Segala sesuatu memang telah dan akan berubah. Kalau dulu buku cerita “Keliling Dunia 80 Harinya Jules Verne begitu digemari dan dikagumi, sekarang bukan mustahil malah menjadi bahan tertawaan anak-anak. Kerena saat ini untuk keliling dunia tak perlu selama itu.Cukup duduk manis di dalam Jet, dan dalam waktu tak kurang 1 x 24 jam dunia sudah bisa dikelilingi. Bahkan bulan yang orang dulu dianggap sebagai villanya para Dewa, kini sudah di kunjungin oleh manusia. Dari bulan itu pula Yuri Gagarin sanggup “mengelilingi” bumi hanya dengan satu kedipan mata. Tentu saja bukan karena dia Dewa, tapi karena makhluk yang bernama tekhnologi itulah yang membuat kita mampu merubah mimpi menjadi nyata, yang menjadi nyata, yang menjadi jembatan antara alam nyata dan alam maya. Tekhnologi pula yang menggeser singa dari gelar raja hutan menjadi raja kebun, karena hutannya sudah tak ada lagi, yang masih ada tinggal kebun, tepatnya kebun binatang.
Semua memang sudah berubah. Kalaupun ada yang abadi, itu tidak lain adalah proses perubahan itu sendiri. Kalau di zaman dulu perang selalu menuntut jiwa-jiwa patriotik, sekarang tidak perlu lagi prajurit yang berani mati. Mereka cukup menekan tombol-tombol dan berlindung di balik kecanggihan rudak dan bahkan nuklir. Sehingga sang prajurit tidak perlu mati, sebaliknya, akibat rudal-rudal itu, ribuan warga sipil terpaksa angkat kaki dari tanah mereka sendiri. Bahkan ribuan lainnya terpaksa mati tanpa mereka bisa mengerti kenapa mereka, yang tidak terlibat perang bisa ikut mati. Begitulah satu sisi manusia yang menggerakkan perubahan, disisi lain manusia pula yang harus menjadi korban perubahan itu sendiri.
Begitu juga kota ini (Jakarta). Kota yang terkenal dengan polusinya itupun tak luput dari perubahan. Dulu , ketika masih bernama Batavia, kota ini cukup lenggang dengan barisan pepohonan disana-sini tak ada bising klakson yang bersahut-sahutan, hanya ada delman yang berlenggak-lenggok menyusuri jalan. Penduduk yang tak suka naik delman, bisa menggunakan trem yang nyaman. Namun karena dianggap mengganggu lalu lintas, oleh walikota Sudiro saat itu, trem tersebut dilenyapkan. Rel-rel yang melingkari kotapun dicabuti. Sementara, ditengah kota mengalir air ciliwung yang jernih tanpa sampah apalagi limbah. Saat itu, untuk berenang tak perlu pergi ke kolam renang. Ciliwung telah menyediakan tempat bagi siapapun yang ingin menceburkan diri. Baik sepanjang jalan Hayam Wuruk maupun dipintu air Manggarai Batavia, lepas dari masalah penjajahan, adalah kota yang tertata indah yang penduduknya bisa menarik nafas panjang tanpa takut terkena gangguan pernafasan.
Namun, kini semua itu tinggal sejarah yang telah lama di kubur waktu. Tak ada lagi penduduk tertawa sambil mencipratkan air di Ciliwung karena airnya sudah hitam pekat dan bau. Trem yang nyaman telah berganti wajah KA Jabodetabek yang berbau kematian setiap saat, jika lengah sedikit penumpang bisa jatuh lalu diseret kereta tanpa ada pihak manapun yang merasa bertanggung jawab. Barisan pohon pun kini tinggal penghias jalan-jalan penting, selebihnya gersang dan panas. Tata kota pun telah jauh dari rapi. Gedung-gedung tinggi menjamur berdiri angkuh diantara ratusan rumah-rumah kumuh. Kota tak lagi terasa lagi akrab karena orang-orang kaya terlalu menjaga jarak. Mereka mendirikan pagar-pagar tinggi yang atasnya berduri sambil tak lupa menuliskan “Awas Anjing Galak!”.
Apa maksud itu? Untuk menghindari pengemis atau menakuti petugas pajak? Entahlah, yang jelas, kota ini telah berubah dan akan tetap berubah. Jika perubahan tidak sesuai yang diharapkan, harap dimaklumi. Karena perubahan itu seperti kuda liar yang seringkali di luar kendali. Bukan, sama sekali bukan karena petugas kota tidak professional, kurang tegas atau bijak, ini semata-mata hanya karena, seperti biasa, kesalahan teknis.
Here is a website that can help you if you need to apply credit cards. Credit card is important for us who live in modern era. The benefits you can gain if you use credit card in your transaction are you can get secure transaction, feel free from thief, and the last you can get many bonuses from features which offered by bank credit card. Before you apply one of the hundreds credit card, you have to improve your credit card knowledge first.
This is important for us. If you have the knowledge you are able to get credit card with low interest rates. You can get the information that you need from extracreditcards.com. You can choose credit cards from many features here. There are many offering for you. You can choose Ready Prepaid Debit Card that has over 1 million ATMs.
You can choose Vantage Debits Master Card that has minimum balance and no overdraft Fees or you can also choose Greendot Prepaid Master Card that have no Bank Account Required. You can also read many articles that relates with many credit cards. For more information about credit card features you can read the credit card information at the official website.
Debu, panas, dan macet adalah pemandangan sehari-hari kota ini. Kota yang konon menjadi impian masyarakat desa, oleh para seniman justru dijadikan ajang bulan-bulanan dan bahan kritikan. Tentu ini bukan sekedar omong kosong. Sebab ada yang bilang kalau keadaan masyarakat suatu daerah itu bisa dilihat dari karya-karya seni tidak hanya berfungsi sebagai entertain, tapi juga cermin. Nah , kalau karya-karya seni yang dilahirkan “miring” bisa disimpulkan kalau keadaan Jakarta itu sebenarnya juga “miring”. Sebab menurut beberapa seniman, karya seni itu lahir karena adanya realita yang di transfer dalam bentuk seni.
Slank misalnya, dalam sebuah lagunya mengatakan kalau Jakarta itu kota yang penuh srigala. Sementara iwan fals, dalam lagunya yang berjudul Jakarta lebih ekstrem lagi, ia bilang kalau Jakarta itu kota yang pincang. Berikut penggalan liriknya…
…gedung-gedung tinggi mewah angkuh bikin iri, gubuk-gubuk liar yang resah di pinggir kali, terlihat jelas kepincangan kota ini, tangis bocah lapar bangunkanku dari mimpi malam, lihat dan dengarlah riuh lagu dalam pesta, diatas dari kita mereka masih bisa tertawa, memang ku akui kejamnya kota Jakarta, namun yang kusaksikan lebih parah dari yang kusangka…
Banyak dan banyak lagi musisi lain yang berbicara tentang Jakarta. Kalau kawan sering naik angkot, kawan pasti pernah dengar seorang pengamen menyanyikan lagu yang kira-kira liriknya begini…
Siapa suruh datang ke Jakarta, siapa suruh datang ke Jakarta…
Atau kawan juga pernah melihat film lama yang berjudul “Ibu Tiri Tak Sekejam Ibu Kota”. Begitulah seniman memang sangat peka terhadap gejala sosial yang terjadi. Tidak hanya seniman musik, tapi juga seniman-seniman lain. Kalau kawan pernah mengikuti pameran fotografi tentang Jakarta, hampir semua yang dipajang adalah potret suram kota Jakarta. Dari kawasan kumuh dipinggir Ciliwung sampai potret seorang anak tanpa baju yang terlelap diteras di sebuah took.
Begitu juga ekspresi pelukis tentang Jakarta. Dapat dipastikan kalau ilustrasi yang timbul dikanvas mereka tak jauh dari kawasan kumuh dengan jemuran yang selalu melilit dan anak-anak kecil yang sedang bermain ditempat yang becek, atau seorang ibu yang gendong anaknya disisi sebuah gubuk yang kecil background gedung megah dan mewah.
Ya, itulah Jakarta dimata seniman, Jakarta yang penuh srigala, Jakarta yang pincang, Jakarta yang kumuh, Jakarta yang kejam… Jakarta yang …
oh Jakarta…
si kaya bertambah gila dengan harta kekayaannya,
sedang luka si miskin semakin manganga….
Jakarta..oh …Jakarta….
Kau tampar siapa saja sudaraku yang lemah,
manjakan mereka yang hidup dalam kemewahan. Baca selengkapnya......
Buymmoaccounts.com is a website that serves those who like to play the World of Warcraft online game with the special accounts that will allow them to play so. There are a lot of advantages that can be gotten once a person has signed up to be a member of this website. But still, there are some doubts that spread around people out there.
And this ends up in the speculation over the buymmoaccounts.com scam. Well, we can avoid such thing from occurring when something is offering interesting stuff with a lot of bonuses behind. But let's leave it all behind for a while and then try to log on to the ratepoint.com website.
This website is a special provider of the reviews given by the consumers towards a product, in this case is the services of the buymmoaccounts.com website. We can read so many positive summaries over the website's service. After reading the complete reviews, we would know how to react on the reliability of the website itself. This website is a place from where people can have the reference about a company's legitimacy so this can manage the accountability of the company itself. So why don't you just try for yourself visiting the website to see the collections of the reviews.
Siapakah Pahlawan Indonesia sekarang ini?
Dulu, lewat lembar-lembar sejarah kita mengenal Soekarno, Hatta, W.R Supratman, dan lainnya. Lalu di abad ini, siapakah pahlawan Indonesia?
Seorang teman menjawab dalam bahasa Inggris yang waluapun agak terpatah-patah namun cukup jelas…
“The real heroes in Indonesia today are the Heroes Supermarkets!”
Agak ngawur memang, tapi cukup lucu. Apa maksudnya? Tentu saja, jawaban nyeleneh tersebut, langsung atau tidak langsung, merupakan sindiran betapa saat ini kita kekurangan pahlawan.
Zaman memang telah berubah. Para pejuang dan pahlawan yang dulu gagah kini telah rapuh dimakan usia, tak sedikit pula yang gugur (semoga semangatnya tak pernah rapuh). Zaman telah mengubah ketulusan menjadi pamrih. Kapitalisme pun berkuasa, akarnya menancap dalam setiap otak kita. Dan dibawah kaki kapitalisme setiap orang selalu memikirkan dirinya sendiri. Pada saat yang sama, tak seorangpun yang memikirkan nasib semua orang. Dibawah kapitalisme pula ego manusia berkembang pesat dan ketidak pedulian terhadap sesama merebak dan bahkan menjadi trend. Tak heran jika di pinggir-pinggir rumah mewah, di tepi pingir-pinggir pagar berduri, ada petak-petak rumah yang saling tumpang tindih.
