok buat mereka pastilah cocok juga buat kita, apa yang bagus buat mereka bagus pula buat kita. Nggak heran jika toko-toko pizza, hamburger, ayam goreng Kentucky menjamur baik di pusat maupun disudut-sudut kota. Nggak heran pula kalau nasib tempe atau tahu tak pernah berpindah dari warung-warung tegal. Tak peduli apakah menu barat itu mengadung kolesterol, karena kolesterol itu satu soal dan gengsi itu soal lain.

Gengsi, ya, agaknya itulah yang membuat kita membebek pada pola tingkah orang barat. Free sex, drugs, busana tipis minimalis atau baju ketat yang mirip karung beras yang penuh itu mulai bersahabat dengan kawan-kawan kita. Dan sadar atau tidak, semua itu menjadikan kita seperti sebatang rumput ayng tercabut dari akarnya. Kita juga lupa kalau kita pun punya budaya sendiri, punya nilai dan moral sendiri. Seburuknya-buruknya budaya kita, itulah yang seharusnya kita pertahankan.

Baca selengkapnya......
| 11 komentar ]

Pemahaman tentang Genom dan Membangkitkan Kembali Penghormatan terhadap Budaya Nusantara

Dalam buku Genom, Kisah Species Manusia oleh Matt Ridley terbitan Gramedia 2005, disebutkan bahwa Genom Manusia – seperangkat lengkap gen manusia – hadir dalam paket berisi dua puluh tiga pasangan kromosom yang terpisah-pisah.

Penulis Buku tersebut membayangkan genom manusia sebagai semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya – berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species kita serta nenek moyangnya sejak pertama kehidupan di jagad raya. Genom telah menjadi semacam otobiografi untuk species kita yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini berisi 23 Bab, tiap Bab berisi beberapa ribu Gen. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku dengan tebal 400-an halaman.

Dalam DNA kita terdapat catatan pengalaman leluhur-leluhur kita zaman Sriwijaya, zaman Majapahit dan genetik bawaan dari pembangun Candi Monumental Borobudur. Zaman dulu dan zaman sekarang ini adalah satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Perilaku manusia saat dewasa terkait erat dengan perilaku dia sewaktu kecilnya. Sebuah kontinuitas yang melekat. Kearifan kita sudah ada sejak zaman dahulu. Konsep kebijakan pembangunan Kota Solo saat ini bahwa “Solo Masa Depan adalah Solo Tempo Dulu”, yang maknanya adalah pengembangan kota Solo modern tanpa meninggalkan kekhasan kota Solo sendiri yang memiliki tradisi dan budaya adiluhung, sudah sejalan dengan pemetaan DNA. Kita perlu mengkoreksi klasifikasi sejarah yang mengkotak-kotakkan Sejarah Bangsa menjadi Zaman Pra Hindu, Zaman Hindu, Zaman Islam, Zaman Penjajahan dan seterusnya. Genetik kita saat ini ada kaitannya dengan masa lalu, tidak dapat dipisah-pisahkan atas dasar kepercayaan yang dianut pada beberapa masa.

Bung Karno pada tanggal 16 Juni 1958 berpidato yang petikannya sebagai berikut: “Masyarakat Indonesia ini boleh saya gambarkan dengan saf-safan. Saf ini di atas itu, di atas saf itu saf lagi. Saya melihat macam-macam saf. Saf Pra-Hindu, yang pada waktu itu kita bangsa yang telah berkultur dan bercita-cita. Berkultur sudah, beragama sudah, hanya agamanya lain dengan agama sekarang, bercita-cita sudah. Jangan kira bahwa kita pada jaman Pra-Hindu adalah bangsa yang biadab… Saya lantas gogo – gogo itu seperti orang mencari ikan, di lubang kepiting – sedalam-dalamnya sampai menembus jaman imperialis, menembus Zaman Islam, menembus Zaman Hindu, masuk ke dalam Zaman Pra-Hindu. Jadi saya menolak perkataan bahwa kurang dalam penggalian saya. Dalam pada saya menggali-gali, menyelami saf-saf ini, saban-saban saya bertemu dengan: kali ini, ini yang menonjol, lain kali itu yang lebih menonjol. Lima hal inilah: Ketuhanan, Kebangsaan, Perkemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial. Saya lantas berkata, kalau ini saya pakai sebagai dasar statis dan Leitstar dinamis, insya Allah, seluruh rakyat Indonesia bisa menerima, dan di atas dasar meja statis dan Leistar dinamis itu rakyat Indonesia seluruhnya bisa bersatu-padu”. Selanjutnya, Ki Hajar Dewantara mengartikan Budaya Nusantara adalah unggulan-unggulan dari setiap budaya yang kemudian digodog, dimasak, dan ditemukan saripatinya yaitu Pancasila. Silahkan kita beragama apapun juga. Akan tetapi sekali-kali jangan mengimport budaya asing. Para Founding Fathers telah mempunyai kebijaksanaan yang selaras dengan penemuan pemetaan genom. Kita melihat bangsa Jepang, Korea, India, dan lain-lainnya, mereka semua menghargai budaya mereka dan mereka semua maju.

