Institut-A- dan penerbit Katalis akan mengadakan launching buku saku "Mengapa Kapitalisme Menyebalkan" sebuah analisa anti-otoritarian terhadap kapitalisme.
@ InsitutA InfoHouse
Jl. Arteri Permata Hijau No. 14, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Jumat, 2 April 2010
Jam 17.00 - 22.00
Buku saku ini membahas:
+ Apa itu Kapitalisme?
+ Bagaimana Kapitalisme beroperasi?
+ Bagaimana hal tersebut mempengaruhi hidup
harian orang-orang umum?
+ Bagaimana kapitalisme memberi arti pada hidup
orang-orang umum?
+ Tetapi Bukankah Kompetisi Menghasilkan
Produktivitas?
+ Siapa sesungguhnya yang dipecundangi di bawah
sistem Kapitalisme?
+ Jadi... Siapa Sesungguhnya yang Berkuasa di
Bawah Kapitalisme?
+ Sesungguhnya Dunia Seperti Apa yang Kita
Hidupi Saat Ini?
+ Apa alternatif dari Kapitalisme?
+ Bonus Artikel :
TENTANG KORPORASI, NEGARA, DAN POSISI KORBAN :
Sebuah Wawancara Dengan Dia Yang Masih Melawan
Launching buku akan diisi oleh:
+ Ngobrol bareng
+ Tabling literatur tema anti-kapitalisme/globalisasi/neo-liberal/dll
+ Snack vegetarian sehat
+ Musik Digital Noise oleh:
- Mean Fucking Boy (Singapore)
- Aneka Digital Safari (Jakarta)
KOMUNITAS BENDERA HITAM
Pada tahun 1910 Belanda menamai pulau di sisi selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur ini dengan julukan Pulau Komodo. Cerita ini berawal dari Letnan Steyn va Hens Broek yang mencoba membuktikan laporan pasukan Belanda tentang adanya hewan naga menyerupai monster di pulau tersebut.
Laporan dari para anak buahnya tentang kadal raksasa ternyata bukan isapan jempol belaka. Steyn lantas membunuh salah satu komodo tersebut dan membawa dokumentasinya ke Museum and Botanical Garden di Bogor untuk diteliti.
Pesona Pulau Komodo yang indah menjadikan pulau ini layak untuk dikunjungi. Atraksi utama dari pulau ini adalah melihat dari dekat satu-satunya habitat asli dari salah satu hewan purba yang mampu bertahan selama tiga ratus juta tahun lamanya.
Perjalanan yang menegangkan dan mengasyikan akan Anda temui walaupun harus merogoh kocek lebih dalam sedikit, berikut ini beberapa alternatif jalan menuju Pulau Komodo. Sesampainya di Kupang, ibukota Provinsi NTT, Anda dapat naik pesawat menuju Ende, lalu perjalanan dilanjutkan selama sepuluh jam dengan menggunakan minibus menuju kota Labuhanbajo yang merupakan gerbang masuk menuju Pulau Komodo atau pilihan paling mudah untuk mencapai kawasan Labuan Bajo adalah menggunakan jalur penerbangan dari Bandara Ngurai Rai Denpasar Bali (tersedia 2-3 kali penerbangan Denpasar-Labuan Bajo setiap hari). Wisatawan juga bisa menggunakan rute penerbangan Kupang-Labuan Bajo meskipun layanan penerbangan ini hanya tersedia satu kali dalam seminggu.
Tersedia pula jalur laut, kapal feri dari Sape NTB siap mengantarakan Anda ke Labuanbajo atau bisa juga menggunakan kapal Pelni dari Pelabuhan Lembar, Lombok (1 kali dalam 2 minggu).
Dari Labuanbajo, kota yang terletak di bagian paling barat Pulau Flores ini perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Komodo dengan speed boat sekitar dua jam. Setiap speed boat disewakan dengan harga satu juta rupiah pulang balik atau Anda bisa menggunakan kapal kayu yang lebih murah, tentu memakan waktu cukup lama.
Untuk masuk ke dalam kawasan tersebut setiap orang dikenakan biaya 15 dolar untuk wisatawan mancanegara dan 75 ribu rupiah untuk wisatawan lokal selama tiga hari.
Di pulau ini Anda bebas melihat dari dekat komodo yang merupakan spesies kadal terbesar di dunia dengan rata-rata panjang tubuhnya mencapai 3,13 meter dan beratnya mencapai 165 kg ini bebas berkeliaran.
Selain itu, Anda juga dapat menyaksikan berbagai aktivitas hewan langka ini, seperti perkawinan komodo yang terjadi antara bulan Mei hingga Agustus, komodo tengah menyantap rusa, kambing, babi dan menyaksikan komodo berjemur di jalanan dan di cabang pepohonan pada pagi hari.
Di Pulau Komodo hewan ini hidup dan berkembang biak dengan baik. Dan ancaman yang paling menakutkan adalah manusia, karena manusia biasa memburu rusa atau babi hutan, makanan kegemaran reptil ini. Sekarang, di pulau ini hanya terdapat sedikitnya seribu dua ratus ekor komodo. Selain di P Komodo, wisatawan dapat menemukan komodo di pulau lainnya yang masih tercakup dalam kawasan Taman Nasional Komodo yakni Pulau Rinca dan Pulau Padar, sehingga jumlah mereka keseluruhan menjadi sekitar 2500 ekor.
Pulau yang menjadi taman nasional ini juga menyimpan eksotisme flora yang beragam kayu sepang yang oleh warga sekitar digunakan sebagi obat dan bahan pewarna pakaian, pohon nitak ini atau sterculia oblongata di yakini berguna sebagai obat dan bijinya gurih dan enak seperti kacang polong.
Nah, sekarang saatnya menjadikan Pulau Komodo menjadi salah satu dari tujuh keajaiban alam di dunia. Ayo gunakan suara kamu untuk ikutan polling di sebelah kiri artikel ini.
Copyright 2009, KOMPAS.com
Ayo Dukung Pulau Komodo Menjadi New 7 Wonders of Nature
http://vote4komodo.indonesia.travel/
Saya iseng mau tahu sejarah "lobang buaya" kebetulan saya pun tinggal tak jauh dari Lobang buaya ya setidaknya saya juga tinggal tak jauh dari TMII (Taman Mini Indonesia Indah), Memang penuh sejarah tempat yang saya dimana saya tinggal. Setidaknya penuh cerita dari orang-orang tua yang suka duduk dan berbincang-bincang di warung kopi yang sering kami bercanda dan berbagi cerita semua kehidupan disini.
"Dasyat" memang cerita dari orang tua (sesepuh) disini tentang lobang buaya dan sejarah tentang TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Saya pun tak sangka "abang jawara kapung" itu dulunya adalah mantan anggota PKI. Dimana dia sering dicari tentara waktu itu, untung saja dia berhasil sembunyi hingga sampe akhirnya sampe saat ini dia masih hidup. Sejarah memang sangat "Romatis". Dan saya pun tak sangka ternyata dia adalah mantan suami salah satu anggota DPR saat ini. Kisah hidup yang sangat panjang. Banyak pelajaran yang saya petik dari kumpul-kumpul bersama bapak-bapak yang suka duduk di warung kopi sebelah yang hanya menghabiskan malam-malam yang dingin.
Banyak yang konon katanya bla..bla..bla dan sebagainya. Saya pun penasaran saya mau tahu sejarah "misteri lobang buaya" untung saya hidup di zaman yang penuh tenologi, sehingga saya mudah mendapat informasi. Yang penting ada koneksi internet dan semuapun berjalan lancar (he.2). Banyak infomarsi tentang sejarah lobang buaya. Tapi setidaknya saya masih memegang sejarah dari "sesepuh" disini tentang lobang buaya. Sudah saya bilang sejarah memang "sangat romantis" walaupun penuh duka, tetap saja bagi saya sejarah itu "romantis". JAS MERAH - bung karno.
Misteri Lubang Buaya
OLEH INDARWATI AMINUDDIN dan AGUS SOPIAN
HUJAN turun deras. Datuk Banjir menutup kepalanya dengan kain sarung. Begitu juga kedua temannya. Dalam gelap, getek yang mereka naiki dibiarkan melaju sendiri mengikuti riak air. Di sebuah tempat, getek tiba-tiba berhenti. Datuk mengambil galah dan membenamkan ujungnya ke dasar air untuk mendapatkan gerak maju. Dasar air tak tersentuh. Getek tetap diam. Dicobanya lagi, masih tak berhasil. Datuk mengira, di sana ada lubang tempat persembunyian buaya.
Ketika air telah surut, Datuk kembali ke sana. Benar saja, di situ terdapat sebuah lubang. Bentuknya seperti sumur. Ia menamakannya Lubang Buaya.
Legenda Lubang Buaya berkembang dari mulut ke mulut. Terakhir, penduduk sekitar mendengarnya dari H. Yusuf, pria asal Cirebon, yang mengklaim keturunan Datuk Banjir. Mereka yang percaya, mendatangi sumur itu setiap menjelang musim hujan, sekira bulan Oktober. Di sana, mereka menyelenggarakan ruwatan. Doa mohon keselamatan dari ancaman bahaya banjir dipanjatkan. Nama Datuk Banjir yang diyakini menguasai tempat itu, mereka lafalkan dengan khidmat. Tradisi ruwatan meluas ke permohonan lain. Kepada sang penguasa sumur, warga juga meminta limpahan rejeki dan jodoh buat anak-anak gadisnya.
Sumur Lubang Buaya terletak di Desa Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, sekitar 20 kilometer dari pusat kota. Di sebelah selatannya terdapat markas besar Tentara Nasional Indonesia Cilangkap, sebelah utara Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, sebelah timur Pasar Pondok Gede, dan barat Taman Mini Indonesia Indah.
Tanah di seputaran bibir sumur berwarna merah kecoklatan dan kering. Bagian terdekat diberi terali besi bercat merah putih. Lantai marmer putih kilap mengelilingi sumur berdiameter 75 centimeter itu. Sebuah cungkup, bangunan seperti pendopo, memayunginya. Langit-langit bangunan ini diukir.
Tepat di atas lubang, sebuah cermin bergantung. Lewat cermin inilah orang bisa menatap dasar sumur yang diberi pelita. Kecuali nyala api tadi, tak ada apa-apa lagi di sana. Jangankan air, rumput pun tak tumbuh di sumur berkedalaman 12 meter itu.
Kalau Lubang Buaya ditata, itu bukan dimaksudkan untuk mengendapkan cerita rakyat tentang Datuk Banjir. Ada cerita lain yang punya dimensi politik, sekaligus jadi bagian sejarah Indonesia dengan segala kontraversinya. Di sanalah jasad tujuh perwira militer, enam jenderal dan seorang letnan, ditemukan dalam keadaan rusak. Peristiwa traumatik ini, terutama bagi militer Indonesia, dikenal dengan nama G-30-S PKI, kependekkan dari “Gerakan 30 September 1965 Partai Komunis Indonesia”.
Pembunuhan atas para perwira itu jadi antiklimaks ofensif PKI terhadap seteru-seteru politiknya. Militer memburu mereka yang dianggap bertanggung jawab. Kekuatan massa PKI habis dalam tempo cepat, menyusul pembantaian besar-besaran atas mereka di berbagai daerah oleh militer dan massa pro-militer. Sebagian di antaranya dijebloskan ke dalam penjara dan diasingkan ke pulau-pulau terpencil.