Namun adalah seorang yang sanggup memikirkan semua orang?
Kalau ada dialah pahlawan kita sekarang. Namun benarkah kita membutuhkan pahlawan?
Kalau kita terus mengharapkan datangnya seorang pahlawan, kita hanya akan menjadi pemimpi atau punguk yang merindukan bulan. Kalau toh pahlawan itu benar-benar ada, sanggupkah ia membawa kita semua menuju kesejahteraan? Sanggupkah ia membebaskan kita dari jerat hutang?
Pahlawan bukanlah pesulap yang tinggal berabrakadabra lantas beres. Pahlawan bukan pula superman yang dengan tinjunya mampu melibas setiap kezaliman. Superman bukan pahlawan, ia jagoan (huaaaaaaa, perlu di ingat).
Dan memang yang kita butuhkan saat ini bukanlah pahlawan karena tak seorangpun hingga kini, mampu memikirkan semua orang. Tanpa pahlawan pula bukan berarti dunia ini akan menjadi rimba yang luas.
Kalau sistem berjalan dengan baik,Semoga sistem itu kembali berjalan normal, semoga para penggerak sistem itu bukan kanibal yang gemar makan daging sesama.
kalau pengadilan bertugas semestinya,
dan kalau sistem itu mampu memikirkan nasib semua orang,
rimba itu tidak akan tercipta.
email : suarabersama@gmail.com Baca selengkapnya......
Hendaklah kalian yakin akan eksistensi kalian, mengetahui posisi kalian, dan percaya bahwa kalian adalah para pewaris kekuasaan dunia, meski musuh-musuh kalian menghendaki agar kalian tetap terhina (Hassan Al Banna)
Semestinya Intelektual
Pada akhir abad ke-18 pecah sebuah revolusi di Perancis yang mengubah wajah sejarah Negara tersebut, dan bahkan wajah sejarah Eropa secara keseluruhan. Yaa! revolusi tersebut adalah revolusi Perancis yang mengantarkan Perancis bebas dari sebuah dunia yang usang, dunia yang penuh dari feodalisme, yang penuh kungkungan rezim agama yang represif, yang penuh ketidakadilan menuju kepada sebuah masyarakat yang lebih baik dari masyarakat sebelumnya yaitu masyarakat demokratis yang mengakui hak asasi manusia. Revolusi ini merupakan sebuah collective consciousness movement yang dimotori oleh kalangan borjuis (kalangan menengah) dan kaum miskin. Tetapi spirit serta ide yang menjadi bara api bagi revolusi ini tetaplah kaum intelegensia Perancis seperti Volltaire, Rousseau, Montesquieu, dll.
Kaum intelegensia atau yang sering kita sebut kaum intelektual bila meminjam pendapat Gramsci adalah manusia yang memiliki semangat perubahan dalam dirinya yang semangat perubahan itu bertumpu pada aspek kognisinya dalam mengintepretasikan realitas yang ia lihat. Dengan menggunakan pisau analisisnya, intelektual dapat melihat realitas jauh lebih dalam dari pada orang-orang awam kebanyakan sehingga kemungkinan besar intelektual mencari akar permasalahan pun lebih terbuka lebar.
Tetapi sekali lagi aspek kognisi dari seorang intlektual tidaklah cukup baginya dalam melihat sebuah realitas dalam masyarakat. Seperti yang dinyatakan oleh Michael Foucault, selalu ada aspek kekuasaan dalam ilmu pengetahuan. Artinya kognisi (pengetahuan) seorang intelektual tidak serta-merta membuatnya dapat menyelesaikan permasalahan masyarakatnya, alih-alih, malah pengetahuan yang dimilikinya digunakan oleh penguasa sebagai alat legitimasi bagi kekuasaannya.
Lalu apa yang mesti dimiliki oleh intelektual selain aspek kognisi tadi? Gramsci telah menjawab pertanyaan ini. Aspek satu lagi yang diperlukan seorang intelektual dan yang paling penting adalah kesadaran akan tujuan yang ingin dicapai (consciousness). Dengan adanya kesadaran yang dimiliki oleh intelektual maka pengetahuan yang dimilikinya pun digunakan dengan sebuah kesadaran untuk melakukan perubahan. Tapi sekali lagi permasalahan muncul, terkadang kesadaran yang muncul bukanlah kesadaran yang sebenarnya melainkan kesadaran palsu atau yang disebut sebagai kesadaran naif (Naive Consciousness) dimana kesadaran yang dimiliki seseorang sudah terhegemoni oleh kekuasaan tertentu yang ditanamkan melalui indoktrinasi dan pendidikan. Kaum fundamentalis radikal di Afganistan adalah contoh kesadaran naif yang muncul. Kaum fundamentalis tahu bahwa mereka sedang ditindas dan mereka sadar akan hal tersebut dan kesadaran itu menimbulkan sebuah semangat pergerakan diantara mereka, namun kesadaran yang mereka miliki adalah kesadaran yang berasal dari sebuah indoktrinasi bukan dari kesadaran diri dalam melihat realitas dengan kognisinya (akalnya) pada akhirnya yang terjadi adalah sebuah bentuk pergerakan yang reaksioner.
Banyak sekali kita melihat seorang intelektual yang hidup dari hasil intelektualnya, dan pemikiran yang dimilikinya hanya dimengerti oleh kaum sesamanya. Intelektual telah membentuk suatu kelas baru di dalam pengelompokkan masyarakat. Intelekual pada dasarnya bukanlah individu-individu yang terlepas dari masyarakatnya, indvidu bahkan seharusnya membaur dalam masyarakat dan berjuang bersama masyarakat dalam mewujudkan sebuah tatanan masyarakat yang adil. Inilah konsep yang disebut oleh Gramsci sebagai intelektual organik (organic intellectual). Intelektual organic adalah intelektual yang lahir dan tumbuh di dalam masyarakat. Dia tidak dapat terpisahkan dari masyarakat dan akan selalu berada dalam masyarakat.
Keadaan mahasiswa dewasa ini
Lalu apa hubungan semua ini dengan Mahasiswa? Mahasiswa kalau boleh saya klasifikasikan maka tempat mereka adalah di barisan para intelektual. Mahasiswa adalah kaum dimana berkumpul tiga hal yang dibahas diatas, aspek kognisi dan kesadaran (bisa yang kesadaran naif bisa juga yang kesadaran utuh). Dan lebih jauh lagi berani saya katakana bahwa mahasiswa adalah kandidat besar untuk menempati diri dalam posisi intelektual organic. Oleh sebab itu sudah sewajarnya mahasiswa memiliki peranan yang sangat penting dalam sejarah bangsa Indonesia.
Tapi yang kita lihat selama ini, pergerakan mahasiswa tidaklah mencerminkan ketiga hal diatas sana. Mahasiswa, dewasa ini, karena mereka hidup dalam hingar bingar budaya massa (mass culture) dan budaya pop (pop culture) yang dikonstruksi kapitalisme. Mahasiswa jarang sekali yang memakai aspek kognisi mereka untuk melihat realitas masyarakat yang ada. Mereka tidak menggunakan kompetensi pengetahuan mereka kecuali hanya didalam ruang kelas saja tetapi tidak untuk memahami realitas yang terjadi di dalam masyarakatnya.
Lalu mahasiswa juga sudah tidak memiliki kesadaran akan apa yang sedang terjadi di masyarakat. Sekali lagi karena mahasiswa sudah terhegemoni (soft hegemony) oleh sebuah kekuatan yang kita sebut kapitalisme global. Seperti yang diutarakan John Lennon, Sex, TV, and Music make you weak. Mungkin itulah yang dapat menggambarkan hilangnya kesadaran mahasiswa.
Mahasiswa oleh sebab itu tidak dapat disebut sebagai intelektual organik sebab mereka sudah tercerabut dari tempatnya semestinya yaitu masyarakat. Mahasiswa menjadi sebuah kelas baru yang sangat prestisius, mahasiswa menjadi borju-borju muda dengan masa depan yang cerah dihadapannya.
Dampaknya Pada Gerakan Mahasiswa
Dengan keadaan mahasiswa yang seperti itu, maka itu berimbas kepada gerakan mahasiswanya. Gerakan mahasiswa yang seharusnya menyatu dengan masyarakat pada kenyataannya malah menjadi sebuah gerakan baru dalam masyarakat.ciri khas dari gerakan mahasiswa yang paling kentara adalah mahasiswa memposisikan gerakan mereka sebatas gerakan moral an sich. Mahasiswa terkesan menjadi pahlawan kesiangan yang tiba-tiba datang bila ada masalah yang dihadapi bangsa dan setelah menunjukkan muka lantas mahasiswa langsung kembali ke kampus, seperti jelangkung yang datang tak dijemput pulang tak diantar. Padahal sebuah persoalan bangsa tidaklah muncul saat itu saja, melainkan sebuah akumulasi dari kejadian-kejadian yang terdahulu. Permasalahan bangsa harus dilihat sebagai sebuah adegan bukan sebuah potret sehingga untuk menyelesaikannya pun perlu sebuah usaha yang sistematis dan terprogram yang melihat permasalahan dari segi strukturnya.
Oleh karena itu hal ini mensyaratkan sebuah perubahan pola pergerakan mahasiswa dari gerakan yang berbasis moral an sich menuju ke sebuah pola yang gerakan sosial yang tetap berbasiskan kepada moral dan intelektual. Dengan begitu gerakan mahasiswa tetap terintegrasikan dalam sebuah gerakan masyarakat yang lebih besar, bersinergi dengan gerakan-gerakan social lain dan tujuan yang ingin dicapai dapat tercapai dengan sebuah gerakan yang massif terkoordinir dan tidak terpecah-pecah seperti yang terjadi dengan gerakan mahasiswa sekarang, baik hubungan gerakan mahasiswa dengan gerakan mahasiswa lainnya maupun hubungan gerakan mahasiswa dengan gerakan masyarakat lainnya.
Idealisme Praksis; Sebuah Usaha Mengkomunikasikan Idealisme
Jurgen Habermas menyatakan bahwa teori harus mempunyai maksud praksis. Artinya teori tidak akan bermakna bila tidak ada relevansinya dengan kondisi kehidupan sosial masyarakat. Berangkat dari kerangka ini maka saya mencoba untuk memakai kerangka ini dalam melihat idealisme yang ada pada mahasiswa.
Bila kita lihat kembali banyak sekali mahasiswa yang terperangkap dalam dunia idealismenya sendiri. Dia terperangkap dalam dunia ideal yang dibangunnya yang dunia itu sama sekali tidak memiliki relevansi dengan kondisi real masyarakatnya. Dan yang lebih parah lagi terkadang idealisme itu sama sekali tidak terejawantahkan dan termanifestasikan dalam realitas yang sebenarnya. Hal ini disebabkan, meminjam konsep praksis Habermas, karena tidak ada jembatan yang menghubungkan alam idealitas menuju alam realitas. Jembatan yang paling ampuh untuk mengejawantahkan idealisme ini tak lain adalah gerakan sosial yang tersistemik dan terprogram.