Sekarang sudah terbukti dari penemuan di Bali beberapa waktu yang lalu yang membuktikan bahwa DNA kita ada gen khas Indonesia. Gen-nya gen khas Indonesia. Kita memiliki suatu dasar yang kuat sekali, dasar ini jangan sampai terlupakan. Kalau DNA kita sekarang dipetakan, kita memiliki DNA, memiliki benang merah yang mempertemukan kita semua. DNA Khas Indonesia.

Sejarah panjang penjajahan mempengaruhi cara berpikir dan bertindak kita, mempengaruhi DNA kita.Di bawah ini kami ketengahkan pendapat Tokoh Humanis yang sangat kami hormati, Bapak Anand Krishna. Perbudakan yang berkepanjangan bisa membisukan nurani manusia. Manusia mulai terbiasa dengan keadaan yang menimpanya. Ia mulai berkompromi dengan keadaan. Ia menganggap perbudakan itu kodratnya. Kita perlu menyadari bahwa manusia Indonesia masa kini pun belum sepenuhnya bebas dari perbudakan. Kita masih sebagai budak, diperbudak oleh ideologi-ideologi semu, diperbudak oleh dogma-dogma yang sudah usang, diperbudak oleh paham-paham dan kepercayaan-kepercayaan yang sudah kadaluwarsa. Tetapi kita tetap juga membisu. Jiwa kita sepertinya sudah mati. Sepertinya kita ibarat bangkai yang kebetulan masih bernapas.

Selama kita masih diperbudak, kita tidak dapat menghormati siapa pun. Seorang budak tidak mengenal rasa hormat. Seorang budak hanya mengenal rasa takut. Untuk menghormati seseorang, terlebih dahulu kita harus memiliki kebebasan. Tanpa kebebasan, selama kita masih hidup dalam penindasan, kita tidak bisa mengasihi seseorang, kita tidak bisa menghormati seseorang. Rasa kasih, rasa hormat, rasa bahagia, rasa indah – semuanya itu merupakan hasil kebebasan. Selama kita masih belum bebas, selama kita masih terbelenggu, selama itu pula kita masih hidup dalam kesadaran rendah, di mana penghalusan rasa belum terjadi.

Kita masih hidup dalam perbudakan. Diperbudak oleh masyarakat, diperbudak oleh lembaga-lembaga yang menamakan dirinya lembaga-lembaga keagamaan, juga oleh pikiran kita sendiri. Kita masih hidup dalam perbudakan. Jelas dalam diri kita belum terjadi penghalusan rasa. Kita belum kenal rasa hormat. Apakah kita menghormati orang-tua kita? Menghormati Nenek-Moyang kita? Menghormati Warisan Budaya kita?

Dimana letak kesalahan kita? Salah satunya, saya kira adalah “penolakan kita terhadap sejarah”. Orang bilang, Borobudur adalah peninggalan zaman Buddha. Prambanan adalah peninggalan zaman Hindu. Borobudur bukanlah peninggalan zaman Buddha. Borobudur adalah warisan budaya kita, peninggalan dinasti Syailendra. Dengan memisahkan diri dari Sriwijaya, Syailendra, Mataram, Majapahit dan lain-lain, dengan menolak dan tidak mengakui para leluhur, kita telah mencabut sendiri akar budaya kita. Dan, tanpa akar budaya, kita kehilangan jati diri sebagai bangsa yang beradab, menjadi floating mass yang mudah hanyut oleh gelombang luar.

Budaya berasal dari dua kata, Buddhi dan Hridaya, ini adalah bahasa Jawa Kuno. Buddhi adalah pikiran yang sudah jernih, kalau pikiran belum jernih itu belum disebut Buddhi, ada istilah Budi Pekerti. Hridraya adalah perasaan/hati. Gabungan dari keduanya itu adalah Budaya.

Segala sesuatu yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan dalam jangka lama akan menjadi karakter. Nenek Moyang kita mengungkapkan dalam ungkapan Tresno Jalaran Soko Kulino, Kasih Muncul Akibat Kebiasaan. Kebiasaan seseorang menjadi budak mengakibatkan karakter budak. Bila kita mulai hidup dengan kesadaran bahwa kita merdeka, tidak terbelenggu dan pemahaman tersebut dilakukan sehari-hari maka karakter kita akan berubah menjadi karakter yang tidak terkungkung. Potensi diri, jiwa kebesaran Sriwijaya, Majapahit ataupun Kerajaan lainnya masih ada dalam gen kita, selama ini mereka terdesak oleh belenggu ketakutan, belenggu perbudakan. Kita harus mulai hidup berkesadaran, membuang kebiasaan lama yang kurang baik dan menggantinya dengan kebiasaan baru, membuat created mind yang benar untuk memperbaiki conditioning mind yang salah. Sudah waktunya kita lepas dari perbudakan, sudah waktunya kita bebas, sudah waktunya kita menghormati jasa leluhur kita, sudah waktunya kita menghormati Warisan Budaya kita. Bende Mataram, Sembah Sujudku bagi Ibu Pertiwi.