Kilas balik ofensif PKI, yang ditandai oleh pembentukan milisi dan sayap militer, sekurang-kurangnya dapat ditelusuri ke tanggal 23 Mei 1965. Saat itu, PKI menggelar peringatan ulang tahun. Dalam even ini, D.N. Aidit, ideolog PKI, menyeru kader-kadernya untuk meningkatkan sikap revolusioner.
Perayaan yang mirip ‘parade kekuatan rakyat’ itu semarak dengan poster-poster berisikan slogan-slogan PKI, termasuk propaganda pembentukan “Angkatan V”. Ini merujuk kepada kekuatan buruh dan tani untuk dipersenjatai dan dilatih kemiliteran. Empat angkatan yang telah terbentuk sebelumnya adalah militer angkatan darat, laut, udara dan kepolisian.
Ledakan kebringasan massa hanya tinggal tunggu waktu. Dan benar, seruan Aidit diikuti oleh terjunnya para eksponen PKI ke desa-desa membawa slogan “Desa Mengepung Kota”, tak ubahnya slogan Mao Tse Tung ketika mengobarkan revolusi komunisme di China.
Dalam aksinya, mereka meneriakkan kebencian terhadap unsur-unsur masyarakat yang dianggap jadi lawan-lawan politiknya. PKI mengekspresikannya dalam slogan “Tujuh Setan Desa”. Mereka adalah tuan tanah, tengkulak, bandit desa, tukang ijon, lintah darat, birokrat desa, dan amil zakat. Keadaan memanas, massa PKI melakukan serangkaian pembantaian dan pembunuhan sistematis terhadap “setan-setan” itu.
Aksi brutal PKI meresahkan rival-rivalnya. PNI (Partai Nasional Indonesia), NU (Nahdlatul Ulama), Parkindo (Partai Kebangkitan Indonesia), Partai Katolik, PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia), hingga IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia), siaga menghadapi berbagai kemungkinan seraya melontarkan berbagai kecaman. PKI di satu pihak dan lawan politiknya di pihak lain, berhadap-hadapan untuk suatu konfrontasi terbuka.
Pimpinan PKI di Jakarta, yang tergabung dalam Politbiro, lembaga kekuasaan tertinggi partai berlambang paru dan arit itu, menyambut reaksi seteru-seterunya dengan mempercepat pembentukan milisi. Juli 1965, kader-kader PKI berdatangan ke Lubang Buaya.
Di sana, mereka dilatih oleh sejumlah instruktur militer di bawah pimpinan Mayor Udara Sujono, Komandan Pasukan Pertahanan Pangkalan Halim. Tak hanya kaum pria, kader-kader PKI perempuan pun ikut serta. Kebanyakan dari mereka berasal dari organisasi yang sangat solid pada masa itu: Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).
Di akhir latihan, mereka mendiskusikan berbagai persoalan politik, terutama sepak-terjang sejumlah jenderal yang dianggap korup dan dekaden hingga Indonesia dilanda krisisis. Saat itu, laju inflasi memang sudah mencapai dua digit. Antrean bahan makanan pokok berlangsung di mana-mana. Banyak rakyat yang kelaparan.
Massa PKI berang. Mereka berteriak-teriak meminta para jenderal itu dihadirkan ke hadapan mereka.
Letnan Kolonel Untung, komandan Cakrabirawa, pasukan pengawal kepresidenan, memerintahkan Letnan Satu Dul Arief untuk menjemput dan membawa jenderal-jenderal yang telah didata. Pasukan Pasopati yang dipimpinnya segera bergerak dari Lubang Buaya sekitar pukul 03.00 WIB. Mereka menyebar ke sasaran masing-masing secara serentak.
Brigadir Jenderal Soetodjo Siswomihardjo, Brigadir Jenderal Donald Izaac Pandjaitan, Mayor Jenderal S. Parman, Mayor Jenderal MT Hardjono, Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R. Soeprapto dan Letnan Satu Piere Andries Tendean, mereka bawa ke Lubang Buaya untuk diinterogasi. Massa yang sedang kalap menganiaya mereka hingga tewas. Jenazah para korban lantas dibenamkan ke dalam sumur itu. [Versi lain mengatakan sebagian di antara mereka masih hidup ketika dijatuhkan ke sumur.]
Kisah-kisah menyeramkan pun segera mengalir. Soeharto, salah seorang jenderal yang selamat, mengkampanyekan kekejian massa PKI lewat dua koran milik militer: Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Disebutkan, sebelum dibunuh, para perwira itu disiksa dan dijadikan bagian pesta mesum Gerwani. Sejumlah perwira disayat-sayat kemaluannya dan matanya dicungkil.
Sebelum dibunuh, mereka dikelilingi kader Gerwani sambil menari-nari dan menyanyikan lagu-lagu rakyat yang sedang populer masa itu, seperti Ganyang Kabir atau Ganyang Tiga Setan Kota ciptaan Soebroto K Atmodjo, komponis Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi underbouw PKI. Genjer-genjer, lagu pop yang sedang hit waktu itu, ikut menyemarakkan. Mereka yang sudah trance kemudian menusuk-nusukkan pisau ke sejumlah anggota tubuh para korban.
Koran-koran pun memberitakan, dalam suasana yang semakin panas, beberapa wanita menanggalkan busananya, dan tenggelam dalam ritual pesta “Harum Bunga”. Pesta ini sekaligus memuncaki pesta sebelumnya sebagai suatu rangkaian penanda berakhirnya latihan militer mereka. Ada berita lain yang menyebutkan, bahwa dalam pesta itu mereka melakukan hubungan seks liar. Seorang dokter diisukan memberikan pil-pil perangsang syahwat.
“Jelaslah bagi kita,” kata Soeharto, “betapa kejamnya aniaya yang telah dilakukan oleh petualang-petualang biadab dari apa yang dinamakan Gerakan 30 September.”
Mendapat dukungan massa, Soeharto mengambil-alih tongkat komando militer Indonesia. Ia memimpin upacara pengangkatan jenazah dari dalam sumur, mempertontonkannya kepada massa, dan mempublikasi data-data forensik tentang kerusakan jenazah dan penyebabnya. Kebencian akan PKI menyebar ke seantero negeri dan melahirkan perburuan besar-besaran pada tokoh-tokoh serta anggota partai tersebut.
Sudomo, bekas menteri Koordinator Politik dan Keamanan, mengatakan, ada sejuta massa PKI yang terbunuh. Angka ini jauh lebih kecil dari perkiraan peneliti masalah ini, yang menaksir antara dua sampai tiga juta orang.
Mereka yang selamat dari pembunuhan dipenjarakan dan diasingkan ke berbagai tempat, mulai Pulau Nusakambangan [wilayah selatan Indonesia] hingga Pulau Buru [wilayah timur Indonesia]. Hampir semua tahanan politik PKI, yang jumlahnya ribuan, dipenjarakan tanpa proses pengadilan. Bahkan surat penahanan pun mereka terima setelah bertahun-tahun berada di balik jeruji besi.
Soeharto sendiri, lewat secarik kertas bernama Super Semar—kependekkan dari Surat Perintah Sebelas Maret 1966, yang diteken Presiden Soekarno—akhirnya memegang komando militer dengan kekuasaan penuh. Bahkan, dengan kekuasaannya itu, ia mengasingkan Soekarno ke Istana Bogor dengan alasan pengamanan.
Soeharto kemudian menanda-tangani surat keputusan No.1/3/1966 untuk membubarkan PKI. Surat keputusan ini diperkuat lagi dengan Ketetapan Majelis Permusyaratan Rakyat Sementara (Tap MPRS) Nomor 25/1966.
Sejak itu, selain PKI dinyatakan partai terlarang, setiap kegiatan penyebaran atau pengembangan paham dan ajaran Komunisme-Marxisme-Leninisme, dianggal illegal. Seluruh eks PKI dan sanak-familinya tak diperkenankan masuk ke dalam jajaran pemerintahan dan militer. Di kemudian hari, mereka pun tak bisa jadi pegawai swasta karena swasta takut memperkerjakan mereka.
Bandul perubahan politik berjalan dengan cepat. Soeharto, yang sebelumnya sama sekali tak populer di mata rakyat, makin dielu-elukan sebagai penyelamat negara. Tahun 1967, ia diangkat jadi presiden kedua Indonesia oleh MPRS, yang diketuai Jenderal A.H. Nasution. Era Orde Baru dimulai.
Pada tahun itu juga, Soeharto langsung memerintahkan aparatnya untuk membebaskan kawasan Lubang Buaya dari hunian penduduk dalam radius 14 hektar. Mereka yang terusir kebanyakan memilih kampung Rawabinong dan Bambu Apus, beberapa kilometer dari Lubang Buaya, sebagai daerah tujuan.
Tahun 1973, kawasan itu diresmikan sebagai jadi Monumen Pancasila Sakti. Upacara kenegaraan 1 Oktober untuk mengenang peristiwa G-30-S PKI, segera mengubur upacara rakyat ruwatan Oktober untuk menyeru Datuk Banjir.
Ketujuh perwira militer yang terbunuh diabadikan dalam tugu, patung dan relief yang berada sekitar 45 meter sebelah utara cungkup sumur Lubang Buaya. Patung-patung mereka dibangun setinggi kurang lebih 17 meter dengan instalasi patung Burung Garuda di belakangnya. Dinding berbentuk trapesium, berdiri kokoh di atas landasan berukuran 17 x 17 meter bujur sangkar dengan tinggi 7 anak tangga.
Mereka berdiri dalam formasi setelah lingkaran, mulai Soetodjo Siswomiharjo, DI Pandjaitan, S. Parman, Ahmad Yani, R. Soeprapto, MT Hardjono dan AP Tendean. Salah satu patung di monumen tersebut, perwujudan A. Yani, yang di masa lalu jadi saingan Soeharto dalam karir kemiliteran, menunjukkan tangannya ke arah sumur Lubang Buaya—seolah hendak mengatakan, “Di sanalah kami mati.” Mati fisik, mati politik.
Untuk masuk ke dalam monumen, orang harus berjalan sepanjang satu kilometer dari Jalan Raya Pondok Gede. Ucapan “Selamat Datang” terukir di di atas batu besar berwarna hitam. Kembang kertas berada di sepanjang jalan masuk. Sekeliling monumen dibuatkan tembok tinggi dari muka hingga belakang.
Di areal monumen, terdapat museum. Di sini, pengunjung bisa mendengarkan riwayat singkat para jenderal yang terbunuh itu, dengan memasukan koin dan menggenggam gagang telepon di bawah foto mereka. Bagi yang ingin menonton film G-30-S PKI disediakan tempat khusus. Mereka yang ingin membaca, disediakan perpustakaan.
Beberapa bangunan bekas orang-orang PKI menjalankan aktivitasnya bertebaran di sana. Di sebelah kiri sumur, misalnya, terdapat bangunan berukuran sekitar 8 m x 15,5 m yang dijadikan tempat penyiksaan para perwira itu. Bangunan ini terbuat dari ayaman bambu dan bilah-bilah papan yang dicat coklat dengan jendela kaca hitam. Sebelum G-30-S meletus, bangunan tersebut dulunya Sekolah Rakyat.
Di dalam ruangan, terdapat 18 patung. Sebagian di antaranya, patung perwira militer yang sedang disiksa. Di depan mereka, berdiri empat patung perempuan aktivis Gerwani. Salah satunya mengenakan busana tradisional kebaya putih berbunga-bunga kecil, sarung batik, dengan rambut panjang terurai. Ia memegang pentungan dalam sorot mata bengis.
Untuk melihat patung-patung itu, tersedia tiga jendela yang terbuka lebar. Penerangannya jelek. Debu-debu yang menempel di patung-patung tersebut memberi kesan kurang perawatan.