Kita bisa belajar dari Ikhwnul Muslimin (IM) yang merupakan sebuah organisasi Islam dunia yang didirikan oleh ideolog Islam Hassan Al Banna. Ikhawnul Muslim secara ideologis dapat dikatagorikan (meminjam istilah yang dipakai oleh barat) fundamentalis yang radikal. Tetapi pada kenyataannya gerakan Ikhwanul Muslim adalah gerakan yang dapat diterima oleh hampir mayoritas masyarakat Mesir. Hal ini disebabkan karena IM mampu mengkomunikasikan sebuah idealisme yang secara murni tak dapat diterima oleh masyarakat, tetapi melalui penerapan apa yang saya sebut idealisme praksis, yaitu melalui gerakan-gerakan sosial yang dilakukan IM, IM dapat mengkomunikasikan cita-cita yang diusungnya tanpa adanya resistensi dari masyarakat.
Sudah seharusnya mahasiswa menggunakan metode ini dalam mengkomunikasikan idealisme yang dimilikinya. Jangan sampai idealisme yang dimiliki mahasiswa hanya terealisasi dalam bentuk-bentuk demonstrasi yang tidak sistemik dan tanpa arah tujuan yang jelas. Gerakan mahasiswa harus mengakomodir idealisme praksis dan bertransformasi kedalam bentuk gerakan sosial yang berbasis pada moralitas dan intelektualitas.
sumber : kekuatanperubahan.blogspot.com Baca selengkapnya......
Matahari sudah terlihat tinggi namun udara masih sejuk. Kupeluk guling dan mencoba mengacuhkan waktu. Berharap mimpi yang semalam singgah kembali hadir pagi ini. Tapi mata ini tak bisa kuajak kompromi segera kubangkit dan membuat secangkir kopi. Baru aku ingat aku kehabisan gula. Dengan sedikit berbasa-basi, aku hutang di warung tetangga. Kebetulan orangnya baik. Akupun bisa menyambut pagi ini dengan aroma kopi. Sambil duduk diberanda depan, aku baca berita di koran pagi ini. Siapa tahu ada lowongan kerja, pikirku.
Terus kutelusuri halaman demi halaman sambil terus ku berharap ada kesempatan kerja. Tiba-tiba mulutku tersenyum, harapanku timbul lagi ketika kutemukan sebuah iklan yang membutuhkan tenaga kerja. Semua syarat yang diminta rasanya bisa kupenuhi. Hanya sial, ya sial sekali, karena surat kaber tersebut sudah terbit sebulan yang lalu.
Beginilah nasib seorang pengangguran. Tak pernah dipusingkan oleh kemacetan dan hiruk-pikuk kota besar. Karena kerjaku hanya bengong, ya bengong. Seperti pagi ini akupun kembali bengong. Terkadang lucu juga. Tapi lama-lama aku sadar hidup menganggur seperti ini tak lucu, malah membosankan. Lalu kuputuskan untuk mencari kerja. Itulah kenapa setiap hari aku selalu bangun pagi, tidak lain hanya untuk melihat kalau-kalau ada lowongan kerja dikoran.
Dan pagi berikutnya, aku telah sibuk membuka halaman demi halaman. Namun tak juga ada lowongan. Hanya saja ada satu berita yang menyentak sekaligus membuatku sewot setengah mati. Dikoran tersebut kubaca berita tentang impor mobil-mobil mewah sementara dibawahnya tertera indeks rupiah yang belum berubah. Ini pasti gila, pikirku. Edan ! ditengah kesengsaraan seperti ini kok masih ada orang yang sempat berfoya-foya. Akalku tak dapat menerima. Sementara makian “gila !” terus keluar dari mulutku.
Menurutku ini benar-benar tidak lucu. Aku memang pengangguran, namun aku tidak terlalu dungu. Aku masih bisa beropini kalau semua ini tidak sama sekali manusiawi. Sebagai pengangguran aku tidak sendiri. Ada berjuta-juta pengangguran dinegeri ini. sehingga wajar saja bila aku sakit hati. Lah kami yang jumlahnya berjuta-juta ini untuk mendapatkan kesempatan kerja sulit bukan main, kok mereka yang sudah mapan malah semakin ditimang. Ataukan memang sudah takdir kami untuk selalu menjadi yang dianggurkan, ditendang, alu dibiarkan terkapar?
Ironisnya, kita selalu dinasehati oleh penguasa negeri kita untuk mengetatkan ikat pinggang. Aku hanya tertawa. Sebab apalagi yang perlu diketatkan kalau jatah makanku saja sudah benar-benar ketat? Dan impor mobil-mobil mewah itu benar-benar membuat jengah. Dan sadar atau tidak, impor mobil mewah-mewah itu semakin memperdalam jurang social yang memang sudah dalam. Sebagai penganggur yang juga anak bangsa, aku merasa telah dikhianati oleh bangsaku sendiri. Dan jelas gara-gara berita mobil mewah itu, kopiku menjadi dingin sehingga terpaksa aku menghutang gula lagi dan akupun terpaksa mengutang dengan kopinya juga. Akupun jadi malu !!!
email : suarabersama@gmail.com
Farreys.com exists as the one place from where you can certainly have the chance in order to make you able getting the stuffs that you need in decorating your home. This website is coming in handy as it is providing the selections orderly based on the functionality the items have. This will of course ease our trial in getting the stuffs we might need in decoration.
We can find the items of home lighting in this website so we can manage the very well maintenance to be applied on our home. We need to arrange it very carefully so we would be able to get the best lighting spread around our home.
By logging on to this website, we will be able to make our goals in having a comfortable home accomplished perfectly. You can choose to use the available light fixtures collections in there so you would be able to support your home with the best and high quality stuffs. Or you can choose to use the provided chandeliers in there to add the classy style of your home. In addition, you can also try to buy the items you like online through the website itself with the affordable prices. So what in this world would ever stop you from visiting the website?
Dulu sekali, ketika TVRI masih satu-satunya stasiun televisi di negeri ini, tidak banyak anak-anak yang menghabiskan waktunya di depan televisi. Mereka lebih senang berkeliaran di lapangan bola, main mobil-mobilan di lapangan, atau bernyanyi-nyanyi kecil di bawah sinar purnama (oh indahnya). Mereka bermain bersama-sama, tertawa, dan tidak jarang pula bertengkar. Keadaan sudah berubah kini, sudah lain sama sekali. Saat ini, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di depan televisi, entah itu menonton film atau bermain playstation. Petak umpat, galasin, tok kadal, dan permainan anak-anak lainnya kini mulai hilang (khusus di Jakarta, saya tidak tahu di kota sahabat lainnya), mulai jarang ditemukan lagi (bahkan mungkin sudah punah). Semuanya telah tergantikan dengan permainan teknologi canggih yang tentunya lebih mengasyikkan.
Teknologi memang tak ubahnya seperti gerimis yang muntah begitu saja dari langit. Tak seorangpun bisa menahannya. Aneka produk permainan, mulai dari Nintendo, playstation, x-box, hingga game-game PC merebak dipasaran. Semuanya menggiurkan dan tentunya mengasyikan. Namun dampak dari game-game tersebut rupanya banyak dikhawatirkan orang. Terutama pengaruh game tersebut pada perkembangan psikologis anak.
Banyak orang tua yang mengeluhkan anak mereka yang sering lupa waktu. Kalau sudah main playstation. Mereka jadi sulit perintah, sulit disuruh dan selalu menunda-nunda tugas sekolah. Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya berduaan dengan televisi dan playstation saja. Sehingga mereka akan tumbuh menjadi makhluk-makhluk individualis yang jarang bermain keluar dan bersosial dengan anak-anak lainnya. Tidak hanya itu, sikap merekapun jadi kaku, tidak licah, dan “klemat-klemot”. Kalau diibaratkan ayam, mereka seperti ayam ras atau ayam negeri yang manja dan bukan lagi seperti ayam kampung, yang walaupun agak kotor, namun lincah dan tanggap.
Anak-anak seharusnya memang dibiarkan bermain bebas bersama kawan-kawannya. Karena dengan begitu mereka akan belajar bersosialisasi, beradaptasi, dan belajar memahami bahwa di luar sana banyak sekali perbedaan yang harus mereka terima. Juga agar mereka menyadari bahwa hidup tidaklah sesempit ruang kamar dan layar televisi. Tidak hanya itu, mereka juga harus belajar untuk bekerja sama dengan kawan-kawannya.
Memang game-game berteknologi tinggi itu tidak selamanya berdampak buruk. Yang saya pikirkan adalah semakin banyak jiwa-jiwa sosial yang terkikis. Apalagi game-game tersebut banyak diantaranya yang berbau sadis (sadisme) dan darah (darahisme). Dan kita pun sama-sama tersenyum aneh ketika melihat wajah adik-adik kecil kita yang berseri-seri ketika berhasil memenangkan permaian dengan membunuh sang musuh. Setidaknya game itu mengajarkan kepada mereka, tidak ada pilihan kompromi atau berdamai selain membunuh untuk menuju kemenanganya. Dan ini , dalam waktu yang panjang, akan memberikan dampak psikologis yang sangat buruk bagi mereka.
email : suarabersama@gmail.com
Ketika sorang gadis dilecehkan, di rendahkan harkatnya dengan pelecehan sex, kita sama-sama naik pitam dan sama-sama menuding serta memaki-maki lelaki yang telah melakukannya. Bagaimana, wanita itu seperti juga lelaki yang harus duduk sama tinggi dan jongkok sama rendah. Sebab kaum lelaki akan dengan setia mengitip celah sempit itu hingga berjam-jam. Lagian ini bukan lagi era dimana wanita hanya berfundsi sebagai pembuat kopi suami, tapi wanta sudah beremansipasi, sudah mampu menandingin lelaki dan membuktikan bisa berkompetisi dengan sehat.
Lantas jika pelecehan seksual terus berlamgsung, siapa yang harus disalahkan? Tentu dengan mudah kita akan menunjuk tangan-tangan iseng lelaki sebagai pelaku utama. Tapai jangan lupa, ada api pasti ada sebab. Lantas apa penyebabnya?