Triwidodo

Baca selengkapnya......
| 2 komentar ]

Kita semua, dimanapun didunia ini, hidup di zaman pembangunan bangsa-bangsa dari runtuhnya imperium-imperium. Inilah zaman bangkitnya bangsa-bangsa dan bergejolaknya nasionalisme. Menutup mata akan kenyataan ini adalah membuta terhadap sejarah, tidak mengindahkan takdir dan menolak kenyataan dan realita bangsa.

Kita harus melangkah dengan tegak, walaupun hujan pelor, tidak boleh kita menyingkir. Proklamasi itu bukan hasrat dan cita-cita saja, tetapi proklamasi itu adalah satu faith, satu fact dan satu kejadian yang sah, karena tiap-tiap bangsa berhak memproklamirkan kemerdekaannya dan bila sudah memproklamirkan kemerdekaannya, kemudian membelanya dan mengawalnya hingga mencapai sebuah kemerdekaan yang 100% yang didambakan sejak dulu kala.

Dari mulai korupsi di tingkatan elite politik, hidup yang semakin menyekik urat saraf perekonoman rakyat miskin, yang semakin menyusahkan rakyat banyak. Sampai kapan bangsa ini terpuruk? Apakah sampai negara ini terpecah belah barulah akan bangkit sebuah kesejahteraan yang didambakan! Memang kita butuh sosok pemimpin yang cerdas yang bisa melihat dan tangkas dalam menyikapi kebusukan bangsa ini. Orang yang kehilangan kekuasaan ekonomi, akan kehilangan kekuatan politik. Orang yang hidup meminjam, mesti menjadi hamba peminjam. Begitu juga dengan negara.

Nasionalisasikan aset-aset bangsa, sejahterakan buruh dan rakyat, hancurkan dinding imperialisme dan kolonialisme yang telah menginjak-injak harga diri keutuhan bangsa ini. Sudah saatnya kaum-kaum pemberontak menggaungkan kata Revolusioner kedalam hati, jiwa dan raga untuk membentuk satu keluruhan nilai budaya.

Bangsa Indonesia yang menghendaki kemerdekaan pasti mengerti benar tugas dan akibat dari dari perbuatan serta kemenangannya. Mulai sekarang ia harus menumbuh kembangkan semangat juang terhadap imperialisme barat, baik dalam perdagangan ataupun militer. Jangan sekali-sekali kita mundur atau meninggalkan perjalanan yang dicita-citakan. Singsingkanlah lengan baju dengan segera buat menghidupkan serta menyatukan semua kekuatan nasional; seterusnya, ciptakan satu pertalian dengan bangsa dan budaya sendiri.

Akan tetapi, jangan kita menggantungkan diri semata-mata pada pertolongan luar negeri. Hendaknya kita berkeyakinan kepada kekuatan sendiri dari awal sampai akhir.

"mandiri atau mati"
Aroel

Baca selengkapnya......
| 13 komentar ]

Oleh: Ir M Jamil Manurung
Direktur Lembaga Survei dan Pemberdayaan Masyarakat (LSPM) Kepri

Studi Kasus Krisis Energi dan Pemiskinan

DJUYOTO SUNTANI, meramalkan Indonesia pecah tahun 2015. Djuyoto menganggap pemusnahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bagian dari skenario internasional, yang ia sebut dengan Invisible Organization lluminati.

Institusi kemasyarakatan internasional yang dipimpinnya saat ini, memiliki jaringan di seluruh dunia dan mempunyai pengaruh kuat pada dunia internasional.

Tidak seorangpun mengira negara Uni Soviet yang merupakan negara super power dapat pecah dan musnah dalam sekejap. Negara yang dulunya disegani dan menjadi tumpuan kekuatan Fakta Pertahanan Warsawa di Eropa tersebut, di awal tahun 1990 akhirnya terpecah menjadi 15 negara merdeka. Demikian juga negara Yugoslavia yang pada akhirnya terpecah menjadi lima negara. Perang etnis dan pembantaian di wilayah eks Yugoslavia itu merupakan tragedi kemanusian yang paling sadis yang pernah terjadi pasca perang dunia II. Meskipun Penduduknya memiliki bahasa dan ras yang sama, struktur fisik dan wajah sama, hal itu tidak dapat menjadikan jaminan bahwa perpecahan tidak akan terjadi di negara itu. Agama merupakan faktor utama terjadinya perpecahan di sana, meskipun diakui bahwa semua agama yang ada berasal dari satu nabi yang sama Ibrahim (versi Islam) Abraham (versi Kristen) dan Avram (versi Yahudi) yang lahir di Babilonia(Irak sekarang).