Tak jauh dari sana, berdiri sebuah bangunan bekas dapur umum, yang kabarnya menyimpan suara-suara aneh tanpa wujud. “Tertawa cekikikan dan bahkan melenguh,” kata Yasan Suryana, seorang penjaga yang sudah 17 tahun bertugas sebagai pegawai honorer.
Terlihat, genteng rumah itu pernah direnovasi. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu bercat putih, dengan beberapa bagian dicat hijau. Menurut cerita warga di sana, rumah itu dulunya milik Ibu Amroh, seorang pedagang Cingkau (pakaian keliling). Tak ada yang tahu, di mana Ibu Amroh atau keturunannya berada kini.
Sekitar dua puluh meter dari dapur umum, terdapat rumah Haji Sueb, seorang penjahit. Ada beberapa bilik di dalamnya, dengan tiga lampu petromaks yang berdebu, mesin jahit di ruang tengah dan lemari pakaian dengan kaca besar di pintunya.
Rumah Haji Sueb dianggap sebagai pos komando PKI. Letnan Kolonel Untung, mengatur rencana penculikan terhadap perwira militer dari sana. Haji Sueb sendiri telah lama meninggal, setelah mengalami penahanan panjang di Pulau Buru. Keluarganya trauma dan tak pernah yakin Haji Sueb terlibat dengan gerakan itu. Suara-suara aneh pun sering terdengar di sini. Sejumlah penjaga, konon pernah mendengar suara tangis.
Kisah mistis masih bisa diperpanjang. Elizabeth [tanpa nama referensi kedua], pegawai museum, yang dianggap punya indera keenam oleh teman-temannya, sering melihat sosok perempuan yang tertawa-tawa saat berlangsung apel petugas jaga, yang kesemuanya berjumlah enam orang. Perempuan itu duduk di bawah air mancur yang menghadap Lapangan Saptamarga, tak jauh dari sumur.
Cerita-cerita mistis barangkali sama absurd-nya dengan cerita-cerita perlakuan kader-kader PKI terhadap para perwira militer yang dibunuh, termasuk penyayatan atas kemaluannya. Tahun 1987, dalam jurnal Indonesia terbitan Universitas Cornell, Ben Anderson, seorang ahli sejarah tentang Indonesia, mengungkapkan laporan dokter yang membuat visum et repertum atas jenazah para korban.
Dalam resume penelitian tim dokter yang diketuai Brigjen TNI dr Roebiono Kertapati itu, tertulis bahwa tak ada kemaluan korban yang disayat. Hal ini sekaligus mengukuhkan ucapan Presiden Soekarno, yang sebelumnya sempat mengatakan, bahwa 100 silet yang dibagikan kepada massa untuk menyayat-nyayat tubuh korban tak masuk akal.
Saskia Eleonora Wieringa—seorang sarjana Belanda penulis The Politicization of Gender Relations in Indonesia—menilai penjelasan resmi Orde Baru atas pembunuhan Lubang Buaya sebagai fantasi aneh. Dia mengatakan, penguasa militer dan golongan konservatif khawatir melihat kekuatan perempuan di zaman Soekarno, yang boleh jadi akan mengebiri kekuatan politik mereka. Dari sinilah mengalir fantasi aneh tentang pengebirian para perwira di Lubang Buaya itu.
“Semua pemberitaan mengenai Gerwani adalah fitnah yang dimulai oleh Soeharto sendiri,” kata Sulami, 74 tahun, tokoh Gerwani. Ia, yang kini ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966, pernah melakukan identifikasi terhadap mereka yang dibunuh ketika itu, mulai tempat, cara, hingga siapa saja yang membunuh.
Keberadaan sejumlah anggota Gerwani di Lubang Buaya itu pun masih penuh kabut. Beberapa peneliti justru tak melihat tindakan mereka sebagai usaha persiapan kudeta, melainkan dimaksudkan untuk memberi dukungan terhadap proyek politik Soekarno dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia. Mereka adalah bagian dari 20 juta relawan yang hendak memenuhi ajakan Soekarno.
Sejumlah studi kritis mengungkapkan fakta-fakta lain, yang menunjukkan bahwa ofensif PKI justru dipicu oleh rencana kudeta oleh pihak militer. Dalam sebuah pledoi di muka Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada 19 Februari 1966, pentolan PKI Nyono memberi kesaksian, bahwa pihak militer telah merancang rencana kudeta di bawah kendali apa yang dinamakan “Dewan Jenderal”. Untuk mengimbangi kekuatan ini, PKI membuat “Dewan Revolusi”.
Perihal Dewan Jenderal diketahui Nyono dari sejumlah informasi yang rinci, lengkap mendeskripsikan tanggal, jam, tempat, nama, acara, persoalan dan lain–lainnya. “Yang saya masih ingat,” ungkap Nyono, “ialah bahwa tidak semua jenderal masuk dalam Dewan Jenderal. Jumlah anggotanya kurang lebih 40 Jenderal, diantaranya kurang lebih 25 orang aktif menjalankan politik Dewan Jenderal. Tokoh–tokoh utamanya ada tujuh orang yaitu Jenderal Nasution, A..Yani, Suparman, Haryono, Suprapto, Sutoyo, dan Sukendro.”
Untuk mencapai ambisinya, mereka sering menggelar berbagai rapat. Terakhir, menurut ingatan Nyono, mereka mengadakan rapat pleno pada 21 September 1965 di Jl. Dr. Abdulrachman Saleh, Jakarta. Rapat yang dipimpin oleh Suparman dan Haryono ini, mensahkan rencana komposisi Kabinet Dewan Jenderal dan menetapkan waktu dilakukannya kudeta, yaitu sebelum Hari Angkatan Perang pada tanggal 5 Oktober 1965.
Komposisi kepemimpinannya, tambah Nyono, terdiri atas AH Nasution (Perdana Menteri), Ruslan Abdul Gani (Wakil Perdana Menteri), A. Yani (Menteri Pertahanan dan Keamanan), Suprapto (Menteri Dalam Negeri), Haryono (Menteri Luar Negeri), Sutoyo (Menteri Kehakiman) serta Suparman (Jaksa Agung).
Apapun, suara Nyono tenggelam di antara arus besar pembersihan orang-orang PKI dan catatan-catatan resmi yang bersumber dari pemerintah. Demikian pula hasil penelitian-penelitian forensik yang mencoba mengungkap sekitar kekejaman orang-orang PKI terhadap para perwira militer di Lubang Buaya itu. Penolakan sejumlah politikus untuk menghapus Tap MPRS Nomor 25/1966, ikut melestarikan cerita versi Orde Baru sebagai satu-satunya referensi sejarah sekitar peristiwa G-30-S PKI.
Ide penghapusan bukan hanya datang dari para peneliti, sejarawan dan masyarakat awam. Abdurrahman Wahid, presiden ke-4 Indonesia, sempat membicarakannya secara terbuka, walau mendapat kecaman dari sana-sini, termasuk dari Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi massa Islam terbesar di Indonesia yang pernah dipimpinnya. Mengikuti pembicaraannya, Wahid bahkan melontarkan permintaan maaf atas nama rakyat terhadap orang-orang PKI yang selama puluhan tahun ditindas oleh negara di bawah pemerintahan Orde Baru.
Megawati Sukarnaputri, pengganti Wahid, tak pernah bertindak seperti itu. Tapi, di tahun 2002, ia tak hadir pada upacara 1 Oktober di Lubang Buaya. Apakah ini bentuk penolakan Megawati atas sejarah versi Orde Baru itu, tak pernah jelas. Tapi, sejatinya, ketidakhadiran Presiden dimungkinkan oleh protokoler negara sejak lahirnya Keputusan Presiden tentang perubahan nama peringatan: dari “Hari Kesaktian Pancasila” menjadi “Hari Mengenang Tragedi Nasional Akibat Pengkhianatan G-30-S PKI terhadap Pancasila”.
Sekadar mengikuti peraturan? Menteri Pendidikan Nasional A. Malik Fadjar, yang ditunjuk ketua panitia pusat peringatan saat itu, mengatakan kepada pers bahwa absennya Megawati pada upacara tersebut karena ia tak ingin “membuka luka lama.”
Sumber: MESIASS
Sejarah lobang buaya, memang menjadi catatan bangsa yang tersendiri bagi negara ini.
Sejak dahulu kala Indonesia tersohor sebagai negeri maritim. Secara geografis pun letak Indonesia sangat strategis, yakni di jalur persimpangan perniagaan dunia. Tak mengherankan, jika lautan Nusantara banyak menyimpan harta karun dari kapal-kapal abad lampau yang karam.
Dus, pencurian harta karun kerap terjadi, terutama dalam satu dasawarsa terakhir. Perburuan harta karun pun tak kenal musim. Bayangkan, puluhan ribu harta peninggalan masa lampau dijarah dari dasar samudra. Pelakunya tak hanya dari dalam negeri, pihak asing pun turut bermain. Adapun nilai kerugian akibat pencurian itu sangatlah besar, paling tidak mencapai triliunan rupiah. Suatu jumlah yang besar mengingat saat ini Indonesia masih didera krisis.
Harta karun. Mendengar sebutannya saja pasti terbayang seonggok emas, keramik kuno atau benda berharga lainnya. Tentu ini menggiurkan banyak pihak. Tengok saja Kota Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Perairan Bangka Belitung pun strategis karena bertetangga dengan Selat Malaka. Sejak beberapa abad silam, bahkan ribuan tahun lampau selat ini merupakan salah satu jalur laut tersibuk di dunia. Lantaran itulah, sekitar perairan tersebut, tepatnya di dasar laut diyakini menyimpan banyak harta karun.
Alhasil perdagangan benda-benda yang diangkat dari kapal-kapal karam begitu marak di wilayah barat laut Indonesia ini. Sebut saja jual beli keramik-keramik bernilai historis tinggi. Kota Belitung pun kerap menjadi lokasi pertemuan antara penemu lokasi harta karun dan investor. Kedua pihak biasanya memakai jasa broker atau perantara. Salah satu broker adalah Ali. Ia kerap menjadi penghubung transaksi maupun rencana perburuan harta karun. Itu semua dilakukan di rumahnya.
Di Kota Belitung, geliat perburuan harta karun mulai dari keramik, porselin, patung hingga perhiasan memang sangat mencolok. Di sana terdapat banyak toko tak resmi bebas memperdagangkan benda-benda tersebut. Tak hanya pemain lokal yang memburu harta karun di Belitung. Sejumlah investor besar, juga pernah dan terus memburunya sampai kini.
Itu diakui Adi Agung, salah satu pengusaha pemburu harta karun. Ia mengaku pernah bekerja sama dengan warga Belitung untuk kepentingan eksplorasi harta karun. Namun setelah bekerja selama setahun setengah, pihaknya tak berhasil menemukan banyak benda kuno. Ternyata memang banyak sekali diketemukan lokasi-lokasi [kapal karam]. Tapi isinya sudah tidak ada," papar Adi.
Perairan Belitung, terutama Selat Gelasa dan Selat Gaspar adalah dua tempat yang terkenal di mata pemburu harta karun atau benda muatan kapal tenggelam di dunia. Maklum di perairan ini diperkirakan ada puluhan kapal yang diduga tenggelam pada ratusan tahun silam. Nilainya paling sedikit dapat mencapai puluhan miliar rupiah.
Sayangnya hampir semua perburuan harta karun menyisakan kisah kelam. Mulai dari saling sikut antarpengusaha, konflik kepentingan penguasa hingga hasil penjarahan harta karun yang dibawa ke luar negeri.