Sebelum mari bersama-sama kita bercermin. Wanita dimata pria identik dengan keindahan. Hal ini jelas sekali tersirat dari pelukis-peluksi pria yang sangat gemar mengabadikan sosok wanita di dalam kanvasnya. Dan itu sangat alamiah, sangat manusiawi dan wajar. Karena memang makhluk yang bernama wanita itu dilebihkan dengan daya tarik. Silahkan simak puisi tentang cinta, ada sejuta bahkan lebih pujian untuk wanita dari pria. Ini bukan semata karena cinta, tapi karena daya tarik. Bukankah cinta berawal dari rasa tertarik?
Dan agaknya ada sedikit pergeseran moral di kalangan wanita. Wanita sekarang tak perlu lagi bersikap malu-malu, karena itu hanya menghambat tujuan. Wanita sudah berani bersikap, sudah berani mendobrak tata nilai yang selama ini dianggap tabu. Termasuk menentukan pilihan sendiri. Segingga ketika beberapa kawan gadis kita memakai rok mini plus kemeja tanpa bra, kita hanya manggut-manggut ketika mereka bicara tentang kebebasan bersikap. Karena toh diam-diam kita (pria) juga menikmati “tontonan” Cuma-Cuma tersebut. Belum lagi eksploitasi tubuh wanita yang kerap disamarkan sebagai karya seni dibeberapa majalah yang membuat lelaki “sumringah”.
Apakah semua ini bagian dari emansipasi?
Tentu saja tidak. Karena ibu kita Kartini tak kan sampai hati anak cucunya menjadi objek nafsu dangkal kaum lelaki. Hanya kitalah yang mungkin terlalu pandai sehingga menefsirkan emnsipasi melebihi dosis yang ditentukan. Karena itu sama-sama kita bercermin. Tak perlu mencari kambing hitam, karena bukan musthail kambing hitam itu adalah bayangan kita sendiri. Mari sama-sama kiota berbenah, sama-sama mengancingkan baju, sama-sama menutup resleting, sama-sama menggantungkan rok mini dibalik pintu, sama-sama malu diintip dan mengintip mulai sekarang. Biar pelecehan itu tak semakin menyevar bagaikan virus.
email : suarabersama@gmail.com
Have you ever playing online poker? Well, as a matter of fact, some people want to play online poker but then they were obstructed with their limited skills. Playing online poker does need certain skills and if you haven't been skilled yet, you can always have trial. However, when you have the opportunity to learn how to play online poker in an online poker room, you must not miss that opportunity.
As you can see at flopturnriver.com, there is an opportunity for you to play online poker and also learn from the professional players the important keys in playing online poker. From this website you will know that Full Tilt Poker is the largest poker room on the internet. You will enjoy the game and also the possibility of making money. You can use the Full Tilt Poker Referral Code offered by this website to get amazing bonuses. You will need to enter the Full Tilt Poker Referral Code when you create your account in order to be eligible to receive bonuses, but previously you must sign up trough the link at this website.
In addition, you will also be able to find complete information about Full Tilt Bonus that you will receive if you sign up through the link provided in this page. You can also the step that you must do in order to get the bonuses. After all, have a great playing.
Baca koran, niatnya untuk iseng, malah bikin kepala jadi pusing. Bukan karena berita-beritanya, tentang BBM atau juga politik. Yang memusingkan justru kata-katanya yang kelewat canggih dan intelek sehingga selalu nyangkut di tenggorokan. Misalnya dalam sebuah berita ekonomi, muncul kata-kata macam fluktuasi, urgensi, restrukrisasi, dekonsiliasi dan macam-macam lagi “sisi” lain yang sulit dicerna, mungkin kata-kata itu sengaja di munculkan agar koran yang bersangkutan dipandang lebih bonafid, lebih intelek dan lebih memiliki kredibilitas (kata apalagi itu?) disbanding koran-koran lain. Tapi apalah arti semua itu kalau beritanya justru sulit dicerna? Kenapa nggak menggunakan saja kata-kata yang lebih sederhana, yang ke Indonesia-indonesian, dan bukan yang ke inggris-inggrisan? Siapa coba yang sudi membaca koran sambil membolak-balik kamus?
Memang kecenderungan kalau kita ini mulai menyukai apapun yang berbau inggris. Mulai dari parfum, fashion, sampai pola pikir kita pun terkadang mengekori negeri mantan kolonial itu. Padahal apa sih istimewa inggris?
Orang inggris memang terkenal memiliki rasa kasih sayang yang tinggi kepada binatang. Mereka tidak sungkan-sungkan jika harus tidur sebantal dengan anjing. Anjing-anjing disini pasti ngiri melihat anjing-anjing di inggris disuapi makanan yang harganya jauh lebih mahal dibanding makanan para gembel. Sayangnya, perlakuan yang sama tidak berlaku bagi orang afrika. Orang yang berbeda kulit itu nasibnya jauh lebih buruk dibanding anjing.
“orang kulit putih jauh lebih mulia dibandingkan orang kulit hitam. Karena itu wajar saja jika kami perlakukan mereka seperti budak, kerbau, atau kuda untuk memenuhi kebutuhan kami.” Begitu kata apartheid. Dan Nelson Mandela pun berang. Dan apartheid pun mati. Bukan karena kebaik-hatian inggris, tapi karena tandukan “kerbau”.
Ingris, Amerika, dan “Barat” saat ini memang seperti “dewa” yang harus di puja, di sembah. Yang jika Negara berkembang lewat di depannya meski bungkuk-bungkuk badan. Sebagai “dewa” tentu saja makanan, pakaian, dan gaya hidup mereka pasti baik dan benar. Sehingga orang Indonesia, tak perlu lagi menyaring atau menimbang-nimbang, karena apa yang cocok buat mereka pastilah cocok juga buat kita, apa yang bagus buat mereka bagus pula buat kita. Nggak heran jika toko-toko pizza, hamburger, ayam goreng Kentucky menjamur baik di pusat maupun disudut-sudut kota. Nggak heran pula kalau nasib tempe atau tahu tak pernah berpindah dari warung-warung tegal. Tak peduli apakah menu barat itu mengadung kolesterol, karena kolesterol itu satu soal dan gengsi itu soal lain.
Gengsi, ya, agaknya itulah yang membuat kita membebek pada pola tingkah orang barat. Free sex, drugs, busana tipis minimalis atau baju ketat yang mirip karung beras yang penuh itu mulai bersahabat dengan kawan-kawan kita. Dan sadar atau tidak, semua itu menjadikan kita seperti sebatang rumput ayng tercabut dari akarnya. Kita juga lupa kalau kita pun punya budaya sendiri, punya nilai dan moral sendiri. Seburuknya-buruknya budaya kita, itulah yang seharusnya kita pertahankan. Baca selengkapnya......
Tatkala aku menyarungkan pedang
Dan bersimpuh di atas pangkuanmu,
Tertumpah rasa kerinduanku pada sang Ibu
Tangannya yang halus mulus membelai kepalaku, bergetarlah seluruh jiwa ragaku
Musnahlah seluruh api semangat juangku
Namun sang Ibu berkata” Anakku sayang, apabila kakimu sudah melangkah di tengah padang, tancapkanlah kakimu dalam-dalam dan tetaplah terus bergumam sebab gumam mengandung ribuan makna.
“Apabila gumam sudah menyatu dengan jiwa raga, maka gumam akan berubah menjadi teriakan-teriakan. Yang nantinya akan berubah menjadi gelombang salju yang besar yang nantinya akan mampu merobohkan isatana yang penuh kepalsuan gedung-gedung yang dihuni kaum munafik”
“Tatanan negeri ini sudah hancur Anakku”
“Dihancurkan oleh sang penguasa negeri ini
Mereka hanya bisa bersolek di depan kaca tapi membiarkannya punggungnya penuh noda dan penuh lendir hitan yang baunya kemana mana
Mereka selalu menyemprot kemaluannya dengan parfum luar negeri
Di luar berbau wangi di dalam penuh dengan bakteri
Dan hebatnya sang penguasa negeri ini pandai bermanin akrobat
Tubuhnya mampu dilipat-lipat yang akhirnya. pantat dan kemaluannya sendiri mampu dijilat-jilat
Anakku apabila pedang sudah dicabut janganlah surut janganlah bicara soal menang dan kalah, sebab menang dan kalah hanyalah mimpi, mimpi muncul dari sebuah keinginan,
Keinginan hanyalah sebuah khayalan , yang akan melahirkan harta dan kekuasaan.
Harta dan kekuasaan hanyalah balon-balon sabun yang terbang di udara
Anakku asahlah pedangmu, ajaklah mereka bertarung di tengah padang, lalu tusukkan pedangmu di tengah-tengah selangkangan mereka. Biarkan darah tertumpah di negeri ini”
Satukan gumammu menjadi revolusi!!!
selamat berjuang untuk hidup, keluarga dan Negara serta teruslah berusaha untuk menjadi yang berguna bagi orang banyak...
Dari Wiji Tukul
"VIVALA REVOLUTION"
Saya iseng mau tahu sejarah "lobang buaya" kebetulan saya pun tinggal tak jauh dari Lobang buaya ya setidaknya saya juga tinggal tak jauh dari TMII (Taman Mini Indonesia Indah), Memang penuh sejarah tempat yang saya dimana saya tinggal. Setidaknya penuh cerita dari orang-orang tua yang suka duduk dan berbincang-bincang di warung kopi yang sering kami bercanda dan berbagi cerita semua kehidupan disini.
"Dasyat" memang cerita dari orang tua (sesepuh) disini tentang lobang buaya dan sejarah tentang TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Saya pun tak sangka "abang jawara kapung" itu dulunya adalah mantan anggota PKI. Dimana dia sering dicari tentara waktu itu, untung saja dia berhasil sembunyi hingga sampe akhirnya sampe saat ini dia masih hidup. Sejarah memang sangat "Romatis". Dan saya pun tak sangka ternyata dia adalah mantan suami salah satu anggota DPR saat ini. Kisah hidup yang sangat panjang. Banyak pelajaran yang saya petik dari kumpul-kumpul bersama bapak-bapak yang suka duduk di warung kopi sebelah yang hanya menghabiskan malam-malam yang dingin.
Banyak yang konon katanya bla..bla..bla dan sebagainya. Saya pun penasaran saya mau tahu sejarah "misteri lobang buaya" untung saya hidup di zaman yang penuh tenologi, sehingga saya mudah mendapat informasi. Yang penting ada koneksi internet dan semuapun berjalan lancar (he.2). Banyak infomarsi tentang sejarah lobang buaya. Tapi setidaknya saya masih memegang sejarah dari "sesepuh" disini tentang lobang buaya. Sudah saya bilang sejarah memang "sangat romantis" walaupun penuh duka, tetap saja bagi saya sejarah itu "romantis". JAS MERAH - bung karno.
