Tampilkan postingan dengan label hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hiburan. Tampilkan semua postingan
| 1 komentar ]



THE SIGIT - NEW GENERATION

We are the noodle generation
Our foods are made of preservation
We don’t need your education
Things not set in proportion


Look around in our perspective
Don’t acting to naive
You know it’s all tentative
You know dogfoods are expensive

We are the starving brain
We are the naked in the rain
This is no heaven sends
The new generation end

We are the hooker generation
We don’t need your education
I only count my intuition
Things are going malfunction

Look around in our perspective
Don’t acting to naïve
You know it’s all tentative
You know dogfoods are expensive

We are the starving brain
We are the naked in the rain
This is no heaven sends
The new generation end

Baca selengkapnya......
| 9 komentar ]

kusimpan rindu dihati
gelisah tak menentu
berawal dari,kita bertemu
kau takkan kulupa

berawal, dari berteman
sungguh kusuka
hanya padamu, kubersumpah
kau akan kujaga

Kuingin kau tahu ku mencintaimu
Kuingin kau tahu ku menyayangimu
Walau adanya diri ini sayang

Memang jalan hidup kita berbeda
Aku hanyalah punk rock jalanan
Namun salahkah diriku mencintaimu

Kutunggu kau kutunggu
Kunanti kau kunanti
Walau adanya diri ini sayang

Dari insan biasa
Yang tak luput dari cinta
Namun salahkah bila ku mencintaimu

Baca selengkapnya......
| 1 komentar ]

ribuan kata telah tercipta
perubahan telah tiada
berteriak ku dengan lantang
tetapi hampa tak terdengar

bersatu bergerak
jangan berpangku tangan
bersatu bangkitlah
kita buat perubahan... !!!

hai punk
satukan langkah
temukan arah perjuangan
hai punk
tetap teriak, nyanyikan kebenaran
hai punk
jangan menyerah dengan kata perubahan
hai punk
jangan bercinta dan main band saja

bersatu bergerak
jangan berpangku tangan
bersatu bangkitlah
kita buat perubahan... !!!

hai punk
satukan langkah
temukan arah perjuangan
hai punk
tetap teriak, nyanyikan kebenaran
hai punk
jangan menyerah dengan kata perubahan
hai punk
jangan bercinta dan main band saja

Baca selengkapnya......
| 21 komentar ]

Ahmad Zaki (Pengasuh Punk Muslim)

Inilah fenomena baru: ngaji di kalangan anak Punk. Mereka mengeindetitaskan pengajian komunitas underground itu dengan sebutan Punk Moslem.

Adalah Ahmad Zaki, menyisihkan waktunya untuk mengasuh anak-anak punk belajar membaca Al Qur'an. Zaki, menaruh harapan besar, generasi muda ini kelak menjadi agen perubahan untuk menularkan kebaikan kepada rekan-rekan sesama anak-anak punk.

Pergumulan Zaki dengan komunitas anak-anak punk bermula ketika ia bergaul dengan teman-teman komunitas punk di kawasan Pulo Gadung, Ramadhan setahun yang lalu (2007). Ketika itu, Zaki menjadi Event Organigizer (EO) sebuah pertunjukan musik di sebuah kampus. Ia sering mengundang komunitas punk dalam kegiatan pertunjukan musik di mall-mall, kampus dan sekolah-sekolah.

Saat itulah Zaki mendapat tempat di hati anak-anak punk. Mereka sering bertanya, kapan ada job lagi, maksudnya agenda ngeband. "Mereka yakin, secara materi bisa mendapatkan sesuatu, setelah saya menjadi marketing kelompok band mereka," ujar Zaki mengenang.

Zaki yang aktif di Dompet Dhuafa (DD) rupanya telah mengamati perkembangan anak-anak punk yang acapkali nongkrong di jalan-jalan ini. Meski Zaki bukan anak jalanan, ia merasa terpanggil untuk berdakwah di komunitas anak-anak punk."Dulu, saya pernah pernah bandel. Setidak-tidaknya, saya tahu kehidupan mereka," kilahnya.

Di komunitas band underground itulah, Zaki bertemu dengan (alm) Budi Khaironi, orang yang paling disegani di komunitas punk tersebut. Sebelum meninggal akibat kecelakan motor (Maret 2007), Zaki teringat kata-kata yang pernah diucapkan pimpinan komunitas punk itu: "Bang Zaki, tolong bimbing teman-teman kami (secara spiritual)."

Lalu siapa sesungguhnya Budi Khaeroni (32)? Dia adalah anak jalanan jebolan pesantren yang terjun ke jalan. Selain ngeband dan mengamen, Budi pernah menjadi Ketua Panji (Persaudaaran Anak Jalanan Indonesia).

Perlu diketahui, setiap wilayah di Indonesia, mereka punya persaudaraan, komunitasnya sekitar 5000-an, rata-rata muslim. Jika ada teman-teman yang terjaring trantib, Budi-lah yang mengurus untuk membebaskan rekannya itu. Di usia muda, tepatnya 23 Mei 2007 lalu, Budi meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas, meskipun sempat dirawat selama tiga hari di RS. UKI.

Komunitas Punk Moeslem rupanya mulai banyak jaringannya. "Kalau ikut komunitas mereka di Tangerang, shalat Jumat, misalnya, khotibnya pun dari kemunitas mereka sendiri, gayanya metal abis. Termasuk jamaahnya. Memang, nggak semuanya punk, alirannya beragam, ada yang beraliran regge, alternatif, rap, dan aliran musik lainnya," kata Zaki.

Ternyata Budi tidak sendiri. Ada seorang rekan yang memiliki misi sama untuk mengisi ladang dakwah ini di tengah komunitas anak punk. Ia adalah Bowo, anak kiai jebolan pesantren yang juga habis waktunya di jalan. Sejak itulah, Zaki merasa mendapat dukungan penuh.

"Kalau bukan kita siapa lagi yang akan berdakwah di kalangan anak jalanan. Kalau mau dakwah di komunitas anak jalanan, elu harus main di jalanan. Jika berdakwah di komunitas punk, elu tidak bisa pake baju koko, yang menunjukan kesalehan," begitu Bowo pernah berujar.