Perburuan harta karun di perairan Belitung, bahkan menyeret-nyeret nama-nama besar pemburu harta karun dunia, seperti Michael Hatcher dan Tilman Walterfang. Hatcher, seorang pemburu harta karun kelas kakap dari Autralia berhasil mengangkat lebih dari 400 ribu keramik dari Dinasti Ching (1644-1911) dan membawanya terbang ke balai lelang di Jerman. Dari proyek pengangkatan harta karun kapal Tek Sing ini, Hatcher menangguk untung sekitar 6,5 juta mark Jerman atau setara Rp 32 miliar. Sementara pemerintah Indonesia hanya kebagian 1.400 keping keramik dan Rp 4,2 miliar.
Tak jauh berbeda dengan yang dilakukan Tilman Walterfang. Warga Jerman ini disebut-sebut mengeruk harta karun Kapal Tang Cargo hampir 50 ribu keping artefak. Umumnya berupa keramik asal abad IX Masehi. Nilainya ditaksir mencapai US$ 40 juta. Ironisnya, sebagai pemilik sah, Indonesia hanya kebagian lima persennya saja atau sekitar Rp 22 miliar. Itu pun setelah melalui negosiasi alot. Tilman sukses membawa kabur artefak kuno itu ke Selandia Baru dengan dalih desalinasi atau proses pencucian. Tapi harta karun itu tak pernah kembali ke Bumi Pertiwi.
Dalam penelusuran baru-baru ini, Tim Sigi SCTV menemukan dokumen izin pencucian ke Selandia Baru yang ditandatangani kepala Biro Umum Kantor Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan yang saat itu dijabat Handi Yohandi. Pemerintah Indonesia lagi-lagi kecolongan.
Anehnya perhatian serius justru datang dari pihak asing, seperti Peter Schwarts, ahli keramik Cina. Menurut dia, pihaknya sudah berusaha memberitahukan pemerintah Indonesia tentang pencurian harta karun dari lautan di Indonesia. Sayangnya informasi itu tidak mendapat respons.
Di Belitung, Tim Sigi mencoba mengais cerita tentang jejak Tilman. Namun yang ditemukan hanya bungalow yang disebut-sebut bekas base camp Tilman. Penelusuran dilanjutkan ke Pulau Babi. Di pulau yang tak jauh dari Pulau Belitung itu, ditemukan banyak pecahan-pecahan keramik. Dari ciri-ciri pecahan keramik, diduga benda-benda kuno itu berasal dari Dinasti Ching, sekitar abad ke-16 Masehi. Keramik-keramik ini bagian dari muatan Kapal Tek Sing yang dieksplorasi Hatcher.
Eksplorasi harta karun pun dilangsungkan di perairan Cirebon, Jawa Barat. Pengangkatan ini resmi diketahui pihak pemerintah. Kabarnya harta karun tersebut berasal dari muatan kapal kargo abad 10 Masehi. Kapal itu tenggelam dalam perjalanan dari Kerajaan Sriwijaya menuju Singosari. Menurut survei, kapal itu membawa puluhan ribu keramik kuno dan sejumlah lempeng emas. Nilainya ditaksir mencapai US$ 24 juta atau setara Rp 225 miliar.
Februari tahun depan, harta karun dari perairan Cirebon itu akan dilelang di Balai Lelang Christie`s Belanda. Inilah proyek eksplorasi pertama yang oleh pemerintah dipakai sebagai percontohan pengangkatan harta karun sesuai standar. Suatu proses yang baik, tertata dengan baik, accountable, semua pihak tahu baru dirilis tahun ini," jelas Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi.
Pengangkatan harta karun di perairan Cirebon, bukan tak menemui kendala. Sebelumnya, perusahaan pelaksana eksplorasi di perairan Cirebon, yakni PT Paradigma Putra Sejahtera milik Adi Agung, menerima sejumlah tudingan. Di antaranya tuduhan mempekerjakan tenaga asing ilegal. Tak hanya itu, menurut Adi, pihaknya juga dituding melakukan penjualan ilegal dan pencurian. &Kami dituduh melakukan pengangkatan dengan izin yang palsu," tambah Adi.
Data dari Departemen Kelautan dan Perikanan menyebutkan di perairan Indonesia sedikitnya ada 463 titik tenggelamnya kapal sejak abad XIV hingga XIX. Dari jumlah itu belum banyak yang sudah diangkat dan memberi sumbangan pendapatan negara. Menurut Luc Heyman, investor asing, birokrasi bertele-tele menjadi salah satu kendala mereka. Belum lagi saling sikut di antara mereka yang kerap mewarnai perburuan harta karun di negeri ini.
Salah satu dampaknya, sejumlah tempat harta karun menjadi perburuan tidak resmi antarpencinta benda antik. Hal ini bisa terjadi karena banyak harta karun justru dieksplorasi secara diam-diam oleh penyelam tradisional. Itu diakui Hendro, kolektor keramik. Hendro mengaku beberapa benda koleksinya diperoleh dari para penyelam tradisional yang mendatangi rumahnya.
Perburuan di perairan Bangka Belitung, banyak mengandalkan para penyelam tradisional, terutama para nelayan yang biasa memasang perangkap ikan di dasar laut. Di antaranya Albert dan Beni. Tiga bulan silam, mereka menemukan bangkai kapal di Teluk Gelasa, dekat Kepulauan Bangka Belitung. Kapal yang teronggok di kedalaman 30 meter itu dipenuhi muatan, seperti keramik, porselin hingga senjata. Tim Sigi membuktikan adanya bangkai kapal yang belum jelas asal-muasalnya itu. Di sekitar kapal tersebut ditemukan harta karun berceceran, seperti piring dan botol keramik.
Temuan itu membuktikan bahwa potensi harta karun yang terkubur di dasar lautan Indonesia belum tergarap dengan baik. Tak heran pencurian dan pengangkatan ilegal terus marak. Hal itu diakui Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi. Menurut dia, hampir di seluruh perairan Indonesia, terdapat kapal-kapal yang karam pada beberapa abad silam. Paling banyak terdapat di wilayah paling barat Indonesia. Kita sudah tahu tiap lokasi dan nama jenis kapal ada datanya," kata Freddy.
Freddy mengatakan, terdapat 700 sampai 800 titik harta karun yang potensial untuk diangkat. Namun diakui yang teridentifikasi baru 463 titik. Sampai sekarang lebih kurang sekitar 46 titik yang sudah diangkat atau sekitar 10 persen. "Tapi yang terjual melalui proses pelelangan dengan baik belum ada. Baru direncanakan tahun ini kerja sama dengan [Balai Lelang] Christie`s," tambah dia.
Freddy mengatakan, pengelolaan harta karun dari kapal karam tidak berjalan baik karena maraknya pencurian tersebut. Jika sudah terkena kasus pencurian, barang itu akan anjlok di pasaran. Seperi pengangkatan di Pulau Buaya oleh perusahaan milik Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. Karena terkena kasus pencurian, harga benda-benda yang diangkat anjlok. Barang-barang seperti itu jumlahnya banyak. Ada ribuan potong yang tersimpan di beberapa tempat. Akhirnya diberikan ke museum," jelas Freddy.
Untuk ke depan, Freddy mengatakan, tak menutup kemungkinan pemerintah bekerja sama dengan pihak asing, seperti pemburu harta karun sekelas Hatcher. Tentunya harus melalui izin atau proses yang benar.
Sepanjang waktu perdagangan harta karun memang tak pernah sepi. Maklum, beratus atau beribu tahun lampau, lebih dari 450 kapal bermuatan dikabarkan terkubur di dasar lautan Indonesia.
Namun harta karun itu bukanlah harta tak bertuan. Sepanjang berada di wilayah kekuasaan Indonesia, berapa pun nilai ekonomi dan sejarahnya, tetap itu milik negara. Pengangkatan harta karun secara ilegal oleh siapa pun semestinya tak boleh terjadi lagi. Dan, lebih bijaksana pula, pemerintah segera menyiapkan jurus ampuh" menangkal penjarahan tersebut.
http://www.liputan6.com

Foto-foto tersebut adalah foto-foto keindahan bawah laut di perairan raja ampat di daerah barat papua. Mungkin banyak dari anda sekalian yang baru pernah mendengar perairan raja ampat ini? Tetapi sebenarnya raja ampat sangat terkenal sekali di kalangan penyelam dan merupakan salah satu surga penyelaman di dunia.
Perairan raja ampat di papua memang sejak puluhan tahun lalu memiliki keindahan bawah laut yang luar biasa, bahkan salah satu yang terbaik di dunia. Namun tidak ada satupun dari kita orang indonesia yang mengembangkannya atau bahkan mengetahuinya. Sampai adanya seorang Max Ammer.
Max Ammer (di foto atas sebelah kiri) adalah penyelam yang berkewarganegaraan Jerman dan Belanda yang sangat jatuh hati sejak belasan tahun yang lalu akan keindahan bawah laut raja ampat yang kita miliki. Dia jugalah yang akhirnya membuat Resort Papua Diving, yang sejak 1994 hingga sekarang merupakan salah satu tempat tujuan para penyelam dunia.
Max Ammer adalah betul-betul seseorang pengusaha yang mencintai dan mengembangkan daerah sekitar Raja Ampat. Dari 100 orang pekerjanya 90 adalah orang asli papua, dalam membangun papua diving dia menggunakan semua ada dari sekitar hanya semen dan cat saja yang tidak dari tempat tersebut, diapun mengajak wisatawan -wisatawan yang datang untuk ikut mencintai papua, banyak dari wisatawan -wisatawan tersebut yang menjadi donatur tetap untuk sekolah, tempat ibadah, dll.
Bahkan karena adanya peran Max Ammer jugalah Raja Ampat sejak tahun 2005 mendapatkan Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap) II, suatu program yang dibuat oleh bank dunia bekerja sama dengan lembaga lingkungan global. Di Raja Ampat, program ini mencakup 17 kampung dan melibatkan penduduk lokal. Nelayan juga dilatih membudidayakan ikan kerapu dan rumput laut.
Saya sangat berterima kasih kepada orang-orang seperti Max Ammer. Kalau anda ingin tahu betapa warga dunia menghargai Raja Ampat bukalah google dan ketik raja ampat untuk mengetahuinya sendiri. Namun hal yang sangat membuat saya sedih adalah mengapa orang yang begitu mencintai dan mengembangkan keindahan indonesia adalah orang berkewarganegaraan Jerman dan Belanda? Kemana kita sebagai orang-orang indonesia ? Padahal seharusnya itu adalah kewajiban kita sebagai putra putri Indonesia .

dikasih email dari cewek gue
Urusan dengan CIA memang selalu menimbulkan kontroversi. Kali ini Adam Malik, mantan wakil presiden Indonesia dituding agen CIA. Adalah buku Tim Weiner yang berjudul Kegagalan CIA: Spionase Amerika Sebuah Negara Adi Daya, yang mengungkap bahwa Adam Malik agen CIA.
Buku yang judul aslinya Legacy of Ashes ini mengutip perkataan Clyde Mc Avoy, pejabat tinggi CIA yang menyatakan telah merekrut Adam Malik sebagai agen dan mengontrolnya. Lewat Adam Malik ini pula konon CIA mengucurkan dana 10 ribu US dollar untuk membiayai aksi pembasmian Gestapu.
Tim Weiner sendiri bukan penulis amatiran. Disampin berpengalaman menjadi wartawan The New York Times, Weiner mengatakan telah melakukan investigasi dalam waktu yang lama. Menurutnya buku ini bersifat on the record, tidak ada sumber tanpa nama, kutipan tanpa identitas pembicara atau gossip. Weiner juga dikenal penulis handal yang pernah mendapat penghargaan.