Misteri Lubang Buaya
OLEH INDARWATI AMINUDDIN dan AGUS SOPIAN
HUJAN turun deras. Datuk Banjir menutup kepalanya dengan kain sarung. Begitu juga kedua temannya. Dalam gelap, getek yang mereka naiki dibiarkan melaju sendiri mengikuti riak air. Di sebuah tempat, getek tiba-tiba berhenti. Datuk mengambil galah dan membenamkan ujungnya ke dasar air untuk mendapatkan gerak maju. Dasar air tak tersentuh. Getek tetap diam. Dicobanya lagi, masih tak berhasil. Datuk mengira, di sana ada lubang tempat persembunyian buaya.
Ketika air telah surut, Datuk kembali ke sana. Benar saja, di situ terdapat sebuah lubang. Bentuknya seperti sumur. Ia menamakannya Lubang Buaya.
Legenda Lubang Buaya berkembang dari mulut ke mulut. Terakhir, penduduk sekitar mendengarnya dari H. Yusuf, pria asal Cirebon, yang mengklaim keturunan Datuk Banjir. Mereka yang percaya, mendatangi sumur itu setiap menjelang musim hujan, sekira bulan Oktober. Di sana, mereka menyelenggarakan ruwatan. Doa mohon keselamatan dari ancaman bahaya banjir dipanjatkan. Nama Datuk Banjir yang diyakini menguasai tempat itu, mereka lafalkan dengan khidmat. Tradisi ruwatan meluas ke permohonan lain. Kepada sang penguasa sumur, warga juga meminta limpahan rejeki dan jodoh buat anak-anak gadisnya.
Sumur Lubang Buaya terletak di Desa Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, sekitar 20 kilometer dari pusat kota. Di sebelah selatannya terdapat markas besar Tentara Nasional Indonesia Cilangkap, sebelah utara Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, sebelah timur Pasar Pondok Gede, dan barat Taman Mini Indonesia Indah.
Tanah di seputaran bibir sumur berwarna merah kecoklatan dan kering. Bagian terdekat diberi terali besi bercat merah putih. Lantai marmer putih kilap mengelilingi sumur berdiameter 75 centimeter itu. Sebuah cungkup, bangunan seperti pendopo, memayunginya. Langit-langit bangunan ini diukir.
Tepat di atas lubang, sebuah cermin bergantung. Lewat cermin inilah orang bisa menatap dasar sumur yang diberi pelita. Kecuali nyala api tadi, tak ada apa-apa lagi di sana. Jangankan air, rumput pun tak tumbuh di sumur berkedalaman 12 meter itu.
Kalau Lubang Buaya ditata, itu bukan dimaksudkan untuk mengendapkan cerita rakyat tentang Datuk Banjir. Ada cerita lain yang punya dimensi politik, sekaligus jadi bagian sejarah Indonesia dengan segala kontraversinya. Di sanalah jasad tujuh perwira militer, enam jenderal dan seorang letnan, ditemukan dalam keadaan rusak. Peristiwa traumatik ini, terutama bagi militer Indonesia, dikenal dengan nama G-30-S PKI, kependekkan dari “Gerakan 30 September 1965 Partai Komunis Indonesia”.
Pembunuhan atas para perwira itu jadi antiklimaks ofensif PKI terhadap seteru-seteru politiknya. Militer memburu mereka yang dianggap bertanggung jawab. Kekuatan massa PKI habis dalam tempo cepat, menyusul pembantaian besar-besaran atas mereka di berbagai daerah oleh militer dan massa pro-militer. Sebagian di antaranya dijebloskan ke dalam penjara dan diasingkan ke pulau-pulau terpencil.
Kilas balik ofensif PKI, yang ditandai oleh pembentukan milisi dan sayap militer, sekurang-kurangnya dapat ditelusuri ke tanggal 23 Mei 1965. Saat itu, PKI menggelar peringatan ulang tahun. Dalam even ini, D.N. Aidit, ideolog PKI, menyeru kader-kadernya untuk meningkatkan sikap revolusioner.
Perayaan yang mirip ‘parade kekuatan rakyat’ itu semarak dengan poster-poster berisikan slogan-slogan PKI, termasuk propaganda pembentukan “Angkatan V”. Ini merujuk kepada kekuatan buruh dan tani untuk dipersenjatai dan dilatih kemiliteran. Empat angkatan yang telah terbentuk sebelumnya adalah militer angkatan darat, laut, udara dan kepolisian.
Ledakan kebringasan massa hanya tinggal tunggu waktu. Dan benar, seruan Aidit diikuti oleh terjunnya para eksponen PKI ke desa-desa membawa slogan “Desa Mengepung Kota”, tak ubahnya slogan Mao Tse Tung ketika mengobarkan revolusi komunisme di China.
Dalam aksinya, mereka meneriakkan kebencian terhadap unsur-unsur masyarakat yang dianggap jadi lawan-lawan politiknya. PKI mengekspresikannya dalam slogan “Tujuh Setan Desa”. Mereka adalah tuan tanah, tengkulak, bandit desa, tukang ijon, lintah darat, birokrat desa, dan amil zakat. Keadaan memanas, massa PKI melakukan serangkaian pembantaian dan pembunuhan sistematis terhadap “setan-setan” itu.
Aksi brutal PKI meresahkan rival-rivalnya. PNI (Partai Nasional Indonesia), NU (Nahdlatul Ulama), Parkindo (Partai Kebangkitan Indonesia), Partai Katolik, PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia), hingga IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia), siaga menghadapi berbagai kemungkinan seraya melontarkan berbagai kecaman. PKI di satu pihak dan lawan politiknya di pihak lain, berhadap-hadapan untuk suatu konfrontasi terbuka.
Pimpinan PKI di Jakarta, yang tergabung dalam Politbiro, lembaga kekuasaan tertinggi partai berlambang paru dan arit itu, menyambut reaksi seteru-seterunya dengan mempercepat pembentukan milisi. Juli 1965, kader-kader PKI berdatangan ke Lubang Buaya.
Di sana, mereka dilatih oleh sejumlah instruktur militer di bawah pimpinan Mayor Udara Sujono, Komandan Pasukan Pertahanan Pangkalan Halim. Tak hanya kaum pria, kader-kader PKI perempuan pun ikut serta. Kebanyakan dari mereka berasal dari organisasi yang sangat solid pada masa itu: Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).
Di akhir latihan, mereka mendiskusikan berbagai persoalan politik, terutama sepak-terjang sejumlah jenderal yang dianggap korup dan dekaden hingga Indonesia dilanda krisisis. Saat itu, laju inflasi memang sudah mencapai dua digit. Antrean bahan makanan pokok berlangsung di mana-mana. Banyak rakyat yang kelaparan.
Massa PKI berang. Mereka berteriak-teriak meminta para jenderal itu dihadirkan ke hadapan mereka.
Letnan Kolonel Untung, komandan Cakrabirawa, pasukan pengawal kepresidenan, memerintahkan Letnan Satu Dul Arief untuk menjemput dan membawa jenderal-jenderal yang telah didata. Pasukan Pasopati yang dipimpinnya segera bergerak dari Lubang Buaya sekitar pukul 03.00 WIB. Mereka menyebar ke sasaran masing-masing secara serentak.
Brigadir Jenderal Soetodjo Siswomihardjo, Brigadir Jenderal Donald Izaac Pandjaitan, Mayor Jenderal S. Parman, Mayor Jenderal MT Hardjono, Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R. Soeprapto dan Letnan Satu Piere Andries Tendean, mereka bawa ke Lubang Buaya untuk diinterogasi. Massa yang sedang kalap menganiaya mereka hingga tewas. Jenazah para korban lantas dibenamkan ke dalam sumur itu. [Versi lain mengatakan sebagian di antara mereka masih hidup ketika dijatuhkan ke sumur.]
Kisah-kisah menyeramkan pun segera mengalir. Soeharto, salah seorang jenderal yang selamat, mengkampanyekan kekejian massa PKI lewat dua koran milik militer: Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Disebutkan, sebelum dibunuh, para perwira itu disiksa dan dijadikan bagian pesta mesum Gerwani. Sejumlah perwira disayat-sayat kemaluannya dan matanya dicungkil.
Sebelum dibunuh, mereka dikelilingi kader Gerwani sambil menari-nari dan menyanyikan lagu-lagu rakyat yang sedang populer masa itu, seperti Ganyang Kabir atau Ganyang Tiga Setan Kota ciptaan Soebroto K Atmodjo, komponis Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi underbouw PKI. Genjer-genjer, lagu pop yang sedang hit waktu itu, ikut menyemarakkan. Mereka yang sudah trance kemudian menusuk-nusukkan pisau ke sejumlah anggota tubuh para korban.
Koran-koran pun memberitakan, dalam suasana yang semakin panas, beberapa wanita menanggalkan busananya, dan tenggelam dalam ritual pesta “Harum Bunga”. Pesta ini sekaligus memuncaki pesta sebelumnya sebagai suatu rangkaian penanda berakhirnya latihan militer mereka. Ada berita lain yang menyebutkan, bahwa dalam pesta itu mereka melakukan hubungan seks liar. Seorang dokter diisukan memberikan pil-pil perangsang syahwat.
“Jelaslah bagi kita,” kata Soeharto, “betapa kejamnya aniaya yang telah dilakukan oleh petualang-petualang biadab dari apa yang dinamakan Gerakan 30 September.”
Mendapat dukungan massa, Soeharto mengambil-alih tongkat komando militer Indonesia. Ia memimpin upacara pengangkatan jenazah dari dalam sumur, mempertontonkannya kepada massa, dan mempublikasi data-data forensik tentang kerusakan jenazah dan penyebabnya. Kebencian akan PKI menyebar ke seantero negeri dan melahirkan perburuan besar-besaran pada tokoh-tokoh serta anggota partai tersebut.
Sudomo, bekas menteri Koordinator Politik dan Keamanan, mengatakan, ada sejuta massa PKI yang terbunuh. Angka ini jauh lebih kecil dari perkiraan peneliti masalah ini, yang menaksir antara dua sampai tiga juta orang.
Mereka yang selamat dari pembunuhan dipenjarakan dan diasingkan ke berbagai tempat, mulai Pulau Nusakambangan [wilayah selatan Indonesia] hingga Pulau Buru [wilayah timur Indonesia]. Hampir semua tahanan politik PKI, yang jumlahnya ribuan, dipenjarakan tanpa proses pengadilan. Bahkan surat penahanan pun mereka terima setelah bertahun-tahun berada di balik jeruji besi.
Soeharto sendiri, lewat secarik kertas bernama Super Semar—kependekkan dari Surat Perintah Sebelas Maret 1966, yang diteken Presiden Soekarno—akhirnya memegang komando militer dengan kekuasaan penuh. Bahkan, dengan kekuasaannya itu, ia mengasingkan Soekarno ke Istana Bogor dengan alasan pengamanan.
