| 1 komentar ]

Bicara tentang Revolusi Kuba, sosok tokoh yang satu ini mungkin bagian sejarah dari Revolusi Kuba.atau lebih luas dari sejarah Amerika Latin. Sosok yang mempunyai symbol penentangan terhadap kapitalisme dan liberalisme Amerika Serikat dan sekutu-kutunya. Sosok yang menjadi symbol perlawanan terhadap ketidak adilan. Dan symbol dari sebuah Revolusi kaum muda yang beraliran kiri. Tak kenal maka tak sayang, kata-kata yang pertama kali saya dengar ketika saya SMP. Kata-kata ini juga menjadi inspirasi bagi saya untuk mengenal sosok yang menjadi symbol pemberontakan bagi kaum revolusioner ini. Saya pun mencoba untuk mengenal sosok yang satu ini, dengan membeli buku-buku tentang Che Guevara yang banyak di jual di toko-toko buku di Indonesia. Mungkin dulu saya belum sempat mengenal dunia internet makanya saya beli buku, dan jika mungkin saja saya waktu itu sudah mengenal dunia internet mungkin saya akan mencari informasi tentang Che Guevara di internet yang dapat kita dapatkan secara gratis yang hanya bermodalkan koneksi internet semua bisa kita dapat kan disini secara gratis. Contohnya beberapa hari yang lalu saya dapat ebook biografi che Guevara lagi, saya memang mengoleksi ebook-ebook tentang che Guevara. Bicara kembali tentang sosok Che Guevara, ketika saya membaca-baca buku tentangnya saya pun semakin jatuh cinta dengan kisah-kisahnya yang penuh dengan romantisme, karena elemen yang terpenting dari sebuah Revolusi adalah romantis, itu kata yang ku ingat yang di ucapkan salah satu sosok idola saya “Bung Karno”. Saya jatuh cinta dengan sosok ini bagaikan saya jatuh cinta dengan wanita-wanita cantik yang selalu menggoda birahi saya. Untuk selalu dan selalu mengenal sosok tersebut. Kesucian , keberanian, Revolusi, perlawanan atau bahkan ketololan “bagi kaum kapitalisme” yang merupakan imej dari tokoh ini. Kesucian dari tokoh ini bisa kita lihat dari keyakinan dia terhadap sebuah perlawanan menetang system yang tidak adil terhadap kaum-kaum miskin waktu itu. Kaum buruh yang selalu menjadi mesin pencetak uang bagi kaum-kaum bangsawan atau kaum-kaum kaya “tuan tanah” waktu itu. Kesucian dimana dia hanya menjadi pelayan bagi rakyat yang tertindas, bukan sebagai “godfather” seperti kawan seperjuangan dari Che Guevara yaitu Fidel Castro. Seorang pemimpin yang hanya mau melayani rakyat bukan di layanin rakyat. Patut untuk di contoh bagi para pejabat di Negara ini yang dimana mereka hanya mau dilayani rakyat tanpa mau melayani rakyat. Mungkin ini adalah sifat yang sulit atau bahkan tidak akan ada setelah era 45 di Negara Indonesia ini. Bila ada yang bicara ini era reformasi, menurutku mungkin benar. Disini di Indonesia memang era reformasi yang kebablasan dimana hukum kita yang tidak ada jalan yang tertutup yang masih bisa untuk di belok-belokkan bagi orang yang tidak bertanggung jawab orang-orang yang mempunyai kekuasan, orang-orang yang mempunyai uang, sedang rakyat yang miskin tetap tertindas bagaikan debu-debu di jalan yang harus di singkirkan dari hukum, dan memang harus di hukum benar atau salah tak peduli asalkan mereka miskin mereka harus di hukum. Mungkin hanya satu yang bisa kita lakukan berdoa pada Tuhan agar pejabat-pejabat di negeri ini akan berubah seperti apa yang kita mimpikan, berpihak pada kebenaran tak memandang status dari sosial. Keberanian dari sosok Che Guevara bisa kita lihat dari dia dimana dia berani menetang Negara adi daya atau salah satu Negara adi daya waktu itu. Seorang penyakit asma yang berjuang melawan ketidak adilan, seorang petualang yang berjuang apa yang dia yakini tentang Revolusi tanpa ada rasa takut untuk melangkah. Yang selalu bertualang mencari kemerdekaan sebuah Revolusi. Perlawanan, sosok ini menjadi symbol dari sebuah perlawanan dari system kapitalisme dan kawan-kawannya. Coba kita lihat kaum muda yang kaum beridialis kiri, yang bangga memakai kaus Che Guevara di baju meraka, begitu juga saya yang bangga memakai kaus berlambangkan wajah sosok dia yang penuh tatapan untuk sebuah perlawan yang harus di lawan. Sosok ketololan bagi kapitalisme dan sekutunya, dia sosok yang bermimpi di jalan yang berduri. Ketololan dari keyakinan yang tak pantas untuk di yakin dari sebuah Revolusi. Apapun alasan mereka itu hanya sampah belaka, yang terpenting sampai saat ini jiwa revolusioner dari Che Guevara takkan pernah mati bagi kaum-kaum muda yang ingin merubah dunia dengan Revolusi yang dia yakini.