Sebagai generasi punk yang tobat, Budi dan Bowo merasa prihatin dan gerah melihat teman-teman yang mengalami disorientasi dalam hidupnya.

"Kini banyak bermunculan generasi punk yang tidak jelas, apakah punk ideologis atau punk modis. Kalau tahun 1994, banyak punk ideologis. Mereka benar-benar punk. Sekarang sekadar punk mode," kata Zaki.

Keprihatinan itulah yang mendorong Zaki, Budi dan Bowo menarik anak-anak punk yang sudah bosan dengan jalan hidupnya. Ngeband dan mengaji adalah kultur baru yang hendak ditularkan ke generasi punk. Mereka menyebut identitas kelompoknya dengan sebutan punk Moeslem. Saat ngeband, syairnya pun bernuansakan Islami. Ketika Islam menjadi basic, mereka mulai malu saat berbuat maksiat.

Punk Moslem lahir karena keprihatinan seorang Budi (alm), akan kondisi pemuda yang berada dikomunitas Punk, hidup tanpa orientasi (anti kemapanan) dan meninggalkan agamanya. Punk Moslem itu didirikan sejak Ramadhan 1427 H (2007). Sebelum berdiri Punk Moslem, Budi sempat mendirikan Warung Udix Band yang berdiri 7 tahun yang lalu dan sempat mengeluarkan album indielabel "Anak Bayangan". Di Warung Udix, ia merekrut anak-anak punk dan mengajarkan pendidikan Islam.

"Kalau orang bangga dengan kemusrikan dan dosa-dosa yang mereka lakukan, tapi punk moeslem bangga dengan agama mereka (Islam). Biar mereka anak jalanan, brutal, tapi anak-anak punk moeslem tetap punya Tuhan. Ketika teman-teman menamakan dirinya punk muslim, ada sebagian komunitas yang menolak punk muslim secara tegas. Mereka berkilah, tidak ada tuh anak punk yang punya tuhan atau ideologis."

Setelah ngeband, anak-anak punk merasa ada sesuatu yang kosong. Sejak 4-5 bulan yang lalu, dibuatlah pengajian rutin. Setiap malam Jumat, diadakan taklim, bentuknya seperti mentoring. Sedangkan Selasa malam, belajar tahsin. Mulanya hanya lima anak yang ngaji, kemudian berkembang menjadi 20 orang, laki-laki dan perempuan. Kini, ngaji bagi mereka adalah sebuah kebutuhan.

Awalnya mereka ada yang atheis. Sampai-sampai ada yang guyon, ah..gue mau masuk Islam atau Kristen dulu. Karena bagi mereka, agama bukanlah sesuatu yang sakral. Kalau pas ngamen, cuma dapat Rp. 300, diantara mereka ada yang teriak: "Allah Maha Pelit". Setelah dibina, anak itu meyakini Allah itu tidak pelit. Tak ada jalan lain, cara membina mereka adalah dengan cara mendoktrin.

"Ketika anak-anak punk sudah menganggap ngaji sebagai kebutuhan, mereka mengirim pesan singkat (sms), malam ini ngaji nggak? Yang jelas, saya tidak ingin mereka merasa sedang diarahkan untuk masuk sebuah pergerakan atau kelompok harakah tertentu. Saat ini, pengajian kami memang belum ada namanya. Paling-paling, teman-teman menyebut pengajian ini pengajiannya punk moeslem."

Zaki menargetkan untuk lebih focus membina 20 anak yang rutin mengaji. Suatu ketika, mereka akan merekrut rekan-rekannya sendiri. Syukur-syukur jaringan ini bisa menyebar lagi. Rencananya, awal Juni ini Zaki akan memberi daurah (pelatihan) di puncak. Dari 20 anak yang mengaji, separuhnya sudah ada yang lancar membaca al Quran.

Meski Zaki bekerja di sebuah lembaga sosial (DD), ia tak diminta untuk berdakwah atas nama institusinya. Secara pribadi, Zaki merasa terpanggil. Tak sia-siaa, hasil dari dakwah itu, tak sedikit anak-anak punk yang hijrah dan mulai pandai mengaji. Sebut saja, Lutfie yang meninggalkan dunia obat dan minuman keras. "Harapan saya ke depan, mereka dapat menjadi agen perubahan bagi teman-teman yang lain," jelas Zaki.

Bukan rahasia umum, anak jalanan kerap dianggap tidak produktif, bahkan dicap sampah masyarakat. Orang kalau berdakwah di masjid itu biasa. Tapi bagaimana jika berdakwah di komunitas anak-anak punk?

Zaki, Budi, dan Bowo adalah segelintir yang mengambil pilihan itu.

Oleh Adhes Satria

Baca selengkapnya......
| 5 komentar ]

BAGAIMANA “Marjinal” merayakan ulangtahunnya? Grup punk asal Jakarta ini, sekaligus komunitasnya Sapibetina, bikin acara di Newseum, sebuah cafe-bar di jalan veteran, dekat masjid Istiqlal tapi juga bersebelahan markas besar militer Indonesia. Pilihan tempat ini, yang jauh dari kesan komunitas punk, terdengar dilematis. Namun, Helmi Haska, media campaign komunitas tersebut, mengatakan pada saya bahwa itu sebagai bentuk memperluas “ruang-ruang ekspresi kesenian” punk. Haska penulis buku “Bob Marley: Rasta, Reggae. Revolusi.” Ia juga editor blog Marjinal serta pengelola zine “Black Cat.” Zine sejenis newsletter yang dibangun atas dasar semangat indie, berlawanan dengan maga-zine. Zine umumnya fotokopin, hitam-putih, ukuran kecil. Black Cat sendiri sudah terbit dua edisi.

Acara ulangtahun ke-12 itu pada malam 22 Desember kemarin, bertepatan dengan apa yang orang santer sebut “hari Ibu.” Taufik Rahzen, pemilik cafe itu, membuka acara dengan mengatakan tanggal itu juga hari lahir anak semata wayangnya. Dia juga bercerita soal ibunya yang baru saja sembuh dari rawat rumahsakit, yang sepanjang usia baru kali itu dirawat. Rahzen seorang yang sangat sayang dengan ibunda dan anaknya.