Soeharto kemudian menanda-tangani surat keputusan No.1/3/1966 untuk membubarkan PKI. Surat keputusan ini diperkuat lagi dengan Ketetapan Majelis Permusyaratan Rakyat Sementara (Tap MPRS) Nomor 25/1966.
Sejak itu, selain PKI dinyatakan partai terlarang, setiap kegiatan penyebaran atau pengembangan paham dan ajaran Komunisme-Marxisme-Leninisme, dianggal illegal. Seluruh eks PKI dan sanak-familinya tak diperkenankan masuk ke dalam jajaran pemerintahan dan militer. Di kemudian hari, mereka pun tak bisa jadi pegawai swasta karena swasta takut memperkerjakan mereka.
Bandul perubahan politik berjalan dengan cepat. Soeharto, yang sebelumnya sama sekali tak populer di mata rakyat, makin dielu-elukan sebagai penyelamat negara. Tahun 1967, ia diangkat jadi presiden kedua Indonesia oleh MPRS, yang diketuai Jenderal A.H. Nasution. Era Orde Baru dimulai.
Pada tahun itu juga, Soeharto langsung memerintahkan aparatnya untuk membebaskan kawasan Lubang Buaya dari hunian penduduk dalam radius 14 hektar. Mereka yang terusir kebanyakan memilih kampung Rawabinong dan Bambu Apus, beberapa kilometer dari Lubang Buaya, sebagai daerah tujuan.
Tahun 1973, kawasan itu diresmikan sebagai jadi Monumen Pancasila Sakti. Upacara kenegaraan 1 Oktober untuk mengenang peristiwa G-30-S PKI, segera mengubur upacara rakyat ruwatan Oktober untuk menyeru Datuk Banjir.
Ketujuh perwira militer yang terbunuh diabadikan dalam tugu, patung dan relief yang berada sekitar 45 meter sebelah utara cungkup sumur Lubang Buaya. Patung-patung mereka dibangun setinggi kurang lebih 17 meter dengan instalasi patung Burung Garuda di belakangnya. Dinding berbentuk trapesium, berdiri kokoh di atas landasan berukuran 17 x 17 meter bujur sangkar dengan tinggi 7 anak tangga.
Mereka berdiri dalam formasi setelah lingkaran, mulai Soetodjo Siswomiharjo, DI Pandjaitan, S. Parman, Ahmad Yani, R. Soeprapto, MT Hardjono dan AP Tendean. Salah satu patung di monumen tersebut, perwujudan A. Yani, yang di masa lalu jadi saingan Soeharto dalam karir kemiliteran, menunjukkan tangannya ke arah sumur Lubang Buaya—seolah hendak mengatakan, “Di sanalah kami mati.” Mati fisik, mati politik.
Untuk masuk ke dalam monumen, orang harus berjalan sepanjang satu kilometer dari Jalan Raya Pondok Gede. Ucapan “Selamat Datang” terukir di di atas batu besar berwarna hitam. Kembang kertas berada di sepanjang jalan masuk. Sekeliling monumen dibuatkan tembok tinggi dari muka hingga belakang.
Di areal monumen, terdapat museum. Di sini, pengunjung bisa mendengarkan riwayat singkat para jenderal yang terbunuh itu, dengan memasukan koin dan menggenggam gagang telepon di bawah foto mereka. Bagi yang ingin menonton film G-30-S PKI disediakan tempat khusus. Mereka yang ingin membaca, disediakan perpustakaan.
Beberapa bangunan bekas orang-orang PKI menjalankan aktivitasnya bertebaran di sana. Di sebelah kiri sumur, misalnya, terdapat bangunan berukuran sekitar 8 m x 15,5 m yang dijadikan tempat penyiksaan para perwira itu. Bangunan ini terbuat dari ayaman bambu dan bilah-bilah papan yang dicat coklat dengan jendela kaca hitam. Sebelum G-30-S meletus, bangunan tersebut dulunya Sekolah Rakyat.
Di dalam ruangan, terdapat 18 patung. Sebagian di antaranya, patung perwira militer yang sedang disiksa. Di depan mereka, berdiri empat patung perempuan aktivis Gerwani. Salah satunya mengenakan busana tradisional kebaya putih berbunga-bunga kecil, sarung batik, dengan rambut panjang terurai. Ia memegang pentungan dalam sorot mata bengis.
Untuk melihat patung-patung itu, tersedia tiga jendela yang terbuka lebar. Penerangannya jelek. Debu-debu yang menempel di patung-patung tersebut memberi kesan kurang perawatan.
Tak jauh dari sana, berdiri sebuah bangunan bekas dapur umum, yang kabarnya menyimpan suara-suara aneh tanpa wujud. “Tertawa cekikikan dan bahkan melenguh,” kata Yasan Suryana, seorang penjaga yang sudah 17 tahun bertugas sebagai pegawai honorer.
Terlihat, genteng rumah itu pernah direnovasi. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu bercat putih, dengan beberapa bagian dicat hijau. Menurut cerita warga di sana, rumah itu dulunya milik Ibu Amroh, seorang pedagang Cingkau (pakaian keliling). Tak ada yang tahu, di mana Ibu Amroh atau keturunannya berada kini.
Sekitar dua puluh meter dari dapur umum, terdapat rumah Haji Sueb, seorang penjahit. Ada beberapa bilik di dalamnya, dengan tiga lampu petromaks yang berdebu, mesin jahit di ruang tengah dan lemari pakaian dengan kaca besar di pintunya.
Rumah Haji Sueb dianggap sebagai pos komando PKI. Letnan Kolonel Untung, mengatur rencana penculikan terhadap perwira militer dari sana. Haji Sueb sendiri telah lama meninggal, setelah mengalami penahanan panjang di Pulau Buru. Keluarganya trauma dan tak pernah yakin Haji Sueb terlibat dengan gerakan itu. Suara-suara aneh pun sering terdengar di sini. Sejumlah penjaga, konon pernah mendengar suara tangis.
Kisah mistis masih bisa diperpanjang. Elizabeth [tanpa nama referensi kedua], pegawai museum, yang dianggap punya indera keenam oleh teman-temannya, sering melihat sosok perempuan yang tertawa-tawa saat berlangsung apel petugas jaga, yang kesemuanya berjumlah enam orang. Perempuan itu duduk di bawah air mancur yang menghadap Lapangan Saptamarga, tak jauh dari sumur.
Cerita-cerita mistis barangkali sama absurd-nya dengan cerita-cerita perlakuan kader-kader PKI terhadap para perwira militer yang dibunuh, termasuk penyayatan atas kemaluannya. Tahun 1987, dalam jurnal Indonesia terbitan Universitas Cornell, Ben Anderson, seorang ahli sejarah tentang Indonesia, mengungkapkan laporan dokter yang membuat visum et repertum atas jenazah para korban.
Dalam resume penelitian tim dokter yang diketuai Brigjen TNI dr Roebiono Kertapati itu, tertulis bahwa tak ada kemaluan korban yang disayat. Hal ini sekaligus mengukuhkan ucapan Presiden Soekarno, yang sebelumnya sempat mengatakan, bahwa 100 silet yang dibagikan kepada massa untuk menyayat-nyayat tubuh korban tak masuk akal.
Saskia Eleonora Wieringa—seorang sarjana Belanda penulis The Politicization of Gender Relations in Indonesia—menilai penjelasan resmi Orde Baru atas pembunuhan Lubang Buaya sebagai fantasi aneh. Dia mengatakan, penguasa militer dan golongan konservatif khawatir melihat kekuatan perempuan di zaman Soekarno, yang boleh jadi akan mengebiri kekuatan politik mereka. Dari sinilah mengalir fantasi aneh tentang pengebirian para perwira di Lubang Buaya itu.
“Semua pemberitaan mengenai Gerwani adalah fitnah yang dimulai oleh Soeharto sendiri,” kata Sulami, 74 tahun, tokoh Gerwani. Ia, yang kini ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966, pernah melakukan identifikasi terhadap mereka yang dibunuh ketika itu, mulai tempat, cara, hingga siapa saja yang membunuh.
Keberadaan sejumlah anggota Gerwani di Lubang Buaya itu pun masih penuh kabut. Beberapa peneliti justru tak melihat tindakan mereka sebagai usaha persiapan kudeta, melainkan dimaksudkan untuk memberi dukungan terhadap proyek politik Soekarno dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia. Mereka adalah bagian dari 20 juta relawan yang hendak memenuhi ajakan Soekarno.
Sejumlah studi kritis mengungkapkan fakta-fakta lain, yang menunjukkan bahwa ofensif PKI justru dipicu oleh rencana kudeta oleh pihak militer. Dalam sebuah pledoi di muka Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada 19 Februari 1966, pentolan PKI Nyono memberi kesaksian, bahwa pihak militer telah merancang rencana kudeta di bawah kendali apa yang dinamakan “Dewan Jenderal”. Untuk mengimbangi kekuatan ini, PKI membuat “Dewan Revolusi”.
Perihal Dewan Jenderal diketahui Nyono dari sejumlah informasi yang rinci, lengkap mendeskripsikan tanggal, jam, tempat, nama, acara, persoalan dan lain–lainnya. “Yang saya masih ingat,” ungkap Nyono, “ialah bahwa tidak semua jenderal masuk dalam Dewan Jenderal. Jumlah anggotanya kurang lebih 40 Jenderal, diantaranya kurang lebih 25 orang aktif menjalankan politik Dewan Jenderal. Tokoh–tokoh utamanya ada tujuh orang yaitu Jenderal Nasution, A..Yani, Suparman, Haryono, Suprapto, Sutoyo, dan Sukendro.”
Untuk mencapai ambisinya, mereka sering menggelar berbagai rapat. Terakhir, menurut ingatan Nyono, mereka mengadakan rapat pleno pada 21 September 1965 di Jl. Dr. Abdulrachman Saleh, Jakarta. Rapat yang dipimpin oleh Suparman dan Haryono ini, mensahkan rencana komposisi Kabinet Dewan Jenderal dan menetapkan waktu dilakukannya kudeta, yaitu sebelum Hari Angkatan Perang pada tanggal 5 Oktober 1965.
Komposisi kepemimpinannya, tambah Nyono, terdiri atas AH Nasution (Perdana Menteri), Ruslan Abdul Gani (Wakil Perdana Menteri), A. Yani (Menteri Pertahanan dan Keamanan), Suprapto (Menteri Dalam Negeri), Haryono (Menteri Luar Negeri), Sutoyo (Menteri Kehakiman) serta Suparman (Jaksa Agung).
Apapun, suara Nyono tenggelam di antara arus besar pembersihan orang-orang PKI dan catatan-catatan resmi yang bersumber dari pemerintah. Demikian pula hasil penelitian-penelitian forensik yang mencoba mengungkap sekitar kekejaman orang-orang PKI terhadap para perwira militer di Lubang Buaya itu. Penolakan sejumlah politikus untuk menghapus Tap MPRS Nomor 25/1966, ikut melestarikan cerita versi Orde Baru sebagai satu-satunya referensi sejarah sekitar peristiwa G-30-S PKI.