1 komentar

andreas iswinarto mengatakan... @ 17 September 2008 08.10

Buku Perang Tan Malaka dan Che Guevara

semoga bermanfaat..

Ketika memperingati sewindu hilangnya Tan Malaka pada 19 Februari 1957, Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution mengatakan pikiran Tan dalam Kongres Persatuan Perjuangan dan pada buku Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi) menyuburkan ide perang rakyat semesta. Perang rakyat semesta ini, menurut Nasution, sukses ketika rakyat melawan dua kali agresi Belanda. Terlepas dari pandangan politik, ia berkata, Tan harus dicatat sebagai tokoh ilmu militer Indonesia.
(sumber Tempo)

Dalam bentuk tanya jawab Tan Malaka di dalam bukunya Gerpolek menjelaskan itu secara gamblang. Menurut Malaka GERPOLEK adalah perpaduan (Persatuan) dari suku pertama dari tiga perkataan, ialah Gerilya, Politik, dan Ekonomi. Lebih lanjut dalam bentuk tanya jawab Malaka menjelaskan sbb :

Apakah gunanya GERPOLEK?

GERPOLEK adalah senjata seorang Sang Gerillya buat membela PROKLAMASI 17 Agustus dan melaksanakan Kemerdekaan 100 % yang sekarang sudah merosot ke bawah 10 % itu!

Siapakah konon SANG GERILYA itu?

SANG GERILYA, adalah seorang Putera/Puteri, seorang Pemuda/Pemudi, seorang Murba/Murbi Indonesia, yang taat-setia kepada PROKLAMASI dan KEMERDEKAAN 100 % dengan menghancurkan SIAPA SAJA yang memusuhi Proklamasi serta kemerdekaan 100 %.
SANG GERILYA, tiadalah pula menghiraukan lamanya tempoh buat berjuang! Walaupun perjuangan akan membutuhkan seumur hidupnya, Sang Gerilya dengan tabah-berani, serta dengan tekad bergembira, melakukan kewajibannya. Yang dapat mengakhiri perjuangannya hanyalah tercapainya kemerdekaan 100 %.

SANG GERILYA, tiadalah pula akan berkecil hati karena bersenjatakan sederhana menghadapi musuh bersenjatakan serba lengkap. Dengan mengemudikan TAKTIK GERILYA, Politik dan Ekonomi, tegasnya dengan mempergunakan GERPOLEK, maka SANG GERILYA merasa HIDUP BERBAHAGIA, bertempur-terus-menerus, dengan hati yang tak dapat dipatahkan oleh musim, musuh ataupun maut.

Seperti Sang Anoman percaya, bahwa kodrat dan akalnya akan sanggup membinasakan Dasamuka, demikianlah pula SANG GERILYA percaya, bahwa GERPOLEK akan sanggup memperoleh kemenangan terakhir atas kapitalisme-imperialisme.

-------------

Selain berhubungan cukup erat dengan Panglima Sudirman pimpinan gerilyawan yang tangguh (bahkan Adam Malik menyebutnya Dwitunggal), sebenarnya Tan Malaka pernah terlibat langsung dalam medan perang gerilya menjelang kematiannya. Silahkan baca liputan Tempo Persinggahan Terakhir Lelaki dan bukunya serta Misteri Mayor Psikopat. Sehingga sebenarnya lengkaplah Tan Malaka yang berperang dengan kata, organisasi, juga 'perang senjata'. Atau bisa dikatakan Gerpolek bukan hanya teori baginya, tetapi juga sebuah praktek perjuangan yang dilakukannya.

Dalam konteks ini saya setuju dengan ketika Harry Poeze mempersandingkan Tan Malaka dan Che Guevara. Walau saya agak terganggu ketika Poeze mengatakan Tan Malaka adalah Che Guevara Asia. Bagi saya Tan Malaka adalah Tan Malaka, Che Guevara adalah Che Guevara.