Giliran Mike didaulat bicara di atas panggung. Dia bilang “sangat berterimakasih” pada semua hadirin yang datang. Dia ditemani Bobby, basist Marjinal, serta seorang yang memainkan akordeon dan drummer Adit. Mereka menyanyi sebentar, sebuah lagu tentang ibu dan ‘Bebaskan’—satu lagu dari album ‘Predator.’ Selagi mereka bernyanyi, slide gambar memancar ke dinding panggung dari sebuah infokus yang terhubung ke laptop di atas meja bar. Gambar-gambar itu rangkaian desain bikinan Bobby. Kesannya artistik saat cahaya dari berbagai desain itu menimpa wajah orang-orang di atas panggung.

Bobby, selain jago menato, adalah tulangpunggung desain kaos-kaos Marjinal. Dia membikinnya dengan teknik cukil kayu. Ini memainkan gradasi warna hitam dan putih. Selain kaos, ada juga aksesoris lain berupa pin maupun emblem, dijual melalui jejaring indie. Di acara ini, di dekat ujung tangga, Imam, anak Pekalongan, bertugas menjual berbagai kreasi Marjinal tersebut. Ada yang membeli, ada juga yang sekadar melihat-lihat.

Ada acara potong kue. Bagi-bagi nasi kucing. Juga minum teh dan kopi. Seiring malam, pengunjung makin padat memenuhi ruangan cafe.

Mereka anak-anak muda. Celana ketat. Rambut mohawk. Sepatu sneaker. Tapi banyak juga yang tampilan biasa. Adik Bobby, yang jago IT, dikenalkan pada saya seperti ‘Truman Capote’—kacamata minus tebal. Saya juga bertemu dengan Yudhistira Ananta Toer, anak bungsu Pram, yang menemani anaknya, Adit. Keluarga Pram memang dekat dengan Marjinal.

Mujib Hermani, saudara kandung Rahzen, datang dengan keluarganya. Mujib anak muda yang tergolong dekat dengan keluarga Pram. Muhidin M. Dahlan, penulis prolog buku-buku Pram terbitan Lentera Dipantara, menyebut Mujib sebagai “anak ideologi” Pram. Mujib pula yang memperkenalkan ide-ide pemikiran Pram dengan Marjinal dan belakangan mereka seperti saudara. Saya sendiri merasakan acara ulangtahun tersebut seperti acara keluarga.

Ada juga pemutaran video dokumenter tentang komunitas Sapibetina. Mike bilang video tersebut dibikin oleh Aji, seorang mahasiswa dari BSI untuk tugas akhirnya. Lalu. pada kesempatan itu diputar juga film Punk Im Hungel (Punk di Hutan Rimba) karya Andreas Greiger dari Jerman, yang tahun lalu ditayangkan televisi Jerman, DW Tv, merupakan reportase tour band CBU (Cluster Bomb Unit) di beberapa daerah di tanah air, serta liputan terhadap scene punk di beberapa scene punk di Jakarta. tak hanya tentang Marjinal. Pemutaran film tersebut, kata Mike di saat saya pamit pulang, merupakan bentuk anti-kritik terhadap sebagian komunitas punk yang mempermasalahkan Marjinal masuk televisi. Dokumenter itu menyiarkan kelompok punk penentang Marjinal. ”Mereka juga masuk tivi kan?!” kata Mike.

Ini sebetulnya masalah lama, lebih dari setahun lalu. Saat itu Marjinal ditentang karena menerima kru RCTI membuat dokumentasi komunitasnya. Film tersebut diputar untuk acara “Urban,” sebuah program baru dari televisi swasta itu, yang belakangan tak bertahan lama. Durasinya 30 menit, sebagian dipotong untuk iklan. Di akhir tayangan ia memperlihatkan para street punks dikejar-kejar polisi di wilayah Blok M. Oleh sebagian komunitas punk, gambar tersebut “dipermasalahkan.”

Marjinal dan Taring Babi bukannya tanpa protes. Mereka minta reporter “Urban” menyerahkan rekaman secara utuh. Tapi, setahu saya, ini tidak ditanggapi. Perdebatan makin tak sehat karena Eko dari Bunga Hitam, yang memasalahkan kejadian itu, menyebarkan kampanye negatif terhadap Marjinal. Misalnya, Marjinal menjelek-jelekkan Anto Baret, seniman gaek jalanan yang memiliki “warung apresiasi’ di Bulungan.

Ini tak benar. Saya pernah bertemu Anto Baret dan bahkan dia tidak tahu sama sekali akan kampanye tersebut. Intinya, Marjinal dianggap dekat dengan komunitas Taman Ismail Marzuki. Adapun “Wapres” adalah tempat kesenian lain lagi di Jakarta Selatan. Mike dan Haska maupun Mujib berasumsi bahwa kampanye negatif itu dibikin agar ada anggapan Marjinal “punya musuh” dengan Bulungan. Sasarannya untuk para punker yang awam, yang mudah diasut, untuk ikutan “memusuhi” atau “menjauhi” Marjinal. Nyatanya, penulis Chavcay Syaifullah yang dekat dengan Anto Baret mengatakan kampanye tersebut adalah “omong besar.” Marjinal bahkan ikut main acara ulangtahun KPJ, kelompok pengamen jalanan yang didirikan Anto Baret.

Persoalan ini jadi kacau karena stasiun yang menyiarkan dokumentasi itu juga tak punya kesan tanggungjawab terhadap liputannya. Ada kesan tayangan itu dibikin lebih “dramatis.” Misalnya banyak pernyataan Mike tentang street punk yang dipotong, yang konteks ucapannya “Street punk adalah kawan-kawan yang tengah mencari jati dirinya.” Umumnya street punk adalah anak usia remaja, yang putus sekolah, menjadi pengamen dan merasa menemukan jatidiri dari musik atau lagu-lagu punk.