Ide penghapusan bukan hanya datang dari para peneliti, sejarawan dan masyarakat awam. Abdurrahman Wahid, presiden ke-4 Indonesia, sempat membicarakannya secara terbuka, walau mendapat kecaman dari sana-sini, termasuk dari Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi massa Islam terbesar di Indonesia yang pernah dipimpinnya. Mengikuti pembicaraannya, Wahid bahkan melontarkan permintaan maaf atas nama rakyat terhadap orang-orang PKI yang selama puluhan tahun ditindas oleh negara di bawah pemerintahan Orde Baru.
Megawati Sukarnaputri, pengganti Wahid, tak pernah bertindak seperti itu. Tapi, di tahun 2002, ia tak hadir pada upacara 1 Oktober di Lubang Buaya. Apakah ini bentuk penolakan Megawati atas sejarah versi Orde Baru itu, tak pernah jelas. Tapi, sejatinya, ketidakhadiran Presiden dimungkinkan oleh protokoler negara sejak lahirnya Keputusan Presiden tentang perubahan nama peringatan: dari “Hari Kesaktian Pancasila” menjadi “Hari Mengenang Tragedi Nasional Akibat Pengkhianatan G-30-S PKI terhadap Pancasila”.
Sekadar mengikuti peraturan? Menteri Pendidikan Nasional A. Malik Fadjar, yang ditunjuk ketua panitia pusat peringatan saat itu, mengatakan kepada pers bahwa absennya Megawati pada upacara tersebut karena ia tak ingin “membuka luka lama.”
Sumber: MESIASS
Sejarah lobang buaya, memang menjadi catatan bangsa yang tersendiri bagi negara ini.
If you are a sports big fan, any kind of sport, you might understand clearly how supporting your favorite team or favorite player directly on the match will be way more fun that watching on TV. Besides, not all of the game of your favorite team reported live on TV so it will be better if you can see it directly as a supporter. The problem is, there are a lot of supporters that have the same thinking as you now. This condition make it quite difficult to get the tickets you need, you might even have to stand on queue for hours to get the ticket.
Fortunately, now you can get a more convenient service on getting the ticket you are looking for. Just by browsing at the acheapseat.com, you will be able to get the ticket for your favorite game easily. Are you looking for Dunkin Donuts Center Tickets to watch your favorite basketball team to play on their match? Or maybe you are looking for Yankee Stadium Tickets for the next Yankees' baseball game? You can find the complete schedule as well as ordering the tickets here.
See also the latest schedule of the Quicken Loans Arena Tickets if you can see your favorite singer that will make a concert here and get the Quicken Loans Arena Tickets easier with the service from this website.
Percaya apa tidak kalian dengan hantu, setan dan teman-temannya ?...
Ini ada data tempat-tempat angker yang ada di Jakarta silakan anda baca :
* Museum Satria Mandala, Disalah satu ruang khususnya diruang tangga gedung ini pernah terjadi kecelakaan yaitu jatuhnya seorang penjaga lelaki hingga dia tewas dan konon kabarnya hantu lelaki itu masih suka berkeliaran di sekitar museum.
* Kali Sunter Ancol, Kali ini angker karena, pernah ada satu Metromini yang terperosok kedalamnya hingga menenggelamkan sebagian besar penumpangnya.
* Yogya Dept. Store Klender, Dikatakan angker karena pernah terjadi kematian masal di dalam gedung ini. Peristiwa ini terjadi tepat pada tanggal 15 Mei 1998 yang terkenal dengan peristiwa Mei Kelabu. Dan suatu malam selang tiga hari dari waktu kejadian sering terlihat kerumunan orang yang berseragam seperti pegawai dept store yang hendak menunggu angkutan umum bila di lihat jelas yang tampak hanya pemandangan malam yang sepi.
* BC Bar (sebelah Hard Rock Cafe) Gedung Sarinah Thamrin, Dikarenakan pernah terjadi tragedi pembunuhan didalam bar ini yang melibatkan banyak preman, pada waktu-waktu tertentu anda akan dapat merasakan semilir harum bunga kematian diareal teras berdarah tempat mayat bersemayam. Yang lebih meyakinkan lagi cerita dari satpam (penjaga) Hard Rock bahwa ia pernah digoda (dicolek) dari arah belakang yang tak jelas siapa pelakunya karena pada saat itu dia seorang diri. Atau cerita dari petugas kebersihan, tepat pada petang hari saat ia melakukan kegiatannya sambil bernyanyi-nyayi kecil, tiba-tiba ia mendengar nyanyian balasan padahal suasana ruangan pada saat itu sepi (hanya ia seorang).
* Apartemen Casablanca, apartemen ini angker dikarenakan dibangun diatas lahan pemakaman umum.
* Apartemen Cempaka Mas Lantai 6 Blok E, karena terdapat tuyul besar.
* Sebuah rumah yg terletak di daerah Pondok Indah, konon kabarnya rumah itu sangat berhantu dan jika ada yg mencoba untuk menempatinya maka penghuninya akan dihantui terus menerus dan pasti akan dibuat tidak betah di rumah itu. Dan rumah ini konon adalah tempat para hantu-hantu berkumpul dan mempunyai daya tarik yg kuat dan konon sekarang kalau ada yg memasuki rumah itu maka orang itu sudah dipastikan tidak akan pernah kembali lagi.
* Lintasan Kereta Bintaro, Tempat yang terkenal dengan tabrakan kereta yang dahsyat yang banyak memakan korban ratusan nyawa hilang dengan mengenaskan. Ditempat ini sering berkeliaran organ tubuh tak bertuan, yang senantiasa menampakkan diri yang membuat suasana diareal lintasan kereta tersebut menjadi kawasan angker.
* Lapangan Gang Tuyu (Halim), Pernah kedapatan disatu sisi lapangan tersebut seorang wanita gantung diri dibawah menara tangki air, yang menurut masyarakat setempat wanita tersebut sering menampakkan diri dengan diiringi tangis yang sangat memilukan.
* Saluran air Pangkalan Ojek STEKPI Kalibata, Di saluran air yang dekat pangkalan ojek STEKPI pernah ditemukan mayat seorang pekerja kasar (buruh) yang terkubur hidup-hidup. Kejadian ini terjadi sebelum bangunan disekitarnya berdiri waktu itu tempat ini disebut masyarakat setempat lapangan, karena memang dulunya ada lapangan bola yang dimiliki PT. Bata.
* Arena Balapan Mobil Ancol, Di tempat ini pertamakali ditemukan mayat terpotong 13 yang sampai saat ini pembunuhnya tak pernah ditemukan. Legenda mayat terpotong 13 adalah rekor tersendiri yang mengawali peristiwa mayat terpotong-potong lainnya di seputar Jakarta.
* Lobang Buaya Pondok Gede, Ditempat ini telah terjadi pembantaian terhadap anak-anak manusia tanpa mengindahkan hati nurani, kebiadabannya terekam abadi dalam sejarah bangsa Indonesia. Masyarakat setempat menyebut tempat ini sebagai tempat yang angker.
* Hotel Horison Ancol, Di hotel ini sering telihat wanita cantik yang melintas didepan mata tapi saat diperjelas wanita tersebut hilang entah kemana. Konon wanita tersebut tak lain adalah sang tokoh legendaris 'Si Manis Jembatan Ancol'. Dan kabarnya management hotel membuat kamar khusus untuk si hantu manis ini. Tidak percaya datang saja sendiri.
* Hotel Sofyan Cikini, Dihotel ini pernah terjadi seorang wanita cantik menemui ajalnya karena overdosis ekstasi. Konon kata teman-teman wanita yang naas ini, mereka sering melihat wujud sahabatnya disalah satu sudut hotel tersebut dalam keremangan lampu diskoteknya (masih dalam fasilitas hotel).
* Samudra Beach Hotel Pelabuhan Ratu, Dihotel ini bersemayam seorang ratu dunia gaib yang terkenal diseluruh nusantara dan oleh pihak management hotel diberikan kamar khusus yang terletak di lantai 3 No.315. Kalau tidak percaya datang saja dan buktikan.
* Jalan Rukun Tebet Utara, Disaat hujan rintik-rintik menjelang magrib didepan jalan rukun pernah telihat sosok lelaki bepakaian serba hitam dengan seluruh wajah ditutupi kapas dengan tangan memegang payung menatap kedepan. Kabar dari masyarakat setempat itu adalah setan salah satu warganya yang meninggal secara misterius.
* Bongkaran Tanah Abang, Dilokasi rawan kejahatan ini dikatakan angker oleh warga setempat karena sudah beberapa kali ditemukan mayat tanpa identitas, biasanya mayat tersebut akibat korban kejahatan dan pembunuhnya selalu misterius dan tidak ditemukan.
* Pertigaan PT.Dupa belakang Kalibata Mall, Dilokasi ini angker karena pernah terjadi peristiwa terbunuhnya seorang model yang konon pembunuhnya sampai saat ini masih belum jelas.
* Tebet Timur (Galur), Dilokasi ini pernah terlihat kurung batang (tempat usungan mayat) yang terbang melayang.
* Mayetisk Jakarta selatan, Dilokosi ini khususnya dalam lokasi hutan kotanya terdapat banyak sekali mahluk gaib yang biasa disebut 'kuntilanak' warga sekitarnya hampir pernah melihat mahluk tersebut khususnya para petugas rondanya.
* Jembatan Kali Kalibata, Dijembatan ini bisa disebut angker oleh warga sekitar jembatan karena sering terlihat orang yang hendak bunuh diri atau bunuh diri, dan dibawah jembatan ini sering juga ditemukan mayat yang hanyut dan tersangkut pada bambu-bambu tunggak yang terdapat dibawahnya.
* Gedung-gedung sekitar Batavia Cafe kota, Gendung-gendung disekitar Batavia Cafe dikatakan angker karena, sering telihat sosok lelaki besar berpakaian kolonial Belanda berjalan tegap melintas diantara pilar gedung-gedung tua tesebut, biasanya yang melihat adalah orang yang baru pertama kali pergi dimalam hari dan melintasi rute Jakarta Kota lewat Batavia cafe.
* Lipstik Diskotik Blok M, Angker karena di dalam diskotik ini khususnya diruang kamar kecil pernah terjadi pembunuhan terhadap seorang pemuda dengan julukan 'Budi Lupus', ia mati terbunuh dengan beberapa tikaman pisau ditubuhnya. Sosok jasadnya sering menampakan diri di dalam kamar kecil diskotik ini.