Lahirnya NKRI yang diproklamirkan tahun 1945 (abad 20 masehi) pada prinsipnya merupakan persatuan III (ketiga) dari seluruh kesatuan di bumi nusantara ini. Dalam sejarah, di wilayah nusantara sudah pernah ada dua kekuatan imperium besar yang pernah mengalami kejayaan pada masanya. Tercatat dalam sejarah persatuan pertama terjadi pada masa Kerajaan Sriwijaya di Palembang, Sumatera Selatan (Abad 6 sampai 7 Masehi). Persatuan kedua pada masa Kerajaan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur (13 hingga 14 Masehi) yang pernah mengalami suatu masa yang disebut gemah ripah loh jinawi. Kedua imperium itu kemudian lenyap dari muka bumi setelah bertahan 70 tahun.

Memasuki usia 63 tahun, NKRI telah banyak mengalami kejadian yang merupakan ujian terhadap kekuatan ikatan kebangsaan yang mempersatukan keberagaman kita, yang disebut dengan nasionalisme. Sejarah mencatat bagaimana keadaan bangsa ini di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno pada masa orde lama, dengan sistem politik multi partai saat itu hingga ke demokrasi terpimpin. Demikian juga di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto pada masa orde baru dengan sistem politik yang lebih sederhana dan demokrasi Pancasilanya. Selanjutnya, memasuki orde reformasi di masa kepemimpinan tiga orang presiden dengan masing-masing masa pemerintahan seumur jagung hingga masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang akan berakhir tahun 2009 nanti. Secara keseluruhan pergantian dari orde ke orde berikutnya selalu diawali dengan unjuk rasa atau juga diwarnai pemberontakan. Unjuk rasa yang dilakukan rakyat dan mahasiswa atau pun pemberontakan yang dilakukan oleh separatis, merupakan ungkapan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan pemerintah yang berkuasa yang dianggap tidak memihak kepada kepentingan rakyat, serta tak mampu mengatasi persoalan kesulitan hidup dan kemiskinan yang diderita oleh rakyat. Tentu tidak kita harapkan bahwa perjalanan bangsa ini akan tercatat dalam sejarah sebagai ”Republik Indonesia, Jakarta (Abad 20 sampai 21)”.

Krisis Energi dan Pemiskinan
Hasil kajian mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat William Cohen dengan tim 15-nya patut kita cermati. Kajian dengan klasifikasi not for distribute yang berjudul lengkap ”Asia Tahun 2025 dan Pengaruhnya terhadap Keamanan Nasional Amerika di Abad 21”, dengan tegas memprediksi sesungguhnya menskenariokan bahwa Indonesia dan Pakistan akan hilang dari peta bumi disebabkan negara-negara itu berfusi melalui proses aliansi antar negara atau tercabik-cabik akibat pertikaian dan perperangan antar daerah. Lebih rinci tentang Indonesia dikatakan, sebab lenyapnya Indonesia lebih dikarenakan terjadi krisis yang bukannya mengecil namun kian tahun kian bertambah besar. Benarkah kajian ini hanya sebatas kajian visioner ataukah visi yang akan diwujudkan oleh jaringan internasional terhadap NKRI?
Krisis energi dan pangan memang merupakan persoalan dunia. Namun, untuk Indonesia yang kaya sumber daya alam (SDA), rasanya krisis tersebut seperti kontradiktif. Gaya pemerintahan yang takut dikatakan tidak berbuat dan berpikir singkat telah membuat negara ini terperangkap dalam globalisasi ekonomi dunia. Pasar bebas dunia yang tidak lain adalah liberalisasi ekonomi, telah memperdaya sumber daya ekonomi nasional kita.

Krisis energi yang berdampak pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) telah menimbulkan banyak persoalan. Naiknya harga BBM tersebut telah memicu kenaikan bahan kebutuhan pokok lainnya. Kenaikan harga BBM kedua selama pemerintahan SBY telah menciptakan jutaan orang miskin baru di negara ini. Tidak heran kita lihat melalui media, bahwa semakin banyak masyarakat stres hingga terpaksa bunuh diri ataupun bunuh anak sendiri karena tak mampu menanggung biaya hidup yang samakin mahal. Di lain hal para wakil rakyat banyak yang tertangkap korupsi sampai nikmati sekretaris pribadi. Ironinya, saat menterinya hidup makmur saat rakyat terendam lumpur, KPK tidak berbuat apa-apa. Unjuk rasa belakangan ini juga telah mengembalikan memori kita kepada masa awal peralihan ke orde baru, di mana rakyat saat itu juga menuntut kesejahteraan rakyat kepada pemerintah melalui tiga tuntutan rakyat atau apa yang dinamakan dengan Tri Tura.

Dalam kondisi SDA Indonesia dikuasai pihak asing, sangat sulit memastikan bahwa pemerintah sekarang ini dapat mengatasi krisis energi yang sedang berlangsung. Penguasaan asing terhadap SDA, sarana vital serta Badan Usaha Milik Negara yang menguasai hajat hidup orang banyak di negara ini, terlihat bagaikan perangkap yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan pemerintahan dan negara ini.