Tentu saja, “dramatisasi” yang kental muncul dari gambar punker yang dikejar-kejar itu. Kesannya memang mereka dianggap seperti penjahat, atau dalam kamus birokrasi Indopahit disebut “sampah masyarakat.” Tayangan itu akhirnya jatuh dalam stigmatisasi, sesuatu yang dilawan kelompok Taring Babi selama ini, bahwa punk itu jahat, berdosa—pokoknya yang berkonotasi negatif, dan penilainnya cuma hitam-putih. Pendek kata, tayangan itu memberikan kesan monoton: Marjinal dianggap punk yang baik, sementra street punks buruk. Padahal dunia punk tak sesederhana itu. Saya kira media di Jakarta harus mulai memikirkan tanggungjawab terhadap liputan-liputannya. Paling tidak mereka punya ombudsman yang bisa jadi tempat warga mengadu!

Bagi saya sendiri, punk dekat dengan media tak perlu dijadikan suatu soal yang aneh. Yang penting mereka bisa menjaga identitasnya dari sistem mapan itu. Tidak meninggalkan lingkungan pinggiran mereka yang selama ini menjadi tempat lahir dan sumber kreasi serta relasi sosial juga pilihan politisnya. Relasi media diperlukan untuk menyebarkan gagasan punk, yakni ‘Do it Yourself’—sebagaimana ucapan David Bryne, leader grup punk Talking Heads juga legenda punk New York pada BBC TV tahun 1995. Mereka memasuki sistem yang mapan, media mainstream, justru untuk menyebarkan gugatan terhadap kemapanan yang hipokrit. Marjinal bahkan diliput oleh radio Voice of Human Rights dan juga terakhir ia muncul dalam tayangan Elshinta TV.

Andy Bennett dalam “Culture of Popular Music,” menuturkan punk London bahkan memiliki hubungan dekat dengan media. Ini merujuk perbedaan dengan grup punk dari New York, awal kelahiran musik punk tahun 60an, yang memilih menghindari bahkan bersikap antipati terhadap media. Musik punk memang kemudian lebih populer di tanah Inggris, melalui kehadiran Sex Pistols dengan apa yang disebut gelombang perlawanan ‘Anarchy in U.K.’ Banyak anggapan salah soal sejarah musik punk karena kepopuleran ini.

Dalam tulisan saya, yang diminta Helmi Haska untuk zine “Black Cat’ edisi ketiga nanti, saya mengutip istilah Claire Holt, pemikir kesenian Indonesia dari Cornell University, untuk menyamakan situasi pengalaman musik Marjinal dengan perkembangan berbagai seni tradisi di nusantara. Saya mengutip apa yang disebut Holt “gerak osmosis,” yaitu proses kebudayaan dari luar yang tidak asal diduplikat mentah-mentah. Ada selalu pengaruh asing yang muncul, misalnya pengaruh India pada cerita Ramayana versi Jawa. Tapi hikayat Ramayana Jawa tetaplah milik folklore Jawa.

Ini terjadi juga dalam Marjinal. Musik punk, yang hukum bakunya memainkan dua not nada menjadi semacam hukum univeral. Dalam Marjinal hal itu senantiasa ada, tapi lagu-lagu Marjinal menggunakan bahasa Melayu, juga ada sejenis harmonisasi. Lagu-lagu Marjinal bukan asal musik keras, vokal gahar, dan teriak-teriak yang melenting jauh dari titik-titik nada. Mereka paham akan harmonisasi. Lagu ‘Luka Kita’ tentang duka tsunami Aceh, misalnya, memakai koor anak-anak kampung sekitar kontrakan mereka, Setu Babakan, juga sebelumnya diiringi petikan gitar akustik dan bahkan ditutup suara dentuman dari ember plastik!

Mereka juga menyitir anekdot Betawi macam ‘ngehe’ atau ‘madikipe.’ Mereka bilang globalisasi itu ‘tai laso’—kata umpatan dari Manado. Mereka juga memakai istilah rakyat Makassar untuk menyebut gotong-royong, ‘Rencong Mak Rencong’ sebagai judul lagu tentang persaudaran interpersonal antar rakyat kecil. Dalam satu desain bikinan Bobby, sepotong wajah Che Guevara memakai baret yang terkenal itu, diadopsi menjadi wajah Benyamin Sueb. Jakmania, suporter Persija, suka mengibar-ibarkan baliho wajah ‘Che Ben’ tersebut pada saat klub sepakbolanya bermain di Senayan.

Pada akhirnya, punk bukanlah sekadar musik. Ia soal sikap tentang ‘Do it Yourself.’ Soal kemandirian. Sukarno menyebutnya ‘berdikari’ alias berdiri di kaki sendiri. Saya suka mengutip ucapan Pramoedya Ananta Toer mengenai arti mandiri itu. Dia bilang “Semua kekayaan kehidupan berada di dalam tubuh kita.” Bukan kebetulan pada satu ketika Marjinal plus komunitas Taring Babi pernah mendapuk almarhum Pram sebagai “Datuk Punk.”

Well, dalam acara perayaan ulangtahun Marjinal di Newseum itu, ada satu pengunjung yang datang belakangan. Tampilannya rapih, kemeja putih, jas disampirkan di lengan, dan pantolan hitam. Dia berkacamata. Menebarkan senyum. Dia datang dan segera membeli satu kaos Marjinal. Saya menyalaminya. Saya mengenalnya. Dia Fadjroel Rahman.

Jadi di acara punk ini, ada seseorang yang akhir-akhir ini rajin berkampanye sebagai calon presiden independen.

Fadjroel bilang pada Mujib, “kalau bukan karena Mike, saya nggak datang.” Dia menyebut “calon presiden independen juga adalah marjinal!” Dia tertawa.

Saya penasaran soal proses peninjauan kembali undang-undang Pemilu yang kelompoknya ajukan ke Mahkamah Konstitusi. Itu aktivitasnya yang getol dilakukan saban hari. Sudah tujuh kali sidang, katanya. Tadi siang ada calon bupati yang diijinkan dari independen. Itu kesembilan kalinya. “Kalau presiden independen diloloskan, bisa jungkir-balik partai-partai!” kata Fajdroel.

Saya juga bertemu Een, seorang punk cum dosen. Dia pengajar hukum di Universitas Pancasila. Dia juga jadi narasumber dalam liputan ‘Urban’ RCTI. Orangnya kalem. Topi menutupi kepalanya yang plontos, mengenakan jaket. Dia lebih memilih sudut di ujung meja bar bersama seorang temannya. Tampaknya Een lebih suka memerhatikan jalannya acara tersebut.