Keluarga Adam Malik segera mengecam tudingan ini. Pakar sejarah Asvi Warman mengatakan hal itu sebagai fitnah. Tidak jauh berbeda, Jusuf Kalla yakin tidak mungkin Adam Malik seorang agen CIA. Menurutnya profesi Adam Malik sebagai wartawan yang memiliki kenalan yang luas memungkinkan dia untuk kontak dengan siapa saja.
Tentu saja sulit untuk membuktikan Adam Malik benar-benar seorang agen. Namun, bukan berarti hal itu menutup kemungkinan Adam Malik adalah memang benar-benar agen. Sebab tidak bisa dipungkiri Adam Malik adalah pemain politik utama saat itu. Sementara Amerika Serikat jelas punya kepentingan untuk merekrut agen-agennya. Apalagi AS saat itu adalah era perang dingin. Negara adi daya ini yang saling berebut kekuasaan untuk mendominasi dunia dengan Soviet yang berideologi Komunisme. Negara Paman Sam ini juga saat itu berusaha menghentikan pengaruh Inggris sebagai negara penjajah lama diseluruh pelosok dunia.
Mendudukan para agen pada jabatan dan profesi strategis menjadi sangat penting . Seperti jabatan politik kepala negara, menteri, pemimpin militer atau kepolisian. Termasuk profesi wartawan yang pernah digeluti oleh Adam Malik. Keterlibatan pemerintah AS, dengan memanfaatkan wartawan sebagai agen intelijen mereka, sudah terjadi sejak Perang Dingin. Seperti yang ditulis surat kabar New York Times, “Sejak berakhirnya Perang Dunia II, lebih dari 30 atau bahkan 100 wartawan Amerika dari sejumlah organisasi berita dilibatkan sebagai pekerja operasi intelijen yang dibayar sementara menjalankan tugas-tugas reportasenya. Jadi siapapun tidak tertutup kemungkinan menjadi agen, termasuk Adam Malik .
Bahwa terdapat politisi termasuk kepala pemerintahan yang menjadi kaki tangan asing juga bukan barang baru. Berdirinya negara kerajaan Saudi Arabia misalnya tidak lepas dari campur tangan asing. Pada tahun 1902, Abdul Aziz menyerang dan merebut kota Riyadh dengan membunuh walinya (Gubernur Khilafah ar-Rasyid). Pasukan Aziz terus melakukan penaklukan dan membunuh pendukung Khilafah Utsmaniyah dengan bantuan Inggris.
Salah satu sahabat dekat Abdul Aziz Abdurrahman adalah Harry St. John Pilby, yang merupakan agen Inggris. Philby menjuluki Abdul Aziz bin Abdurrahman sebagai “Seorang Arab yang Beruntung”, sementara Abdul Aziz menjulukinya dengan “Bintang Baru dalam Cakrawala Arab”. Philby adalah orang Inggris yang ahli Arab yang telah lama menjalin hubungan baik dengan Keluarga Sa‘ud sejak misi pertamanya ke Nejed pada tahun 1917. Pada tahun 1926, Philby tinggal di Jeddah. Dikabarkan kemudian, Philby masuk Islam dan menjadi anggota dewan penasihat pribadi Raja pada tahun 1930.
Kerjasama Dinasti Sa‘ud dengan Inggris tampak dalam perjanjian umum Inggris-Arab Saudi yang ditandatangani di Jeddah (20 Mei 1927). Perjanjian itu, yang dirundingkan oleh Clayton, mempertegas pengakuan Inggris atas ‘kemerdekaan lengkap dan mutlak’ Ibnu Sa‘ud, hubungan non-agresi dan bersahabat, pengakuan Ibnu Sa‘ud atas kedudukan Inggris di Bahrain dan di keemiran Teluk, serta kerjasama dalam menghentikan perdagangan budak (Lihat: Goerge Lenczowsky, Timur Tengah di Tengah Kencah Dunia, hlm. 351). Dengan perlindungan Inggris ini, Abdul Aziz (yang dikenal dengan Ibnu Sa‘ud) merasa aman dari berbagai rongrongan.
Bisa disebut hampir semua penguasa negeri ketiga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh asing dari dulu hingga kini. Sekarang terdapat Musharaf yang jelas-jelas agen AS yang kemudian digulingkan , atau pemerintah boneka Irak dan rezim Karzay di Afghanistan. Termasuk rezim Mahmud Abbas di Palestina, bukan mustahil pula termasuk penguasa Indonesia.
Untuk membuktikan bahwa mereka agen CIA jelas tidak gampang. Disamping hal tersebut tidaklah begitu penting. Yang lebih penting adalah mengetahui siapa yang menjadi kaki tangan asing. Dan hal itu bisa dilihat dari indikasinya. Siapapun termasuk penguasa bisa dikatakan sebagai kaki tangan asing dengan melihat dukungan mereka terhadap kebijakan-kebijakan negara penjajah kapitalis. Siapapun yang melakukan itu pantas dicap sebagai kaki tangan negara penjajah dan pengkhianat.
Mereka adalah penguasa yang tega membunuh rakyat sendiri atas nama perang melawan terorisme ala AS seperti yang dilakukan penguasa Pakistan. Mereka yang mengikuti seluruh instruksi IMF dan Bank Dunia meskipun harus memiskinkan rakyatnya sendiri. Membuat undang-undang yang lebih memihak kepada kepentingan negara penjajah atau perusahaan asing. Kalau Adam Malik dituding agen CIA karena menerima bantuan dana 10 ribu dollar . Hal sama harus kita pertanyakan pada penguasa yang menerima dana asing berupa utang luar negeri yang justru dijadikan alat untuk mendikte bangsa sendiri. Dan jumlahnya tentu lebih besar dari 10 ribu dollar.
Termasuk penguasa yang memberikan jalan bagi asing untuk memecah belah Indonesia atas nama demokrasi dan kebebasan pendapat. Terdapat pula LSM komprador yang menerima dana luar negeri untuk memerangi upaya penegakan syariah Islam karena khawatir syariah Islam akan menghentikan penjajahan Tuan Kapitalisme mereka . Kita harus berani mengatakan mereka adalah kaki tangan asing dan pengkhianat. Sikap kita juga harus tegas mengecam dan menolak mereka. Karena mereka adalah pengkhianat ! (Farid Wadjdi)
sumber
Kepulauan Raja Ampat yang terletak di bagian barat-laut Propinsi Papua memiliki luas areal daratan dan laut sekitar 9,8 juta acre. Melihat posisinya di kawasan segitiga terumbu karang, yang tepat pada pusat keragaman terumbu karang dunia, maka laut di Kepulauan Raja Ampat diindikasikan sebagai kawasan yang paling kaya keragaman hayatinya di dunia.
Kumpulan terumbu karang yang luas dan kaya ini membuktikkan bahwa terumbu karang di kepulauan ini mampu bertahan terhadap ancaman-ancaman seperti pemutihan karang dan penyakit, dua jenis ancaman yang kini sangat membahayakan kelangsungan hidup terumbu karang di seluruh dunia. Kuatnya arus samudra di Raja Ampat memegang peran penting dalammenyebarkan larva karang dan ikan melewati samudra Hindia dan Pasifik ke ekosistem karang lainnya. Kemampuan tersebut didukung oleh keragaman dan tingkat ketahanannya menjadikan kawasan ini prioritas utama untuk dilindungi.
Penelitian Membuktikan Keragaman Hayati Tertinggi di Dunia
Pada tahun 2002, The Nature Conservancy (TNC) dan para mitra lainnya mengadakan suatu penelitian ilmiah untuk memperoleh data dan informasi tentang ekosistem laut, daerah bakau dan hutan Kepulauan Raja Ampat. Survei ini menunjukkan bahwa terdapat sejumlah 537 jenis karang, yang sungguh menakjubkan karena mewakili sekitar 75% jenis karang yang ada di dunia. Ditemukan pula 828 jenis ikan dan diperkirakan jumlah keseluruhan jenis ikan di daerah ini 1.074. Di darat, penelitian ini menemukan berbagai tumbuhan hutan, tumbuhan endemik dan jarang, tumbuhan di batuan kapur serta pantai peneluran ribuan penyu.
Kegiatan manusia di kepulauan ini belum memperlihatkan dampak negatif yang berarti dibandingkan dengan kawasan terumbu karang di tempat lainnya di Indonesia, namun ancaman-ancaman karena praktek-praktek yang tidak ramah lingkungan seperti penggunaan bom, racun (sianida), pengambilan telur penyu dan penebangan hutan yang tidak memperhatikan aspek-aspek kelestarian diperkirakan akan mengganggu keutuhan ekosistem yang ada. Pemerintah Indonesia baru saja menetapkan kawasan Raja Ampat sebagai kabupaten baru yang mandiri, yang merupakan kesempatan besar bagi masyarakat setempat untuk mengelola sumberdaya alam Raja Ampat untuk masa depan kehidupan mereka. Pemerintahan baru ini juga menawarkan peluang untuk turut mempertimbangkan aspek pelestarian alam dalam perencanaan tata ruang kabupaten baru.
Memastikan Kegiatan Pelestarian dengan Kemitraan
Menanggapi tawaran dan sekaligus untuk membantu pemerintah daerah, maka TNC meluncurkan suatu program kerja yang bertujuan untuk melindungi Kepulauan Raja Ampat yang dilakukan bersama pemerintah dan masyarakat Raja Ampat. Program ini bertujuan:
1) menyumbangkan suatu rencana kegiatan konservasi menyeluruh untuk melindungi terumbu karang dan hutan Kepulauan Raja Ampat;
2)membantu menyelaraskan pengelolaan kawasan perlindungan laut ke dalam perencanaan dan kebijakan pembangunan jangka panjang; serta,
3) mengembangkan suatu jaringan kawasan perlindungan laut.Tujuan akhir kehadiran TNC di Raja Ampat adalah melindungi kekayaan terumbu karang Kepulauan Raja Ampat yang sekaligus diharapkan akan menjamin kehidupan masyarakat lokal.
Raja Ampat tersusun atas empat pulau besar, yaitu Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool serta ratusan pulau kecil. Kepulauan ini merupakan bagian dari bentangan laut daerah Kepala Burung yang termasuk pula kawasan Teluk Cenderawasih, yaitu taman nasional laut terbesar di Indonesia.

Misteri Indonesia Timur
40 orang terkaya di Indonesia versi forbes, namun sayang tidak ada orang dengan bisnis IT yang kaya di Indonesia. Pantas saja banyak orang dunia IT yang handal pindah ke luar negeri. Sungguh disayangkan.