Krisis energi yang berkepanjangan dan dampak turunan yang ditimbulkannya, semakin terlihat bagaikan upaya pemiskinan sistematik yang sedang berlangsung. Hal ini semakin membuat rakyat gelisah dan menumpuk ketidakpercayaan terhadap pemerintahan yang berkuasa. Mungkinkah posisi negara ini sudah berada pada status on the track skenario pemusnahan NKRI dari muka bumi ini.

Pemilu 2009 dengan sistem multi partai akan menjadi perhatian bersama. Dengan 34 parpol yang ada, bukan tidak mungkin terjadi kerusuhan akibat gesekan kepentingan politik masing-masing partai. Dan ini menjadi barometer sampai sejauh mana kedewasaan berpolitik bangsa Indonesia. ***

Baca selengkapnya......
| 7 komentar ]

Orang indonesia dahulu adalah pelaut hingga sampai ke bagian selatan Amerika, tertera pada Kompas 2/3 dunia pernah dijelajahi oleh orang-orang berasal dari indonesia.

Dan Asia dahulu kekuasaan kerajaan terbesar adalah di indonesia. Alam Indonesia termasuk terkaya di dunia. Amerika menghentikan penambangan alam di semua tempat di dunia karena fokus pada penambangan uranium di Timika, Irian Jaya. Dan lain-lainya.

Apa yang kurang di Indonesia ini?

Moral yah moral unruk maju, moral untuk peduli, moral untuk membangun, moral untuk menahan hawa nafsu yang merusak negara misalnya korupsi, dan sekutunya.

Baca selengkapnya......
| 6 komentar ]

MAHASISWA PEMUDA MEMILIKI KEWAJIBAN BERSAMA RAKYAT UNTUK MEMBELA NEGARANYA DARI KETERJAJAHAN,BUKAN HANYA BERFOYA-FOYA.

NEGARA KITA MENGALAMI KRISIS HUKUM,EKONOMI DAN NASIONALISME DARI PEMUDA DAN RAKYAT,KITA MAHASISWA MEWAKILI RAKYAT HARUS RELA BERKORBAN UNTUK KEMERDEKAAN BANGSANYA YANG BENAR-BENAR MERDEKA DAN TIDAK TERJAJAH SEPERTI SEKARANG INI, TETAPI SAMPAI SEKARANG MASIH BANYAK RAKYAT MISKIN,PENGANGURAN,BUSUNG LAPAR,KEKURANGAN GIZI,GIZI BURUK DIMANA-MANA.

APAKAH ITU YANG DINAMAKAN MERDEKA..????!!!!!

SEMENTARA DI SENAYAN SANA BANYAK ORANG-ORANG YANG MENYERUPAI ULAR BERKEPALA DUA YANG MENIKMATI KESENANGAN DI ATAS PENDERITAAN ORANG LAIN,MASIH BANYAKPULA PARA PEJABAT KORUPTOR,OKNUM POLISI YANG TIDAK MEMILIKI MORAL,MEREKA TIDAK PANTAS DI SEBUT SEBAGAI WAKIL RAKYAT,TETAPI PANTAS DENGAN SEBUTAN PENGHIANAT RAKYAT,MARI KITA WUJUDKAN KEINGINAN BANGSA UNTUK MEMBUAT BANGSA INI MENJADI BANGSA YANG MANDIRI,BANGKITLAH PEMUDA INDONESIA,SADARLAH PEMUDA KALAU NEGARA KITA SUDAH DI UJUNG TANDUK,DAN AKAN HANCUR BILA TERUS-TERUSAN SEPERTI INI....

(qqy)

Baca selengkapnya......
| 8 komentar ]

Sungguh sangat mudah bagi seorang pejabat untuk mengatakan, “ikhlas, sabar…” rakyat memang mesti ikhlas, harus sabar. Bagaimana dengan para pejabat?

Persilahkan seorang wakil rakyat yang mewakili rakyat berdiri bersama rakyat yang memilihnya – apakah ia mewakili kemiskinan, kemelaratan dan kekurangan juga? Lihat penampilan wakil rakyat dan lihatlah penampilan rakyat yang memilihnya?

Apa yang mesti di ikhlaskan, apa yang mesti ditanggapi dengan sabar?

Kemiskinan di Indonesia bukanlah kutukan Allah, sehingga rakyat mesti berdoa bersama setiap kali ada bencana, musiba, atau apa saja.

Kemiskinan di Indonesia disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Kemiskinan di Indonesia disebabkan oleh mismanagement yang terjadi. Bangsa yang memiliki sumber alam yang berlimpah- masih harus menjadi jongos di negerinya sendiri- sungguh sangat ironis, tragis.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, lihat apa yang terjadi:

1. Banyak aset Negara sudah berpindah tangan menjadi milik Negara asing. Tidak hanya yang kurang menguntungkan, tetapi juga yang sangat menguntungkan - bahkan memiliki prospek yang luar biasa.

2. Telekomunikasi adalah bidang yang sangat prospektif – saat ini hampir seluruh sector dikuasi entah oleh Singapura, atau oleh Malaysia. Bahkan, pemain baru Saudi pun sudah ada. Begitu juga dengan sector perbankan.