Haska selalu menjadi mediator acara setelah sesi selesai. Marjinal memainkan dua lagu lagi. Dan selalu ada yang menuju ke dekat panggung, anak-anak punk yang remaja, berjoget atau sekadar mengikuti lirik lagu sembari menggoyang kepala atau mengacung-acungka telunjuk. Kemudian ada kesempatan bagi pengunjung untuk tampil. Saya menunggu mereka memainkan lagunya, tapi saya pamit di tengah satu lagu, karena ternyata telinga saya lebih menyukai Marjinal yang menyanyi.

Saya membawa teman saya, namanya Ipung, dan kami keluar bersama tapi bertemu Mike di pinggir jalan, sedang membeli rokok. Kami ngoborol sejenak. Mike bilang bahwa menjadi punk itu gampang dan bisa dilakukan dalam satu jam. Lu beli kaos di Pasar Baru. Lalu pakai anting. Celana ketat. Rambut mohawk. Selesai.

Tapi punk bukan soal gaya. Ini “do yourself.” Jadilah dirimu sendiri, kata Mike.

Ipung, yang baru kali ini bertemu Marjinal meski sudah mendengar lama ceritanya dari saya, menyimak betul ucapan Mike.

Saya bilang Marjinal harus pikirkan juga soal situasi kekinian. Kerusakan hutan. Lumpur lapindo. Isu lingkungan. Banjir. Dan sebagainya. Perlu juga memikirkan soal kebangsaan. Saya menunggu, seraya berharap, suatu saat saya bisa mendengar Marjinal bikin lagu tentang Papua, atau menyitir ‘mop-mop’ Papua yang lucu tapi warganya menderita itu. Saya membayangkan seorang Arnold Ap dari Jakarta yang bicara Papua dalam satu lagu dan populer di jalan-jalan, sebagaimana lagu Marjinal umumnya. Arnop Ap adalah seniman rakyat Papua yang dibunuh Kopassus tahun 80-an.

Di akhir pembicaraan, sambil guyonan, Mike minta saya mencatat ucapannya. Saya mencatat ucapannya adalah uraian dia setahun silam. Intinya tentang kebebasan dan melawan sistem. Ternyata sudah setahun saya tak ketemu dengan Marjinal dan malam itu, pada saat ulangtahun mereka, kami bertemu lagi.

Mike bilang, “Supaya ludah ogut gak kebuang percuma...”

Kami bertiga tertawa. ***

koran-marjinal.blogspot.com

Baca selengkapnya......
| 0 komentar ]

DISANA-SINI SEMUA PUN BERJANJI
PARTAI POLITIK JUGA WAKIL RAKYATNYA
PEMBANGUNAN, KERAKYATAN, KEMAKMURAN, KEADILAN
HANYALAH BASA-BASI

DISANA-SINI BANYAK PARTAI POLITIK
DISANA-SINI ADA WAKIL RAKYATNYA
SALING JEGAL, SALING HADANG
SALING SIKAT, SALING SIKUT
YANG PENTING BISA MENANG

KATANYA KITA SUDAH MERDEKA
TAPI BANYAK PENGGUSURAN DIMANA-MANA
KATANYA ADIL SUDAH MERATA
TAPI BANYAK PENGEMIS DIJALANAN

PERCUMA SAJA PUNYA PARTAI POLITIK
YANG HIDUP ENAK HANYA PARA KORUPTOR

RAKYAT SAKIT, RAKAT SUSAH
RAKYAT PANIK, RAKYAT BINGUNG
SIAPA YANG PEDULI

KATANYA KITA SUDAH MERDEKA
TAPI BANYAK PENGGUSURSN DIMANA-MANA
KATANYA ADIL SUDAH MERATA
TAPI BANYAK PENGEMIS DIJALANAN

Baca selengkapnya......
| 11 komentar ]

Buruh Tani.mp3







Baca selengkapnya......
| 7 komentar ]

Kebetulan kami sedang suka ngeband, hanya menyalurkan emosi saja, daripada teriak-teriakan di jalanan “Demontrasi” apalagi demontrasi tak memakai anarkis kami yakin suara kalian takkan pernah di dengar. Memakai anarkis saja tak di dengar apalagi tak memakai anarkis “hanya bikin sakit hati saja”. Mending kalau di dengar sama wakil rakyat yang memang kupingnya tersumbat uang korupsi. Percuma orasi bikin tenggorokan kering, mendingan masuk studio musik dan gila-gilaam disini. Lebih asik lagi main di panggung melepaskan semua energi yang ada di hati. Bicara panggung? Kami lebih suka main di indoor atau di dalam ruangan, energi akan lebih menyatu dengan yang lainnya.

Kami bukan mau bikin album, atau mau menjadi rock stars dengan di kelilingin wanita-wanita seksi yang kapan saja mau kita tidurin. Kami hanya sedang menyalurkan bakat saja yang terpendam dan sedikit menyalurkan emosi, dan melepaskan ereksi kami terhadap kecintaan kami terhadap Negara “negaraku penjaraku” tercinta ini. Ibu pertiwi kita diperkosa, payudara di remas-remas sama para kucing garong yang memakai dasi di gedung Senayan. (inspirasi dari bang suryaden)

Ups… Lagu kebangsaan kita diganti sama lagu ini “buktikan” lagu dari band PUNK Indonesia “BUNGA HITAM”. Penasaran sama lagunya Dowload saja langsung di link itu jika Anda mau mendengarkan, jika tak mau yang sudahlah nih liriknya : (1,2,3 .. yuk kita nyayi bersama)



BUKTIKAN – BUNGA HITAM

kulihat bayi sungguh menderita
karena gizi buruk menerpa hidup mereka
busung lapar yg terjadi di negri kita
prihalnya yg terjadi di ethiopia

bukan salahnya ayah bunda mereka
tak membuat hidup sungguh menderita
karna mahalnya harga sembako yg ada
tak mampu memberi 4 sehat 5 sempurna

kemajuankah… atau kemunduran
atau tak perdulinya dinas kesehatan
kemajuankah… atau kemunduran
karena untuk hidup telah diabaikan

ini salah siapa???
PEMERINTAH!!!

siapa yg menderita???
RAKYATNYA!!!

kami menginginkan sembako yg murah
BUKTIKAN!!!

kami menginginkan BBMpun murah
BUKTIKAN!!!

kami ingin biaya sekolah gratis
BUKTIKAN!!!

kami ingin biaya kesehatan pun gratis
BUKTIKAN!!!