1. Aburizal Bakrie & keluarga 5,4 miliar USD
2. Sukanto Tanoto 4,7 miliar USD
3. R. Budi Hartono 3,14 miliar USD
4. Michael Hartono 3,08 miliar USD
5. Eka Tjipta Widjaja & keluarga 2,8 miliar USD
6. Putera Sampoerna & keluarga 2,2 miliar USD
7. Martua Sitorus 2,1 miliar USD
8. Rachman Halim & keluarga 1,6 miliar USD
9. Peter Sondakh 1,45 miliar USD
10. Eddy William Katuari & keluarga 1,39 miliar USD
11. Anthoni Salim & keluarga 1,3 miliar USD
12. Mochtar Riady & keluarga 950 juta USD
13 Murdaya Poo 900 juta USD
14. Arifin Panigoro & keluarga 880 juta USD
15. Hary Tanoesoedibjo 815 juta USD
16. Trihatma Haliman 790 juta USD
17. Sjamsul Nursalim & keluarga 550 juta USD
18. Chairul Tanjung 450 juta USD
19. Paulus Tumewu 440 juta USD
20. Prajogo Pangestu 420 juta USD
21. Soegiharto Sosrodjojo & keluarga 335 juta USD
22. Sutanto Djuhar & keluarga 350 juta USD
23. Hadi Surya 345 juta USD
24. Aksa Mahmud 340 juta USD
25. Harjo Sutanto & keluarga 315 juta USD
26. Soegiarto Adikoesoemo & keluarga 310juta USD
27. Husein Djojonegoro & keluarga 305juta USD
28. Kartini Muljadi 260 juta USD
29. Edwin Soeryadjaya 250 juta USD
30. Jusuf Kalla 230 juta USD
31. Tan Kian 225 juta USD
32. Ciputra 205 juta USD
33. Bambang Trihatmodjo 200 juta USD
34. George & Sjakon Tahija 195 juta USD
35. Kris Wiluan 185 juta USD
36. Eka Tjandranegara & keluarga 170 juta USD
37. Alim Markus & keluarga 140 juta USD
38. Husein Sutjiadi 135 juta USD
39. Jakob Oetama 130 juta USD
40. Boenjamin Setiawan 120 juta USD
Ternyata menjadi bangsa Indonesia di dunia ini cukup membanggakan, karena memiliki putra-putra besar dalam segi ilmu pengetahuan yang tidak kalah dengan mancanegara.
Berikut adalah daftar para penemu berbagai bidang ilmu yang berasal dari negara Indonesia:
1. Abdul Jamil Ridho & Niti Soedigdo - Penemu Varietas Unggul Singkong Raksasa
2. Adi Rahman Adiwoso - Penemu Teknologi Baru dalam Telepon Bergerak Berbasis Satelit
3. Alexander Kawilarang - Penemu Kapal Ikan Bersirip
4. Andrias Wiji Setio Pamuji - Penemu Reaktor Biogas
5. Arief Mulyana Djumra - Penemu Pemacu Produktifitas dan Kualitas Udang dan Ikan
6. Aryadi Suwono & Tim Peneliti ITB - Penemu Bahan Pendingin Baru yang Lebih Hemat Energi
7. Ayub S. Parnata - Penemu Bakteri Kompos Organik
8. Bacharuddin Jusuf Habibie - Penemu Teori, Faktor dan Metode Habibie (Teknologi Pesawat Terbang)
9. Budi Noviantoro - Penemu Klip Penambat Bantalan Kereta Api dengan Dua Gigi
10. Dani Hilman Natawijaya - Penemu Indikator Alam (Terumbu Karang) terhadap Siklus Gempa
11. Djuanda Suraatmadja - Penemu Beton Polimer yang Ramah Lingkungan
12. Eddyman, Intan Elfarini & Kanaka Sundhoro - Penemu Obat Antinyamuk Alami dan Murah
13. Evvy Kartini - Penemu Penghantar Listrik Berbahan Gelas
14. Fuad Affandi - Penemu Pupuk Alami dari Air Liur
15. Herman Johannes - Penemu Tungku Berbahan Bakar Briket Arang Kayu dan Dedaunan
16. I Gede Ngurah Wididana - Penemu Formula Minyak Oles Bokhasi
17. I Made Budi - Penemu Formula Sari Buah Merah untuk Pengobatan
18. Lalu Selamat Martadinata - Penemu Alat Pemanggil Ikan
19. M. Djoko Srihono - Penemu Penjernih Air Limbah
20. Maruni Wiwin Diarti - Penemu Senyawa Antimikroba dari Rumput Laut
21. Minto - Penemu Kompor dan Pengering Hasil Tani dengan Tenaga Matahari
22. Mumu Sutisna - Penemu Hormon Penyubur Anakan Padi
23. Mulyoto Pangestu - Penemu Teknik Ekonomis Pembekuan Sperma
24. Neny Nurainy - Penemu Varian Virus Hepatitis B Indonesia
25. Puji Slamet Arif - Penemu Motor Listrik Hemat Energi
26. Rahmiana Zein - Penemu Teknik Pemisahan Cairan dalam Kecepatan Tinggi
27. Randall Hartolaksono - Penemu Formula Kimia Pemadam Api Ramah Lingkungan
28. Rizal & Juffri Sahroni - Penemu Penghemat Bahan Bakar Diesel
29. Robert Manurung - Penemu Minyak Jarak Murni
30. Saverinus Nurak - Penemu Mesin Pompa Tangan Berkekuatan Tinggi
31. Sutjipto & Ryantori - Penemu Konstruksi Fondasi Sarang Laba-laba
32. Sutrisno - Penemu Alat Perangkap Lalat Buah
33. Sedijatmo - Penemu Konstruksi Fondasi Cakar Ayam
34. Septinus George Saa - Penemu Rumus Penghitung antara Dua Titik Rangkaian Resistor
35. Sofin Hadi - Penemu Metode Cincin untuk Sunat Tanpa Luka
36. Sri Wuryani, Mustadjab, Euis M. Nirmala, Siwi Hardiastuti - Penemu Pengawet Aroma dalam Hampa
37. Tjokorda Raka Sukawati - Penemu Landasan Putar Bebas Hambatan Sosrobahu
38. Warsimin Adiwarsito - Penemu Marmer Buatan
39. Widowati Siswomihardjo - Penemu Bahan Baru untuk Gigi Palsu yang Lebih Aman dan Murah
40. Windu Hernowo - Penemu Penghemat Bahan Bakar Mesin
41. Yanto Lunardi Iskandar - Anggota Tim Penemu HIV & Metode Peningkatan Hematopoiesis
42. Yudi Utomo Imardjoko - Penemu Kontainer Limbah Nuklir
43. Zahlul Badaruddin - Penemu Zahlul Integrated Unit (Desain Sistem Efisien untuk Produksi Obat/Kimia)

Sumber: tedoun.multiply.com
Kesal rasanya kalau mau berangkat kerja tetapi ada saja hambatan, permasalahan kemacetan di jakarta, bangun tidur yang kesiangan, masalah keluarga yang tak ada habisnya, dan yang tak kalah mengesalkan adalah; Banyaknya ranjau paku yang bertebaran di jakarta.
Sering saya melintas di jalan jalan protokol jakarta, dan melihat begitu banyak orang yang menuntun motornya karena bannya kempes terkena ranjau paku. Kesal memang kalau mau berangkat kerja mesti terhambat hal yang seperti ini, dan gilanya lagi ban kempes seperti ini bukan karena "kecelakaan" yang alami, melainkan pekerjaan orang orang tukang tambal ban curang, yang menyebarkan ranjau ranjau paku di sepanjan jalan.
Dan brengseknya lagi, jika kita terkena paku dan mulai di kerjakan JANGAN PERNAH MELEPASKAN MATA DARI TANGAN ORANG TAMBAL BAN CURANG TERSEBUT.
Dijamin ban dalam anda bakalan robek, entah lubang yang di buat lebar tak wajar, ataupun Mencongkel pentil agar robek dengan teknik tertentu (biasanya saat mengeluarkan ban dalam dengan menggunakan linggis)
Kesal sekali rasanya jika seperti ini, dan jika sudah ban dalam tidak bisa di tambal (mungkin bisa... tapi dengan alasan alasan yang gak kalah busuk dari wajah Busuk tukang tambal ban tersebut) maka akan di berikan harga ban dalam HARGA IMPOR PRODUK KACANGAN. bisa 30-50 ribu, dengan kualitas yang sangat menyedihkan.
Untuk menghindarinya, kita simak di bawah ini lokasi rawan ranjau paku di daerah jakarta. Data di kumpulkan oleh Si Bajaj. yang berpengalaman Terkena "Paku Neraka" ini berkali kali.
Jakarta Pusat:
Jl majapahit, dari tanah abang 1 hingga harmoni; Tugu tani arah kebonsirih menuju senen; senen menuju medan merdeka selatan, khususnya disekitar kedubes amerika serikat; dan putaran kedubes AS
Jakarta Utara
Jalan perintis kemerdekaan arah pulo gadung, Jalan Yos Sudarso arah TAnjungPriok dan jalan enggano tidak jauh dari terminal TanjungPriok Menuju pos 8
Jakarta Barat
Jalan S parman, Depan RS harapan kita yang mengarah lampu merah slipi, jalan layang slipi, dan dua arah di jalan jembatan layang pesing.
Jakarta Timur
Jalan layang klender Arah pondok kopi menuju pulogadung, jalan MT haryono arah kebon nanas, Jalan Pramuka, Jalan perintis kemerdekaan dari arah pulogadung menuju cempaka putih
Jakarta Selatan
TERSEBAR LUAS DAN MERATA dari jalan layang permata hijau arah pondok indah, jalan satrio, terowongan casablanca arah ambasador, jalan gatot subroro depan plasa mandiri ( I HIT TWICE HERE), kawasan semanggi dan kawasan buncit raya.
Oke semoga lokasi di atas dapat membantu pengendara lebih berhati hati di jalan yang terdapat "Ranjau Jahanam" tersebut. Salam Dari si sopir bajaj.....
sumber berita
Masyarakat Yogyakarta sudah agak tenang dengan keluarnya Keputusan Presiden tentang perpanjangan masa jabatan Sri Sultan sebagai Gubernur dan Sri Pakualam sebagai Wakil Gubernur selama tiga tahun. Meskipun demikian, keistimewaan Yogyakarta masih memerlukan perjuangan panjang. Sampai dengan selesainya pembahasan RUU Keistimewaan, banyak hal dapat muncul ke permukaan.
Setelah untuk sementara jabatan Gubernur tetap dipegang Sultan, muncul wacana pencalonan Sultan sebagai calon Presiden. Masyarakat kembali gonjang-ganjing. Sekarang masyarakat menghadapi dilema, apakah menginginkan Sultan tetap menjabat sebagai Gubernur atau menjadi Presiden. Sebagian orang memilih Sultan menjadi Gubernur dan tidak usah jadi Presiden. Yang lain memilih Sultan menjadi Presiden yang tidak mungkin merangkap menjadi Gubernur. Sebenarnya masih ada pilihan ketiga, yaitu Sultan tidak menjadi Gubernur ataupun Presiden tetapi tetap menjadi Raja Ngayogyakarta Hadiningrat saja. Pilihan ini tidak populer.
Orang menghendaki Sultan menjadi Gubernur didorong oleh empat motif atau alasan. Yang pertama adalah alasan keistimewaan Yogyakarta. Yang kedua karena beranggapan hanya Sultan yang dapat menjadi Gubernur terbaik bagi warga Yogya. Yang ketiga karena tidak menginginkan orang lain menjadi Gubernur. Yang keempat karena tidak dapat membayangkan Sultan tidak ‘jadi apa-apa’ selain jadi Raja.
Tulisan ini ingin membahas alasan ke-4, kalaupun alasan itu memang ada. Apakah benar dengan tidak menjadi Gubernur atau Presiden dan ‘hanya’ menjadi Raja, maka posisi Sultan menjadi lemah?
Anak Ayam Kehilangan Induk
Selama satu dekade terakhir, masyarakat dalam kondisi kehilangan kepemimpinan dalam kehidupan nyata. Selama tiga dekade Orde Baru berkuasa, kepemimpinan dalam masyarakat yang bersifat tradisional diganti dengan kepemimpinan oleh partai politik dan militer. Rezim Orde Baru tidak ingin para pemimpin tradisional di daerah-daerah yang karismatik dan diakui sebagai pemimpin adat atau pemimpin spiritual memperlemah kepemimpinan Pusat yang dipegang oleh Jenderal Soeharto.