3. Para pengusaha kita lebih suka jadi calo dan jual ijin – daripada mengelolah perusahaan.

4. Industri kita dihancurkan oleh para pengusaha dari luar, yang saat ini malah memasuki sector ritel.

5. Dari pakaian, bola lampu, hingga sayur-mayur pun diimpor.

6. Raksaksa Cina dibiarkan menghancurkan seluruh infrastruktur industri local dengan diperbolehkan mengekspor apa saja, termasuk sayur-mayur dengan harga dumping. Ini jelas-jelas dapat dikategorikan sebagai unfair trade.

7. Para politisi selama 2 tahun terakhir ini sudah memikirkan pemilu 2009. Kesejaterahan rakyat sudah tidak terpikir sama sekali.

8. Para pejabat yang jelas-jelas korup, perusahaan milik keluarganya tidak berjalan dengan baik sebelum mereka menjadi pejabat dan kemudian tiba-tiba berkat “lampu wasiat aladin jabatan” menjadi sehat – di biarkan tetap berada dalam kabinet. Padahal, ulahnya sudah jelas-jelas menyusahkan banyak orang.

9. Wakil rakyat lebih suka mengurusi dan membicarakan RUU yang tidak berguna, daripada memikirkan nasib Negara dan keutuhan wilayah yang sudah terancam oleh ulah bupati yang menggolkan perda-perda yang tidak sesuai dengan Pancasila.

Kenapa ini terjadi?

Korupsi, Kolusi, Nepotisme – semuanya terjadi karena satu alasan:

Kita sudah tidak lagi memiliki hubungan batin dengan Ibu Pertiwi

Maka kita pun membiarkan Bunda Pertiwi diperkosa berulangkali – di depan mata kepala kita sendiri. Perhiasannya dilucuti, harta bendanya dicuri. Kita berdiri diam.

Sebab itu, kita ingin memerangi Kemiskinan, maka mau-tak-mau mesti memulainya dengan menghubungkan kembali diri kita dengan Bunda Pertiwi:

1. Negara bukanlah Tanah-Air saja – tetapi adalah Ibu kita. Hubungan kita dengan negri ini mesti didasari oleh ikatan batin. Setiap anak bangsa mesti mencintai negeri ini sebagaimana ia mencintai ibu kandungnya sendiri. Bahkan lebih dari itu, karena Bunda Pertiwi adalah Bunda Agung yang memberi kehidupan kepada seluruh bangsa.

2. Sistem Pendidikan kita mesti diperbaiki, sehingga dapat menghasilkan anak-anak yang tahan banting dan tidak malas-malasan. Para pejabat yang berkuasa saat ini adalah hasil dari sistem pendidikan yang keliru yang lebih banyak memikirkan kulit luar agama, dari pada keagamaan. Adalah tidak cukup bila seseorang beribadah secara teratur, kepedulian dia terhadap sesama adalah tolak ukur keagamaannya.

3. Koperasi mesti dihidupkan kembali. Kita tidak membutuhkan corporations, tetapi co-operation untuk itu, instansi yang terkait harus menyelenggarakan kursus-kursus untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia kita.

4. Demokrasi memang tidak bisa dtawar lagi. Kendati demikian, Integrasi Negara mesti berada di atas segala agenda yang lain. Apa arti demokrasi, bila integarsi Negara terancam? Otak para teroris masih berkeliaran bebas, berkat siapapun jua, adalah bukti nyata akan ketidakberhasilan demokrasi. Demokrasi yang tidak bertanggung jawab adalah bencana bagi Negara.

5. Landasan Negara, Pembukaan UUD ’45 dan Motto Negara, Bhineka Tunggal Ika – Mesti dinyatakan FINAL. Dan tidak boleh di gugat-gugat lagi oleh siapapun jua. Sehingga, ketertiban dan keamanan Negara terjamin dan bisa menarik lebih banyak investor dari luar.

6. Kementrian yang sudah uzur dan tidak berguna, malah merepotkan, seperti Departemen Agama mesti dibubarkan. Urusan Haji ditangani oleh komisi dibawah Deplu. Ini akan menghemat anggaran Negara.

7. KTP kita dibebaskan dari beban Kolom Agama, sehingga tidak terjadi diskriminasi seperti yang masih terjadi saat ini.

Anand Krishna’s Writings

Baca selengkapnya......
| 3 komentar ]

Suatu sore bersama “Dalang Cenk Blong”, dalang kebanggaan masyarakat Bali.
Pernah nonton wayang kulit Bali? Pasti banyak yg mengatakan belum, karena tidak paham bahasanya! Jangankan orang luar Bali, orang asli Bali sendiri juga sudah banyak yang tak paham bahasa pedalangan karena memang bahasa yang di gunakan kebanyakan bahasa jawa kuno. Tapi jika anda menonton Wayang Cenk Blong, walau anda tidak paham bahasa Bali, anda pasti tertawa terpingkal-pingkal dan memahami pesan moral yg disampaikannya tanpa kehilangan benang merah dari struktur cerita yang disampaikan.