PS :

Idola cilik (RCTI) , oi…. Generasi ini mau di bawa kemana?

Baca selengkapnya......
| 5 komentar ]

Jika anda merasa stres pasti sangat mempengaruhi kegiatan atau aktivitas Anda secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga sangat mengganggu pekerjaan Anda. Untuk menghilangkan stress itu sebelumnya anda harus mengenal apa itu stres. Agar Anda lebih memamhaminya.

Gejala-gejala stres mencakup mental dan fisik. Hal-hal ini meliputi kelelahan, kehilangan atau meningkatnya napsu makan, sakit kepala, sering menangis, sulit tidur dan tidur berlebihan. Perasaan was-was, frustasi, atau kelesuan dapat muncul bersamaan dengan stres.

Salah satu untuk menghilangkan stres adalah tertawa. Karena sudah terbuktikan secara ilmiah maupun secara psikologi bahwa tertawa itu sehat. Konon orang yang hatinya bahagia (tersenyum atau tertawa) tubuhnya secara otomatis akan memproduksi suatu hormone yang bisa merefresh pikiran dan juga meningkatkan kekebalan tubuh.

Bagi anda yang suka online dan suka browsing di dunia maya dan mengalami rasa stress anda dapat mencari Blog Humor Penghilang Stres, sehingga jika anda berkunjung ke blog itu Anda dapat tertawa atau tersenyum sehingga Anda mampu menghilangkan rasa stres yang ada pada diri Anda. Karena tertawa atau senyum itu sehat untuk kesehatan anda.

Salah satu Blog Humor Penghilang Stres ini adalah cocok untuk anda untuk menghilangkan stress, karena disana anda disajikan dengan humor-humor yang membuat kita tersenyum atau bahkan dapat membuat Anda tertawa terbahak-bahak. Dalam blog ini banyak sekali kategori yang ada untuk menghibur diri secara online ada kategori anak-anak, foto lucu, Humor 18+, SMS Lucu, dan lain sebagainya.

Sehingga dengan informasi ini Anda mampu mengatasi stres Anda, dan kembali beraktivitas tanpa ada halangan yang membuat Anda malas bekerja.

Baca selengkapnya......
| 5 komentar ]



Yuk! Ngegame Bush-Sepatu Melayang

Hanya sehari setelah insiden yang menarik perhatian dunia itu, game online-nya langsung keluar. Game bernama Bush's Boot Camp ini diproduksi oleh T-Enterprise, perusahaan piranti lunak di Glasgow, Skotlandia.

"Jika Anda melihat video pelemparan sepatu itu, petugas Secret Service tidak melindungi Presiden Bush hingga sepatu kedua dilempar," ujar Managing Director T-Enterprise, Sadi Christi, seperti dilansir Telegraph.uk, Selasa (16/12).

Dalam game itu, pemain seolah-olah menjadi agen Secret Service yang harus melindungi Bush. Tampak sepatu melayang ke arah Bush dengan kecepatan yang terus bertambah. Dengan mouse, pemain harus menembaki sepatu-sepatu itu sebelum mengenai orang nomor satu AS tersebut.

Hati-hati jika tembakan meleset. Bisa-bisa malah Bush yang terkena tembakan. Nyawa Bush berkurang jika ia terkena sepatu atau tembakan. Pemain dianggap kalah jika indikator nyawa Bush menunjukkan angka nol.

"Kami berharap game ini dijadikan latihan oleh para pengawal presiden untuk mengantisipasi serangan pelemparan sepatu," candanya.

T-Enterprise merupakan produsen yang seringkali membuat game berlatar belakang peristiwa. Sebelumnya mereka pernah membuat game mengenai bandara bertajuk Terminal 5 mengenai pembukaan Bandara Heathrow Inggris April lalu. Selain itu, pada Maret, T-Enterprise juga merilis game tentang istri Sir Paul McCartney. Mantan cawapres Partai Republik Sarah Palin pun juga pernah dibuat gamenya.

Baca selengkapnya......
| 0 komentar ]

Baca selengkapnya......
| 0 komentar ]



Setara - Bunga Hitam

Hey, kami melihat bumi
Dalam sebuah bentuk satu Negara
Melihat semua umat manusia
Sebagai saudara, saudara kami

Tetapi kami tidak melihat
Keadilan datang menyentuh kami
Hanya sebagian, yang mendapatkannya
Yang menjadi hamba, segala-galanya

Satu bumi, satu Negara
Tanpa tentara,
tanpa apa-apa
Yang menindas manusia

Satu bumi, satu Negara
Tanpa tentara,
tanpa apa-apa
Yang menindas manusia

Hey, kami melihat bumi
Dalam sebuah bentuk satu Negara
Melihat semua umat manusia

Sebagai saudara, saudara kami

Tetapi kami tidak melihat
Keadilan datang menyentuh kami
Hanya sebagian, yang mendapatkannya
Yang menjadi hamba, segala-galanya

Satu bumi, satu Negara
Tanpa tentara,
tanpa apa-apa
Yang menindas manusia

Satu bumi, satu Negara
Tanpa tentara,
tanpa apa-apa
Yang menindas manusia

Baca selengkapnya......
| 0 komentar ]

Band yang digawangi oleh Buluk (lead vocal/gitar), Giox (Bass/back vocal), Dadi (gitar/back vocal) dan Akbar (drums) ini melangsungkan launching berbarengan dengan launching sebuah produk gitar lokal Radix, dimana Buluk sang vokalis juga dibuatkan gitar signature-nya dengan nama Luk’s Series.