Pada waktu rezim Orde Baru runtuh dan Indoneia memasuki alam demokrasi, masyarakat sudah tidak memiliki kepemimpinan tradisionalnya. Yang ada di masyarakat hanya pemerintah dengan para pejabatnya dan peraturan yang dibuatnya. Tanpa pemimpin tradisional, maka masyarakat hidup bagaikan ‘anak ayam kehilangan induk’.
Masyarakat Yogyakarta tidak terkecuali. Sultan yang semula memegang posisi kepemimpinan tradisional, diangkat menjadi Gubernur. Sebagai Gubernur, Sultan harus tunduk kepada sistem pemerintahan dan masuk ke dalam jaring birokrasi. Dalam posisinya sebagai Gubernur, Sultan berhadapan dengan rakyat sebagai wakil pemerintah serta bertindak sebagai pejabat pemerintah dengan segala kelemahan aparat birokrasinya.
Kalau untuk sejenak kita merasakan denyut nadi masyarakat, terutama masyarakat akar rumput yang tinggal di desa-desa Yogyakarta, maka kita akan memahami keadaan yang sebenarnya. Masyarakat akar rumput tetap merasakan kehadiran Sultan sebagai Raja dan bukan sebagai Gubernur. Perasaan semacam ini sering menimbulkan harapan yang berlebihan (over expectation) terhadap posisi Sultan sebagai Gubernur. Posisi Sultan sebagai Gubernur sering dirancukan dengan posisi Sultan sebagai Raja. Misalnya, seringnya diketengahkan istilah ’ sabda pandhita ratu’ terhadap apa yang diucapkan atau diputuskan oleh Sultan sebagai Gubernur.
Tidak dapat diragukan bahwa masyarakat Yogyakarta, dan juga masyarakat di seluruh Indonesia, mendambakan seorang pemimpin yang dapat menciptakan kesejukan batin, yang dapat memberikan motivasi dan semangat, dapat menunjukkan arah perjalanan hidup, yang dapat memberi teladan serta jujur dan tepercaya.
Sebagai Gubernur, Sultan tidak akan mampu memberikan semua yang didambakan oleh masyarakat tersebut karena potensi kepemimpinan Sultan terbelenggu oleh sistem pemerintahan dan terkendala oleh sistem birokrasi. Dengan Sultan menjabat sebagai Gubernur, maka masyarakat Yogyakarta bagaikan anak ayam yang mendambakan induk tetapi apa daya sang induk terikat oleh seutas tali pada sebuah tonggak yang bernama pemerintahan.
Kekuatan Kepemimpinan Sultan Sebagai Raja
Semua orang mengetahui bahwa sejak zaman dulu, kebudayaan Jawa merupakan kebudayaan yang bersumber dari kraton para raja. Sejak zaman dulu, raja di Jawa bukan hanya bertindak sebagai penguasa tetapi juga menjadi pemimpin kebudayaan dan pemimpin spiritual. Raja dikelilingi oleh para pujangga dan para pelaku spiritual yang arif dan bijaksana. Dari sanalah kebudayaan Jawa berkembang dan merambah masyarakat.
Karena berbagai kendala dan permasalahan serta oleh perkembangan zaman, peran Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pusat kebudayaan sedikit demi sedikit terkikis. Namun demikian, peran Sultan sebagai raja masih tetap dirasakan dan didambakan oleh masyarakat. Kraton sebagai institusi kebudayaan memang telah sangat lemah, tetapi peran raja tetap kuat sampai sekarang.
Kebudayaan merupakan kekuatan dalam masyarakat. Para pakar menyatakan bahwa kebudayaan adalah faktor perekat sosial (social cohesion factor) dan bahkan pembentuk masyarakat. Kebudayaan tidak dapat ditiadakan dari kehidupan masyarakat. Tanpa kehidupan berbudaya akan terjadi chaos atau kalabendhu dalam masyarakat. Itulah yang terjadi di Indonesia sekarang. Yogyakarta tidak terkecuali.
Kebudayaan bukan hanya sekadar kesenian, upacara adat dan peninggalan kuno saja. Inti kebudayaan adalah konsep hidup yang didukung oleh keyakinan, nilai dan norma yang kemudian membentuk etika, etistika dan watak masyarakat. Watak, etika dan etistika terbentuk oleh konsep hidup yang didukung oleh keyakinan, nilai dan norma kebudayaan. Konsep hidup ini merupakan suatu kebutuhan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa serta pelaksanaan pembangunan di masyarakat.
Kebudayaan Jawa dikenal ‘adiluhung’. Sayangnya kebudayaan adiluhung ini tidak lagi dipahami dan diterapkan oleh masyarakat. Watak masyarakat, nilai dan norma dalam masyarakat sudah jauh dari konsep hidup yang ditawarkan oleh kebudayaan Jawa yang adiluhung tadi. Yang tersisa di masyarakat Yogyakarta tinggal kepercayaan dan dambaan terhadap kepemimpinan Sultan sebagai raja.
Ada Serat kuno bernama Serat Kalatidha yang salah satu bagiannya (pada) berbunyi:
Ratune ratu utama,
patihe patih linuwih,
pra nayaka tyas raharja,
panekare becik-becik,
parandene tan dadi,
paliyasing kalabendhu,
mandar mangkin andadra,
rubeda angreribeti,
beda-beda ardaning wong sanegara.
Kalau rajanya, patihnya, pejabatnya dan semua aparat yang hebat itu tidak mampu menanggulangi kalabendhu, lalu siapa yang dapat. Yang dapat menanggulangi kalabendhu adalah rakyat sendiri dengan dipimpin oleh patih wuda (patih telanjang). Patih wuda adalah individu yang telah berhasil melepaskan semua ikatan kepentingan luar dari dirinya. Dia merupakan individu otonom yang hidupnya hanya untuk kepentingan rakyat. Dialah yang mampu merasakan denyut jantung rakyat yang paling lemah sekalipun.
Sultan sebagai raja adalah patih wuda. Berbahagialah masyarakat Yogyakarta masih memiliki seorang pemimpin yang mampu berpikir, bertindak serta memberi teladan sebagai seorang yang telah bebas dari kepentingan-kepentingan yang tidak sejalan dengan kepentingan rakyat.
Senjata dan kesaktian patih wuda tidak lain adalah kebudayaan yang menawarkan konsep hidup berbudaya. Kebudayaan Jawa menawarkan konsep hidup Memayu Hayuning Bawana. Konsep hidup ini juga merupakan tujuan hidup yang didukung oleh upaya Memayu Hayuning Pribadi dan Memayu Hayuning Bebrayan.
Kalau saja konsep hidup Jawa ini diperkenalkan serta digalakkan kembali kepada masyarakat, maka pembangunan yang diperankan oleh rakyat akan berhasil. Rakyat yang telah berhasil Memayu Hayung Pribadi dan berhasil Memayu Hayuning Bebrayan akan mampu memilih anggota legislatif dan eksekutif yang benar dengan cara yang juga benar. Masyarakat yang demikian inilah yang dinamakan masyarakat madani.
Bagi Yogyakarta, kemungkinan tercapainya cita-cita Memayu Hayuning Bawana akan lebih nyata di bawah kepemimpinan Sultan sebagai Raja dari pada Sultan sebagai Gubernur atau bahkan sebagai Presiden R.I.
Konsep hidup Memayu Hayuning Bawana merupakan konsep hidup universil. Dengan demikian konsep ini dapat ‘dijual’ ke seluruh wilayah Indonesia dan bahkan juga ke seluruh dunia. Memayu Hayuning Bawana dapat diterapkan sebagai Konsep Pembangunan Berkelanjutan (sustainable development). Sebagai pendukung, konsep Memayu Hayuning Pribadi merupakan konsep pembangunan manusia (human development) yang efektip. Memayu Hayuning Bebrayan adalah konsep pembangunan sosial yang juga universil.
Dengan bermodal konsep Pembangunan Memayu Hayuning Bawana tadi, maka peran Sultan tidak terbatas di Yogyakarta, tetapi dapat meluas kewilayah Indonesia yang lain, dan bahkan ke seluruh dunia. Dengan adanya fenomena global warming, adanya krisis ekonomi yang bersumber pada kerakusan korporasi, dengan perang etnis di mana-mana serta kelaparan di Dunia Ketiga, maka dengan berbekal kebudayaan, Sultan sebagai Raja akan menjadi tokoh dunia yang dihormati. Mengapa tidak? q - m. (4688-2008).
Rachman Wiriosudarmo, alumnus
ITB Bandung 1963,Pemerhati masalah sosial-budayatinggal di Desa Purwobinangun
Kec Pakem, Sleman, DIY.
sumber berita
Pentolan pemuda Tanah Abang, Hercules, beserta 7 anak buahnya ditetapkan menjadi tersangka dan ditahan terkait kasus penganiayaan di Hotel Peninsula, Jakarta Barat. Hercules pun mengajukan penangguhan penahanan.
"Kami meminta kepada polisi untuk memberikan penangguhan penahanan. Karena saat kejadian, Hercules tidak terlibat dan berada di lantai 2," kata kuasa hukum Hercules, Teddy Sirajuddin, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat, Jalan S Parman, Jakarta, Senin (10/11/2008).
Dikatakan dia, Hercules saat ini masih ditahan Polres Jakarta Barat dan sudah dijadikan tersangka beserta 7 anak buahnya.
Hercules dikenai pasal 361 KUHP tentang penganiayaan dan pasal 170 tentang pengeroyokan. Kepolisian menuduh Hercules terlibat dalam kasus penusukan di Hotel Peninsula, Slipi, pada Sabtu 8 November 2008 pukul 23.00 WIB.
"Kalau menurut klien saya, saat itu Hercules sedang berada di lantai 2 menemui tamunya. Tiba-tiba sekitar pukul 23.00 WIB, ada keributan di lobi hotel. Hercules turun ke bawah untuk melerai anak buahnya. Jadi nggak benar kalau Hercules terlibat dalam pengeroyokan tersebut," papar dia.
Teddy memaparkan, peristiwa tersebut berawal saat anak buah Hercules diminta untuk mengawal atau menjaga pengamanan seorang pengusaha bernama Budiyanto.
Budiyanto saat itu akan bertemu pengusaha Deny yang membawa preman dari kelompok Matias cs. Budiyanto dan Deny bertemu terkait utang piutang. Tetapi, Budiyanto mengaku terlibat utang piutang karena disiksa dan diculik serta diminta membuat surat utang Rp 100 juta.
"Pertemuan itu memang rencananya ingin diselesaikan secara kekeluargaan. Entah siapa yang memulai tiba-tiba terjadi perkelahian. Seorang anggota polisi juga sempat menodongkan pistol ke arah Budiyanto dengan alasan untuk melerai," ujarnya.
Pengamatan detikcom, puluhan anak buah Hercules tampak memenuhi Polres Jakarta Barat, Jalan S Parman.(detikcom)
by : Stevie Saputra
Eksekusi tetap dilakukan sebelum 15 November 2008
UPAYA hukum yang dilakukan tiga terpidana mati bom Bali I yakni Amrozi, Ali Gufron alias Mukhlas, dan Abdul Aziz alias Imam Samudra yang melakukan peninjauan kembali (PK) lewat Tim Pengacara Muslim (TPM) tidak akan menghentikan proses eksekusi mati terhadap ketiganya.
Upaya TPM untuk mengajukan PK ketiganya juga diperkirakan akan sia-sia lantaran Undang-Undang Mahkamah Agung (MA) menyatakan, PK hanya dapat diajukan satu kali saja.