Cenk Blong, bukanlah nama sang dalang melainkan tokoh yang diadaptasinya secara bebas dan selalu di tunggu oleh penonton kemunculannya. Nama aslinya “I Wayan Nardayana” Sarjana Filsafat, lulusan ISI Bali ini, bukan hanya piawai menceritakan kisah Ramayana atau epos pewayangan lainnya. Dia berani menerobos sekat-sekat dalam pakem wayang Bali dan menyebut pertunjukannya dengan wayang inovatif.

Kata inovatif yg menjadi “trademark” nya bukan sekedar jargon, tapi memang dia begitu inovatif memadukan teknologi pertunjukan masa kini dengan gaya wayang kulit Bali. Seolah ada pertemuan dua sisi, dimana masing-masing sisi memiliki kekuatan yang sama. Layarnya menjadi hidup bukan sekedar menampilkan bayang-bayang karakter tokohnya saja, beragam visual yang memperkuat ekpresi, dan efek cahaya seperti petir, asap-asap, laser dan efek suara yang keluar dari mulutnya serasi memadu. Kedua tangannya begitu trampil hingga gerakan wayang yang dihasilkan sangat alamiah dan menunjukkan gerakan yang kocak sampai akrobatik. Sungguh bukan suatu yang mudah mengkombinasikan ketrampilan tangan, imajinasi dan kecepatan dalam satu ruang waktu. Sehingga karakter tokoh dan peristiwa yang dipaparkan menjadi hidup dan nyata seraya menonton film animasi tiga dimensi. Istimewanya lagi, perpindahan suara dari satu karakter kekarakter lainnya tanpa jeda dan memiliki teknik vokal dan pernapasan tingkat tinggi layaknya diva pop internasional. Kita pun jadi sulit membedakan mana suara dalang yang asli dan suara masing-masing tokoh. Imajinasi kita kerap di ombang – ambing antara menertawakan diri sendiri atau ketimpangan sosial yang berkembang dalam masyarakat. Kadang kita di bawa haru, optimis juga miris melihat fakta yang ada. Namun yang paling sering kita lakukan memegang perut menahan tawa. Dia cermat memadukan unsur humor dengan pesan moral secara berimbang, tanpa berpihak ke kiri dan kanan, penontonlah yang mengambil kesimpulan dan menentunkan sikap dari pesan yang disampaikan. Jadi bukan hal aneh, ribuan penonton selalu membanjiri pertunjukannya yang tak lebih dari 3 jam itu.

Walau bukan orang Bali dan tak paham bahasa Bali, Aku adalah salah satu penggemar beratnya dan banyak mengoleksi VCD-nya. Dan suatu sore aku berkunjung kerumahnya, di Banjar Batan Nyuh, Desa Belayu, kecamatan Marga, Tabanan – Bali. Sebelum bertemu sang dalang, aku disambut istrinya merangkap manajer yang mengatur jadual dan mencatat permintaan mendalang. Dari buku catatannya kulihat, order mendalang sudah ada yang memesan 6 bulan sebelumnya bahkan ada yang untuk satu tahun kedepan. Memang bukan main padatnya jadual sang dalang.Walau terbilang cukup mahal untuk ukuran masyarakat Bali. dan permintaan mendalang tak pernah sepi, paling sedikit 20 kali dalam 1 bulan, namun tak terlihat mobil mewah terparkir di garasinya. Rumahnya pun sederhana sebagaimana kebanyakan rumah masyarakat Bali.

Tak berapa lama sang dalang pun keluar dan langsung menyapa ramah, sama sekali tidak menciptakan jarak. Baru ketemu sekali, rasanya sudah kenal bertahun-tahun padahal dia begitu diidolakan di Bali.Bukan hanya masyarakat tetapi juga para petinggi di Pemda Bali. Setelah bertukar sapa menggunakan bahasa Bali yang sedikit ku kuasai, sontak aku diajaknya ke padepokan atau workshopnya, sekitar 50 meter dari rumahnya. “ Biar lebih enak ngobrolnya, dan bebas tertawa” ajak sang dalang yang tak merokok dan minum alkohol ini,.

Ternyata bicara dengannya sama mengasyikan dengan menonton dia mendalang. Dibawa diskusi kemana saja “konek” dan pandai mensintesa permasalahan, bukan sekedar mengomentari keadaan dan menyelipkan berbagai teori untuk memperkuat pembicaraan agar kita terlihat pintar dan intelek dinilai oleh lawan bicara. Gaya bahasanya pun sangat sederhana namun khas, sehinga solusi yang dijabarkan begitu hidup sangat dekat dengan kehidupan kita dan mendapat kepuasaan dalam pemahaman.