Di album ketiga yang bertajuk Flamboyan ini mereka mencoba memperluas jangkauan distribusi albumnya dengan sistem titip edar melalui label Pops Musik PT Aquarius Musikindo.

Dari segi musikalitas, Superglad coba mengurangi unsur “keras” dalam lagu-lagunya.”Di album Superglad yang sekarang lebih variatif , ada 2 lagu slow didalamnya, dan distorsi gitar gue bikin lebih soft, karena fans Superglad bukan cuma cowok, jadi kasian kalo dikasih yang terlalu keras.” ujar Buluk, setengah promosi.

Baca selengkapnya......
| 10 komentar ]

Lima Tahun belakangan ini bisa disebut masa kebangkitan film Indonesia. Para sineas muda dalam negeri mulai menunjukan jati dirinya lewat film-film berkualitas. Sayngnya belum ada satu pun yang membuat film dengan latar belakang perjuangan Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Mungkin karena biaya yang dibutukan membuat film perang tak sedikit.

Film perjuangan marak di bioskop tanah air pada era 1980-an. Tapi bila menilik perjalanan perfilman Indonesia, sudah ada puluhan film yang bertema pertempuran. Dari sebanyak itu, hanya beberapa yang paling sering diputar di televisi. Kami memilih 10 film bertema perjuangan yang sering diputar dan terpopuler. Daftar berikut berdasarkan tahun rilis.

Perawan Di Sektor Selatan (1971)

Film durasi 137 menit yang di sutradarai Alam Surawidjaya ini mengangkat sisi lain saat perang kemerdekaan Indonesia. Secara keseluruhan film ini seperti sebuah reportase. Laura jadi titik sentral cerita film ini. karena sakit hati akan perlakuan gerilyawan republic hingga ibunya meninggal. Laura memihak Belanda dan diselundupkan sebagai mata-mata ke pasukan Kapten Wira (Kusno Sudjarwadi) di sector selatan, suatu daerah pedalaman terpencil. Laura menyamar sebagai Fatimah dan mengaku kakak anggota Laskar yang ditawan Belanda. Dia berhasil mengadu domba antara Wira dan Kobar (Lahardo). Konflik ini memuncak dengan pengepungan Kobar atasarkas Wira. Melihat situasi ini, lewat penghubungnya Laura mengundang pesawat Belanda menyerbu dan membebaskan ahli perang urat syaraf yang di tawan Wira. Merasa diketahui penyamarannya, Laura lari dan akhirnya tewas di pelukan Rengga (Dicky Zulkarnaen), anggota Laskar yangt dicintainya.

Janur Kuning (1979)

Janur juning di produksi pada tahun 1979. film yang disutradarai oleh Alam Rengga Surawidjaja ini dibintangi antara lain oleh Kaharudin Syah, Deddy Sutomo, Dicky Zulkarnaen, Amak Baldjun dan Sutopo H.S Film ini merupakan film kedua tentang peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 (sebelumnya film Enam Jam di Jogja yang di produksi 1951). Film ini bisa dibilnag film dengan biaya termahal saat itu, sekitar 375 juta dan sempat macet sebulan saat syuting karena kehabisan biaya. Biaya sebanyak ini digunakan untuk membuat 300 seragam tentara dan seragam untuk sekitar 8000 orang pemain figuran.

Film ini mendapat Mendali Emas PARFI, FFI 1980 untuk Pameran Harapan Pria (Amak Baldjun), Plaket PPFI, FFI 1980 untuk produser Filma yang mengolah Perjuangan Bangsa. Unggulan FFI 1980 untuk Pameran Pembatu Pria (Amak Baldjun).

Janur Kuning menceritakan perjuangan pejuang Indonesia dalam meraih kembali kemerdekaannya yang direbut oleh pasukan sekutu dan berhasil merebut kota Yogyakarta selama 6 jam. Janur kuning adalah lambang yang dipakai para pejuang sebagai tanda perjuangan saat itu.

Serangan Fajar (1981)

Film yang disutradarai Arifin C. Noer ini menampilkan beberapa fakta sejarah yang terjadi di daerah Yogyakarta. Peristiwa-peristiwa patriotic itu di antaranya penaikkan bendera Merah Putih di Gedung Agung, penyerbuan markas Jepang di Kota Baru, penyerbuan lapangan terbang Maguwo dan seranagn beruntun di waktu fajar ke daerah sekitar salatiga, Semarang. Ada juga cerita Temon (Dani Marsuni), anak laki-laki kecil yang masih lugu ini tampil disela-sela perang bersama neneknya (Suparmi). Room (Amoroso Katamsi) dari keluarga bangsawan ikut gigih membantu pejuang. Sementara istrinya selalu takut kehilangan kasta sebagai bangsawan, karena salah satu anaknya menjalin cinta dengan seorang pemuda pejuang dari rakyat jelata.

Kereta Api Terakhir (1981)

Sebuah kisah dengan latar belakang gagalnya perjanjian Linggar Jati. Tentunya adegan pendekatan romantic, baik terhadap kepahlawanan maupun kisah cinta di baliknya. Markas besar tentara di yogya memutuskan menarik semua kereta api yang ada di Yogya. Letnan Sudadi (Rizawan Gayo), letnan Firman (Pupung Haris) dan sersan tobing (Gito Rollies) ditugaskan mengawal kereta yang diberangkatkan dari Stasiun Purwokerto, Sudadi mengawal kereta pertama. Firman dan Tobing mengawal kereta terakhir. Perjalanan kereta terakhir yang penuh hambatan menjadi inti cerita. Para pengungsi yang memenuhi kereta dan serangan pesawat Belanda memperkaya alur cerita. Diselipkan juga kisah cerita antara Firman dan dua Retno yang ternyata gadis kembar.

Pasukan Berani Mati (1982)

Masa ini terjadi pada saat perang kemerdekaan, diantara sebuah kota kecil telah direbut oleh tentara Belanda setelah menjatuhkan bom-bom dan menyerang kota tersebut dengan gencar oleh pasukan-pasukan Belanda yang di perkuat kendaraan-kendaraan Panser. Kapten Bondan sebagai komandan pasukan di kota itu memerintahkan pasukannya untuk mundur bersama penduduk guna menyusun kekuatan untuk mengadakan serangan gerilya.