"UU MA menyatakan, PK hanya bisa dilakukan sekali. Tidak bisa dilakukan lebih dari itu," kata Wakil Ketua MA, Harifin A Tumpa Harifin di Jakarta, Senin (3/10).
Dalam kasus bom Bali, MA telah menerbitkan berkas putusan mengenai penolakan PK yang diajukan ketiganya. Putusan PK tersebut sekaligus membantah klaim TPM yang menyatakan kliennya belum menerima satu pun salinan berkas PK sehingga eksekusi mati terhadap Amrozi cs yang akan dilakukan awal November 2008 ini tidak berdasarkan putusan hukum yang jelas.
Juru Bicara MA Djoko Sarwoko menegaskan, pengajuan PK juga tidak bisa menangguhkan eksekusi. menurut Djoko, dalam UU KUHAP, UU MA dan UU Kekuasaan Kehakiman, diatur bahwa pengajuan PK hanya dapat dilakukan sekali saja untuk kasus yang sama. "Setidaknya ada tiga UU yang menyatakan PK hanya diajukan satu kali," katanya.
Kejaksaan Agung menegaskan kembali tak ada lagi alasan hukum untuk menunda eksekusi mati Amrozi dkk. Pelaksanaan eksekusi tetap sesuai rencana, sebelum tanggal 15 November 2008. “Terkait adanya PK sebagaimana diberitakan, boleh-boleh aja. Tapi secara hukum tak bisa menunda eksekusi. Kan semua proses hukum sudah dilalui,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung M Jasman Panjaitan di Jakarta, kemarin.
Dia menyampaikan, Amrozi dkk sudah tiga kali mengajukan PK ke MA. Dua di antaranya ditolak, dan satunya dicabut kembali. Terakhir, terkait perkara Amrozi dkk, pada 7 Juni 2008 MA mengeluarkan surat keterangan bahwa PK atas suatu putusan hanya dapat diajukan satu kali.
Surat MA itu didasarkan pada Ayat (3) Pasal 268 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Hal sama juga diatur dalam Pasal 66 Ayat (1) UU Nomor 51/2004 jo UU Nomor 14/1985. “Itulah ketentuan UU yang berlaku, bahwa sudah tak ada lagi alasan hukum yang dapat menunda eksekusi,” kata Jasman.
Tetap Ajukan PK
Kemarin, pihak keluarga terpidana mati Bom Bali I, Amrozi dan Ali Gufron dengan didampingi anggota TPM mengajukan PK ke Pengadilan Negeri (PN) Denpasar. Keluarga Amrozi yang diwakili kakak kandung Amrozi, Djakfar Sodiq dan anggota TPM Jawa Timur, Imam Asmara Hadi diterima Sekretaris Panitera PN Denpasar, Gusti Ngurah Arya Winaya.
"Pengajuan PK ini saya terima, namun ini adalah kewenangan MA, kami akan segera mengirimkannya ke MA," kata Arya Winaya seperti dikutip Antara.
Imam Asmara Hadi, mengatakan PK ini diajukan pihak keluarga Amrozi dan Ali Gufron karena mereka menilai PK yang selama ini diajukan tidak sah menurut hukum acara. "Saya hanya mendampingi keluarga yakni Ustadz Djakfar yang mengajukan PK keempat oleh pihak keluarga," kata Asmara Hadi.
Penjagaan Ketat
Menjelang pelaksanaan eksekusi bagi Amrozi dkk aparat dari Brimob dan Polres Cilacap memberlakukan penjagaan ketat di Dermaga Wijayapura Cilacap, Senin (3/11) siang.
Radius 20 meter dari gerbang masuk dermaga, aparat memasang pembatas kawat berduri. Sejumlah kendaraan operasional milik beberapa media televisi yang berada di dalam radius tersebut terpaksa harus dipindahkan. Sebagai penjagaan tambahan, sejumlah anjing pelacak dari Kompi 9 Polwil Banyumas juga turut dilibatkan.
Seperti biasanya, Kepala Satuan Objek Vital Polres Cilacap, Ajun Komisaris Elvis Umbu Tellu yang memimpin kegiatan tersebut menolak memberikan pernyataan kepada media. “Maaf. Saya tidak berhak memberikan keterangan. Silahkan hubungi pimpinan kami yang lebih berwenang,” kata Elvis.
Sedikit selisih paham sempat terjadi pada Senin pagi. Kunjungan keluarga para terpidana mati yang dijadwalkan akan menyeberang ke Lembaga Permasyarakatan (LP) Batu pada pukul 09.00 Wib, dilarang oleh pihak LP.
Menurut TPM pemberian ijin masuk kepada keluarga dan pengacara terpidana Bom Bali I telah diambil alih oleh Kejaksaan Agung.
"Kami kecewa. Jelas sangat kecewa. Cuma memang ini kapasitas TPM untuk berbicara. Kita tidak perlu berandai-andai yang jelas kakak saya (Amrozi) minta kami supaya menemuinya di LP Batu," kata Ali Fauzi, adik kandung Amrozi.
Ali tiba di Cilacap sekitar pukul 03.00 WIB Senin pagi dan bersama dengan rombongan keluarga Amrozi lainnya termasuk keluarga Imam Samudra dan Ali Gufron serta beberapa staf TPM pada pukul 09.30 WIB berencana mengunjungi para terpidana mati.
Disinggung soal apakah pihak keluarga telah mendapatkan ijin untuk masuk ke Nusakambangan. Salah satu pengacara TPM, Achmad Michdan menegaskan sampai pagi tadi belum menerima ijin tersebut. Meski demikian ia mengaku akan melakukan lobi jika ijin tidak diberikan. Karena ijin tetap tidak diberikan hingga pukul 15.00, keluarga dan TPM akhirnya mengadakan jumpa pers dan menyatakan akan menempuh jalur hukum jika para pelaku Bom Bali I ini tetap dieksekusi mati.
Tak Ada Intervensi Asing
Ketua DPR Agung Laksono membantah kedatangan Ketua Parlemen Australia Harry Jenkins sebagai bentuk intervensi negeri kanguru atas rencana eksekusi Amrozi cs. "Sema sekali tidak ada upaya menekan agar segera mengeksekusi," kata Agung usai menerima delegasi Parlemen Australia di Gedung MPR/DPR, Senin (3/11).
Parlemen Australia, kata Agung, menilai rencana mengeksekusi tiga terpidana pelaku bom Bali sebagai masalah internal Indonesia. Mereka justru memberi apresiasi yang tinggi terhadap langkah hukum yang telah dilakukan pemerintah Indonesia terhadap para pelaku pengeboman. "Australia cukup puas," kata Agung.
Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Adang Firman mengatakan, wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya kini berstatus siaga satu menjelang pelaksanaan eksekusi tiga terpidana mati Bom Bali I.
"Kami sudah lakukan pengamanan sejumlah obyek vital, seperti kedutaan besar, pusat perbelanjaan dan mal-mal, pokoknya semua obyek vital," kata Adang seusai menghadiri upacara serahterima jabatan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) di Jakarta, kemarin.
Dia menegaskan, pemberlakuan status siaga I bagi Jakarta dan sekitarnya mulai diterapkan sejak 1 November 2008 sampai situasi benar-benar dianggap kondusif.
Markas Besar Kepolisian RI telagh menginstruksikan kepada seluruh Polda untuk meningkatkan pengamanan jelang pelaksanaan eksekusi terhadap tiga terpidana mati Bom Bali I.
Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira, menolak jika persiapan ini dikatakan sebagai bentuk ketakutan. "Kita memang mewaspadai, tapi tidak ada yang menakutkan, kita biasa saja," tegasnya.
Mengenai bentuk pengamanan, Mabes Polri menyerahkan semuanya ke masing-masing Polda. Pengamanan ketat tak hanya diberlakukan di Nusakambangan, tetapi hampir di seluruh lokasi penting dan pusat keramaian di wilayah Indonesia, seperti mal, pembangkit listrik, pelabuhan, bandara dan taman hiburan
Sementara itu, Jaksa Agung Hendarman Supandji menolak memberikan komentar terkait pelaksanaan eksekusi mati Amrozi dkk. "Hari ini tidak ada keterangan dari saya," ujarnya singkat kepada pers usai menghadiri Presidential Lecture Pangeran Charles di Istana Merdeka, Senin (3/11).
http://jurnalnasional.com
Australia mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya yang ingin melakukan perjalanan ke Indonesia pada saat makin dekatnya waktu pelaksanaan hukuman mati terpidana Bom Bali I, Amrozi dan kawan-kawan (dkk). "Kami menganjurkan agar warga Australia mempertimbangkan kembali keinginan mereka mengadakan perjalanan ke Indonesia," kata Menteri Luar Negeri Australia Stephen Smith dalam wawancaranya dengan televisi Nine Network.
"Kami juga mengarahkan ke mereka (warga Australia) agar menjauh dari lokasi yang dijadikan sebagai target serangan teroris pada masa lalu apabila mereka tetap melakukan perjalanan ke Bali atau Indonesia," tambah Stephen Smith. Peringatan itu dikeluarkan Australia mengingat makin dekatnya pelaksanaan hukuman mati Amrozi dkk atas keterlibatannya dalam kasus bom Bali pada tahun 2002 yang menewaskan 202 orang.
Sementara pemerintah provinsi Bali juga telah memperketat pengamanan di sejumlah kedutaan besar, lokasi yang kerap dikunjungi oleh wisatawan, pusat perbelanjaan serta pelabuhan menjelang eksekusi Amrozi dkk. Jumlah aparat polisi tambahan yang telah dikerahkan ke jalan-jalan di Bali mencapai hingga 3.500 personil.
Serangan bom Bali pertama ditargetkan ke beberapa tempat hiburan malam yang dipadati oleh sejumlah turis Barat. Serangan itu menewaskan lebih dari 160 turis asing termasuk diantaranya 88 warga Australia.
sumber
Rektor Universitas Indonesia Gumilar Rusliwa menegaskan kasus pelecehan seks yang dilakukan dosen senior Fakultas Hukum UI Terhadap mahasiswanya telah di proses di Polda Metro Jaya. Pihaknya tinggal menunggu proses hukum dari pihak kepolisiaan.
"Apabila proses hukum menyatakan terbukti, UI akan mengambil tindakan tegas," kata Gumilar di kampus UI Depok, Senin, 3 November 2008.
Dijelaskannya, aturan di kampus UI sudah cukup jelas dalam kasus pelecehan seks atau perbuatan asusila ini. Bila terbukti, pihaknya tidak akan mentolerir atas kejadian ini.
Untuk menyelidiki fakta-fakta kasus ini, UI telah membentuk tim Panitia Penyelesaian Pelanggaran Tata Tertib (P3T). Tim akan menentukan sikap dan mengambil langkah - langkah, bila polisi menyatakan yang bersangkutan terbukti melakukan tindakan asusila.
Menyangkut nama baik dosen yang bersangkutan, UI hati-hati untuk mengambil langkah yang tepat. "Saat ini UI menunggu hasil investigasi polisi, dan mengikuti aturan hukum yang ada," katanya.
Dijelaskan Gumilar, UI mendukung apapun yang dilakukan polisi. Untuk memperlancar pemeriksaan tersebut, UI telah menghentikan tugasnya, sampai ada hasil dari polisi. "Sampai saat ini baru satu mahasiswi yang lapor ke pihak kampus terkait dugaan pelecehan tersebut," katanya. Sementara tindakan tegas terhadap dosen Fakultas Hukum tersebut, akan menunggu hasil pemeriksaan polisi secara pidana.
sumber