Sekedar memperbandingkan buku perang Gerpolek dan Esensi Perang Gerilya yang dituliskan oleh Che Guevara, saya kutipkan bagian tulisan Che Guevara tersebut

"Perang Gerilya, sebagai inti perjuangan pembebasan rakyat, mempunyai bermacam-macam karakteristik, segi yang berbeda-beda, meskipun hakekatnya adalah masalah pembebasan. Sudah menjadi kelaziman--dan berbagai penulis tentang hal ini menyatkannya berulang-ulang---bahwa perang memiliki hukum ilmiah soal tahap-tahapnya yang pasti; siapapun yang menafikannya akan mengalami kekalahan. Perang gerilya sebagai sebuah fase dari perang tunduk dibawah hukum-hukum ini; tapi disamping itu, karena aspek khususnya, sudah menjadi hukum yang tak hukum yang tak terbantahkan dan harus diakui kalau mau mnedorongnya lebih maju. Meskipun kondisi sosial dan geografis masing-masing daerah (country) menentukan corak atau bentuk-bentuk khusus suatu perang gerilya, tapi ada hukum umum yang harus dipatuhi jenis tersebut.

Tugas kita kali ini adalah menggali dasar-dasar perjuangan dari jenis (corak) ini, aturan-aturan yang harus di ikuti oleh rakyat yang berupaya membebaskan diri, mengembangkan teori atas dasar fakta-fakta, menggeneralisasikan dan memberikan struktur atas pengalaman tersebut agar bermanfaat bagi rakyat lainya.

Pertama kali adalah menetapkan : siapakah pejuang dalam perang gerilya ? Disatu sisi ada kelompok penindas dan agen-agennya, tentara profesional (yang terlatih dan berdisiplin baik), yang dalam beberapa kasus dapat diperhitungkan atas dukungan luas dari kelompok-kelompok kecil dari birokrat, para abdi kelompok penindas tersebut. Disisi lain ada populasi bangsa atau kawasan yang terlibat. Adalah penting menekankan merupakan sebuah perjuangan massa, perjuangan rakyat. Gerilya, sebagai sebuah nukleus bersenjata, merupakan pelopor perjuangan rakyat, dan kekuatan terbesar mereka berakar dalam massa rakyat. Gerilya hendaknya tidak dipandang sebagai inferior secara jumlah dibanding tentara yang ia perangi, meskipun kekuatan persenjataannya mungkin inferior. Itulah sebabnya mengapa perang gerilya mulai bekerja ketika kau memiliki dukungan mayoritas, sekalipun memiliki sejumlah kecil persenjataan yang dengan itu kau mempertahankan diri melawan penindas.

Oleh karena itu pejuang gerilya mendasarkan diri sepenuhnya pada dukungan rakyat di suatu area. Ini mutlak sangat diperlukan. Dan di sini dapat dilihat secara jelas dengan mengambil contoh kelompok-kelompok bandit yang bekerja di suatu daerah. Mereka memiliki semua karakteristik dari sebuah tentara gerilya : Homogenitas, patuh pada pemimpin, pemberani, pengetahuan tentang lapangan dan seringkali bahkan memiliki pemahaman lengkap tentang taktik yang harus digunakan. Satu-satunya kekurangan mereka adalah tidak adanya dukungan dari rakyat, dan tidak terhindari lagi kelompok-kelompok bandit itu ditangkap atau dihancurkan oleh kekuatan pemerintah."

---------
Akhir kata silahkan membaca lebih jauh Gerpolek, Massa Aksi dan buku-buku Tan Malaka lainnya untuk mengerti lebih jauh perkakas perjuangan rakyat yang digagas dan dipraktekannya, juga silah tengok lebih lanjut buku-buku Che Guevara yang sudah cukup banyak beredar di pasaran atau silah kunjung tulisan Che Guevara Online

Salam Pembebasan

Andreas Iswinarto


untuk link tentang tan malaka dan che Guevara silah akses Buku Perang Tan Malaka dan Che.

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/buku-perang-tan-malaka-dan-che-guevara.html

atau

Untuk 34 artikel-opini (edisi khusus Tempo) dan 13 buku online Tan Malaka silah kunjung Tan Malaka : Bapak Republik Revolusi Merdeka 100 Persen
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/tan-malaka-bapak-republik-revolusi.html

Posting Komentar