Lebak Membara (1982)

Dengan latar belakang penjajahan Jepang di daerah Lebak dekat Cirebon. Seorang pemuda perkasa bernama Herman (George Rudy) ditahan di markas tentara Jepang. Karena membela gurunya yang dianggap bersalah. Tapi kemudian dia dibebaskan oleh Letnan Izumi (Usman Effendy) dan Kapten Nakamura (El Manik). Tanpa setahu komandannya, serdadu Jepang memperkosa Marni (Minati Atmanegara), kekasih Herman. Kejadian ini membuat Herman marah dan kemudian bergabung dengan kelompok pejuang lalu menyerang markas Jepang. Film garapan Imam Tantowi ini menjadi film unggulan di FFI 1984 untuk scenario Terbaik dan Pameran Pembantu Wanita Terbaik (Dana Chistina).

Komando Samber Nyawa

Film perjuangan berdurasi 86 menit ini di sutradarai Eddy G. Bakker. Bintang utama dalam film ini adalah Barry Prima, Yenny Farida, Advent Bangun; Anton Samiat, Didier Hammel, Harry Capri. Ceritanya, Peleton Serna Hasyim dari Kompi Letnan Widodo adalah pasukan yang terdiri dari orang-orang pemberani. Untuk menggantikan anak buah Sersan Hasyim yang gugut, maka didatangkan Kopral Abimanyu. Abimanyu seorang yang perlente, tidak banyak bicara dan tidak disukai Sersan Hasyim. Hasyim mengira, abimanyu hanya pandai bersolek dan tak mampu bertempur. Namun kenyataannya lain. Abimanyu punya perhitungan matang dan kewaspadaan yang tinggi. Hal ini dia buktikan ketika berhasil menyelamatkan pasukan dari ancaman ranjau darat dan punya andilmembebaskan Desa Marga Sari dari serbuan Belanda.
Dalam penyerbuan markas Belanda di Gunung Kapur, Sersan Hasyim mengerahkan anak buahnya termasuk Gardini, kekasihnya. Tanpa sepengetahuan teman-temannya, Abimanyu memasang dinamit di sekitar Gunung Kapur. Gunung Kapur berhasil diledakkan dan hancur.

Nagabonar (1987)

Film berdurasi 95 menit ini digarap sutradara M.T. Risyaf pada 1987. Nagabonar (Deddy Mizwar), adalah seorang pecopet yang mendapatkan kesempatan menyebut dirinya seorang Jenderal di pasukan kemerdekaan Indonesia di Sumatera Utara.
Pada awalnya Nagabonar melakukan ini hanya sekedar untuk mendapatkan kemewahan hidup sebagai seorang jenderal, akan tetapi pada akhirnya dia menjadi seorang tentara yang sesungguhnya, dan memimpin Indonesia dalam peperangan bersama pasukannya termasuk Kirana (Nurul Arifin), Bujang (Afrizal Anoda), dan Mak (Roldyah Matulessy).
Film Nagabonar memborong enam Piala Citra dalam ajang FFI 1987, yakni untuk kategori Film terbaik, Aktor terbaik (Deddy Mizwar), Pemeran Pembantu Terbaik (Roldiah Matulessy), Cerita Asli dan Skenario Terbaik (Asrul Sani), Penata Suara Terbaik (Hadi Hartomo), dan Penata Musik Terbaik (Franky Raden). Selain itu, film ini juga menjadi film Indonesia pertama yang masuk dalam seleksi film berbahasa asing di ajang Academy Award. Selain dibuat skuelnya (Nagabonar Jadi 2), tahun ini, Nagabonar kembali diputar ulang di bioskop setelah melewati proses remastering.

Tjoetnya’ Dhien (1988)

Film ini menceritakan tentang pejuang wanita asal Aceh, Tjoet Nya’ Dhien dan bagaimana dia dokhianati salah satu jendralnya , Pamglima Laot.
Tjoet Nya’ Dhien di buat tahun 1988 distudarai Eros Djarot. Syutingnya memakan waktu sekitar 2,5 tahun dengan menghabiskan biaya sekitar 1,5 milyar rupiah. Film ini memenangkan piala Citra sebagai film terbaik. Dibintangi Christine Hakim sebagai Tjoet Nya’ Dhien, Piet Burnama sebagai panglima Laot, Rudy Wowor sebagai Snouck Hurgronje dan Slamet Raharjo sebagai Teuku Umar.
Tjoet Nya’ Dhien jadi film terlaris di Jakarta pada 1988 dengan 214.458 penonton (data dari perfin). Film ini juga merupakan film Indonesia pertama yang ditayangkan di Festival Film Cannes pada tahun 1989. Film ini mendapat piala Citra FFI 1988 untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Pameran Utama Terbaik, Cerita Terbaik, Musik Terbaik, Fotografi Terbaik, dan Artistik.

Soerrabaja’45 (1990)

Film ini berdasarkan kisah nyata di Surabaya saat merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Dalam pertempuran ini banyak Arek Suroboyo yang gugur. Yang kemudian terkenal dengan sebutan peristiwa 10 November.
Film ini dimulai ketka Jep[ang kalah perang dan proklamasi kemerdekaan Indonesia berkumandang di radio-radio. Ketika pasukan Inggris yang tiba di Surabaya, masyarakat menerima, sebab pasukan Inggris datang untuk melucuti tentara Jepang. Masalah-masalah muncul ketika Inggris tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Pemuda-pemuda Surabaya pun angkat senjata melawan Inggris.
Film garapan Imam Tantowi ini cukup unik, karena ada lima bahasa yang digunakan dalam dialog para pemain. Yaitu ; Indonesia, Inggris, Jepang, Belanda, dan bahasa Jawa. Film yang menghabiskan biaya sekitar 1,8 Milyar rupiah ini dibintangi Usman Effendy, Leo Kristi, Tuty Koesnender dan Juari Sanjaya. Film ini juga mendapat piala Citra FFI 1991 untuk sutradara Terbaik dan penghargaan Dewan Juri FFI 1991 untuk Film yang menggambarkan semangat juang Indonesia.

(AstroGuide)_

Baca selengkapnya......