Entah sudah berapa banyak tawa dan masalah yang kita bahas, mulai dari pertanian, politik, keberagaman Agama, RUU Pornografi hingga hakekat hidup dan kehidupan yang keluar dari mulut kita. Tak sadar empat gelas air meneral dan satu bungkus rokok sudah kuhabiskan. Dan yang membuatku terpaku dan kian memuji kedalaman jiwanya, tak kala dia mengatakan. “ Saat ini kita miskin pemimpin dewasa, pemimpin muda dan tua sangat banyak. Kita akan menjadi Indonesia Raya, jika pemimpinnya dewasa!”

Aku menyela. “Lho...! Bukannya mereka sudah dewasa? “

“ yang terlihat oleh mata kita, namun belum sepenuhnya dalam prilaku dan tindak-tanduknya. Dewasa terdiri dari dua kata, Dewa dan Sa. Dalam kepercayaan Bali, Dewa itu Tuhan dan Sa itu cahaya, orang yang sudah dewasa adalah orang yang hidup dan keinginan hidupnya semata-mata untuk menjadi hambanya. Kita semua berasal dari cahaya dan Tuhan adalah sumber dari semua cahaya yang ada. ”

“ Tapi kita kan manusia... punya nafsu.... punya emosi dan pertama kali manusia turun ke dunia karena lalai akan nafsunya?”

“ Benar! Tapi Tuhan memberi pilihan kita. Jika kamu ingin kembali ketempatmu semula, jadilah Cahayaku, tapi jika kamu mengutamakan nafsumu, bergambunglah dengan mahlukku yang kuciptakan dari Api. Nafsu serakah, nafsu marah adalah ekspresi hidup tapi manusia serakah dan pemarah tidak mensyukuri hidup. Orang dewasa adalah yang senantiasa memberi pencerahan dan manfaat untuk kemaslahatan bukan untuk kepentingannya semata. Dan pemimpin dewasa, dia memiliki kekuatan untuk menyatukan keberagaman menjadi tujuan bersama, seperti kita melihat cahaya purnama dari barat, timur, utara atau selatan. Bulan cuma satu dan kita bisa melihanya dari mana saja dan kita tidak pernah meributkanya dari barat atau utaralah yangg paling indah melihatnya, karena yang kita tuju bukanlah cara melihatnya tapi keindahan bulan itu yang berada di puncak cakrawala. Tuhan juga cuma satu, tapi mengapa kerap meributkan cara kita menuju Tuhan dan kita menyatakan cara kitalah yang paling tepat dan paling benar menuju Tuhan. Api juga punya cahaya, berapi-api akan membakar apa saja, pemimpin dewasa sangat tahu membedakan mana api dan mana cahaya walau keduanya berasal dari sumber yang sama!“

Aku terdiam, dalang Cenk Blong atau I wayan Nardayana pun terpaku. Kubuka lagi bungkus rokok kedua dan menghisapnya. Kami terdiam dalam lamunan entah apa yang terpikir olehnya saat itu. Setelah itu aku pamit dan menjabat erat tangannya dan mengatakan kita akan bertemu lagi di desa Pancasari, Sukasada- Buleleng.

Sudah dewasakah aku dan benarkah Indonesia, negeriku, tumpah darahku minim pemimpin dewasa? Kalimatnya sederhana, tapi buatku menjadi begitu penting. Pemimpin Dewasa tahu membedakan mana api dan mana Cahaya Illahi. Kita semua adalah pemimpin, pemimpin tujuan hidup kita, pemimpin untuk menetapkan pilihan kita. Siapakah contoh pemimpin dewasa selain para Rasul dan Nabi? Raden Sutasoma dan panah saktinyakah? Dimana kesaktian panahnya melebihi kesaktian panah Arjuna, dan panahnya mampu merubah karakter sesorang dengan cepat menemukan hakekat kemanusiaannya dan bergabung dengannya menjadi inti kekuatannya. Panah Sutasoma adalah visi, tujuan dan hakekat hidup itu sendiri, hingga orang merasa nyaman dan menemukan jawab dalam pencarian jati dirinya, karena panahnya berujud kejujuran dan cinta. -- yang dianalogikan dengan simbol Gajah dan Naga. Gajah lambang kebijaksanaan dan Naga keberanian. Kebijaksanaan tanpa cinta hanya akan mementing diri sendiri sedang keberanian tanpa cinta hanya akan merusak.

Benakku terus berfikir mencari jawab... Amerika punya Obama yang dipuja bukan hanya oleh negerinya, Australia punya Kevin Ruud yang berani dan jujur meminta maaf pada rakyatnya pada bangsa Aborigin. Siapakah tokoh di Negeriku....?

“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya.... !Tiba-tiba mengalun potongan lagu Indonesia Raya di benakku lagu yang kerap membuatku meneteskan airmata setiap menyanyikannya...Aku terhentak...Ya!Sudahkah aku membangun Jiwa Indonesia dalam diriku, badanku memang nyata di Bumi Pertiwi tapi apakah jiwaku juga ada? Hingga Indonesia Raya bukan hanya kata dan alunan nada melainkan ujud nyata Pertiwi Bunda, pemimpin dewasa pasti memahaminya.

(Rani Badrie/08) - RJ

Baca selengkapnya......