* Sebuah Hotel di depan Aquarius Mahakam, Hotel ini angker karena pernah terjadi peristiwa kematian seorang wanita muda akibat bunuh diri, kata salah satu tamu hotel ini sosok wanita itu sering menampakan wujudnya didepan kamar hotel tempat ia mengakhiri hidupnya. Benar atau tidak buktikan sendiri.
* Rumah Kentang di kawasan Menteng, Kalau kita melintasi rumah ini kita akan mencium bau kentang rebus. Musibah itu datang dari anak pemilik rumah yang berusia hampir 2 tahun yang sedang di gendong oleh pembantu rumah tersebut entah bagaimana terperosok kedalam kuali besar tempat merubus kentang dan seketika itu juga menemui ajalnya. Sejak kejadian itu rumah itu angker, dan anehnya bau kentang dirumah itu masih terus menyebar mungkin ini tanda arwah sang anak masih ada disana.
* Sebuah rumah di Pondok Indah, Rumah yang satu ini memang berkesan mati, tidak ada penerangan yang diaktifkan dirumah ini dan letaknya persis dipinggir jalan ramai depan PI Mall. Dirumah ini kabarnya sering terlihat wanita berpakaian daster berwarna putih panjang berdiri diteras atas. Bila di sorot dengan lampu atau senter ia tak nampak tapi bila lampu sorot di matikan ia kembali tampak. Padahal rumah ini tak berpenghuni.
* Danau dikawasan perkemahan Pramuka Cibubur, Danau yang berada di areal kawasan bumi perkemahan Pramuka Cibubur ini termasuk dalam katagori angker karena didanau ini pernah ditemukan mayat seorang wanita berseragam pramuka. Kabarnya sejak kejadian itu sering terlihat sosok wanita berseragam pramuka berdiam diri menghadap danau tetapi ketika di dekati wanita berseragam pramuka itu lenyap entah kemana, yang terasa hanya hembusan angin yang menerpa wajah orang yang mendekatinya.
* Danau taman makam pahlawan Kalibata, Danau ini bisa dikatakan angker karena sering kejadian terlihat sosok lelaki, wanita atau anak-anak yang asyik memandang jauh ke tengah danau tapi bila kita pastikan sosok manusia tersebut sesungguhnya tidak ada. Ada kejadian lagi kalau kita memancing sendiri ditepi danau ini, kita dilihat orang sedang mancing berduaan dengan teman sesungguhnya kita tidak dengan siapa-siapa.
* Jeruk Purut, tempat ini dikatakan angker karena ada seorang Pastur yang membawa kepalanya ditangan sebelah dan selalu diiringi oleh anjingnya yang berwarna hitam. Pastur tersebut dibunuh di jaman masa penjajahan Belanda.
* Jalan Kuningan, Jalan ini dikatakan angker karena sering terjadi kecelakaan, para pengendara motor atau mobil sering kali melihat sosok manusia / kepala tanpa tubuh yang dengan tiba-tiba menyeberang jalan.
* Jembatan Ancol, Jembatan ini dikatakan angker karena ditempat ini sering terlihat sosok wanita cantik, penduduk setempat biasa memanggilnya dengan sebutan 'si manis jembatan ancol'.
* Gang pengantin Ali, Gang (jalan kecil) ini dikatakan angker karena ditempat ini pernah hilang secara gaib seorang pengantin lelaki yang bernama Ali, dan menjadi legenda sampai saat ini.
* Gedung Regent Kuningan, Gedung ini dikatakan angker karena sering terlihat hantu wanita dilantai 23.
* Putri Duyung Ancol, Salah satu bangunan putri duyung ancol pernah ada suatu kejadian dimana seorang wanita simpanan terbunuh secara mengenaskan.
* Terowongan Casablanca, terowongan (jalan lintas bawah tanah) yang ada dibawah jalan Kuningan (Rasuna Said) dikatakan angker karena pernah ditemukan, seorang lelaki setengah baya gantung diri dengan menggunakan kain spanduk.
Anda mau menambah daftar-daftar tempat angker yang ada di Jakarta? Silakan komentar di bawah ini?
BAGAIMANA “Marjinal” merayakan ulangtahunnya? Grup punk asal Jakarta ini, sekaligus komunitasnya Sapibetina, bikin acara di Newseum, sebuah cafe-bar di jalan veteran, dekat masjid Istiqlal tapi juga bersebelahan markas besar militer Indonesia. Pilihan tempat ini, yang jauh dari kesan komunitas punk, terdengar dilematis. Namun, Helmi Haska, media campaign komunitas tersebut, mengatakan pada saya bahwa itu sebagai bentuk memperluas “ruang-ruang ekspresi kesenian” punk. Haska penulis buku “Bob Marley: Rasta, Reggae. Revolusi.” Ia juga editor blog Marjinal serta pengelola zine “Black Cat.” Zine sejenis newsletter yang dibangun atas dasar semangat indie, berlawanan dengan maga-zine. Zine umumnya fotokopin, hitam-putih, ukuran kecil. Black Cat sendiri sudah terbit dua edisi.
Acara ulangtahun ke-12 itu pada malam 22 Desember kemarin, bertepatan dengan apa yang orang santer sebut “hari Ibu.” Taufik Rahzen, pemilik cafe itu, membuka acara dengan mengatakan tanggal itu juga hari lahir anak semata wayangnya. Dia juga bercerita soal ibunya yang baru saja sembuh dari rawat rumahsakit, yang sepanjang usia baru kali itu dirawat. Rahzen seorang yang sangat sayang dengan ibunda dan anaknya.
Giliran Mike didaulat bicara di atas panggung. Dia bilang “sangat berterimakasih” pada semua hadirin yang datang. Dia ditemani Bobby, basist Marjinal, serta seorang yang memainkan akordeon dan drummer Adit. Mereka menyanyi sebentar, sebuah lagu tentang ibu dan ‘Bebaskan’—satu lagu dari album ‘Predator.’ Selagi mereka bernyanyi, slide gambar memancar ke dinding panggung dari sebuah infokus yang terhubung ke laptop di atas meja bar. Gambar-gambar itu rangkaian desain bikinan Bobby. Kesannya artistik saat cahaya dari berbagai desain itu menimpa wajah orang-orang di atas panggung.
Bobby, selain jago menato, adalah tulangpunggung desain kaos-kaos Marjinal. Dia membikinnya dengan teknik cukil kayu. Ini memainkan gradasi warna hitam dan putih. Selain kaos, ada juga aksesoris lain berupa pin maupun emblem, dijual melalui jejaring indie. Di acara ini, di dekat ujung tangga, Imam, anak Pekalongan, bertugas menjual berbagai kreasi Marjinal tersebut. Ada yang membeli, ada juga yang sekadar melihat-lihat.
Ada acara potong kue. Bagi-bagi nasi kucing. Juga minum teh dan kopi. Seiring malam, pengunjung makin padat memenuhi ruangan cafe.
Mereka anak-anak muda. Celana ketat. Rambut mohawk. Sepatu sneaker. Tapi banyak juga yang tampilan biasa. Adik Bobby, yang jago IT, dikenalkan pada saya seperti ‘Truman Capote’—kacamata minus tebal. Saya juga bertemu dengan Yudhistira Ananta Toer, anak bungsu Pram, yang menemani anaknya, Adit. Keluarga Pram memang dekat dengan Marjinal.
Mujib Hermani, saudara kandung Rahzen, datang dengan keluarganya. Mujib anak muda yang tergolong dekat dengan keluarga Pram. Muhidin M. Dahlan, penulis prolog buku-buku Pram terbitan Lentera Dipantara, menyebut Mujib sebagai “anak ideologi” Pram. Mujib pula yang memperkenalkan ide-ide pemikiran Pram dengan Marjinal dan belakangan mereka seperti saudara. Saya sendiri merasakan acara ulangtahun tersebut seperti acara keluarga.
Ada juga pemutaran video dokumenter tentang komunitas Sapibetina. Mike bilang video tersebut dibikin oleh Aji, seorang mahasiswa dari BSI untuk tugas akhirnya. Lalu.
pada kesempatan itu diputar juga film Punk Im Hungel (Punk di Hutan Rimba) karya Andreas Greiger dari Jerman, yang tahun lalu ditayangkan televisi Jerman, DW Tv, merupakan reportase tour band CBU (Cluster Bomb Unit) di beberapa daerah di tanah air, serta liputan terhadap scene punk di beberapa scene punk di Jakarta. tak hanya tentang Marjinal. Pemutaran film tersebut, kata Mike di saat saya pamit pulang, merupakan bentuk anti-kritik terhadap sebagian komunitas punk yang mempermasalahkan Marjinal masuk televisi. Dokumenter itu menyiarkan kelompok punk penentang Marjinal. ”Mereka juga masuk tivi kan?!” kata Mike.
Ini sebetulnya masalah lama, lebih dari setahun lalu. Saat itu Marjinal ditentang karena menerima kru RCTI membuat dokumentasi komunitasnya. Film tersebut diputar untuk acara “Urban,” sebuah program baru dari televisi swasta itu, yang belakangan tak bertahan lama. Durasinya 30 menit, sebagian dipotong untuk iklan. Di akhir tayangan ia memperlihatkan para street punks dikejar-kejar polisi di wilayah Blok M. Oleh sebagian komunitas punk, gambar tersebut “dipermasalahkan.”
Marjinal dan Taring Babi bukannya tanpa protes. Mereka minta reporter “Urban” menyerahkan rekaman secara utuh. Tapi, setahu saya, ini tidak ditanggapi. Perdebatan makin tak sehat karena Eko dari Bunga Hitam, yang memasalahkan kejadian itu, menyebarkan kampanye negatif terhadap Marjinal. Misalnya, Marjinal menjelek-jelekkan Anto Baret, seniman gaek jalanan yang memiliki “warung apresiasi’ di Bulungan.
Ini tak benar. Saya pernah bertemu Anto Baret dan bahkan dia tidak tahu sama sekali akan kampanye tersebut. Intinya, Marjinal dianggap dekat dengan komunitas Taman Ismail Marzuki. Adapun “Wapres” adalah tempat kesenian lain lagi di Jakarta Selatan. Mike dan Haska maupun Mujib berasumsi bahwa kampanye negatif itu dibikin agar ada anggapan Marjinal “punya musuh” dengan Bulungan. Sasarannya untuk para punker yang awam, yang mudah diasut, untuk ikutan “memusuhi” atau “menjauhi” Marjinal. Nyatanya, penulis Chavcay Syaifullah yang dekat dengan Anto Baret mengatakan kampanye tersebut adalah “omong besar.” Marjinal bahkan ikut main acara ulangtahun KPJ, kelompok pengamen jalanan yang didirikan Anto Baret.
Persoalan ini jadi kacau karena stasiun yang menyiarkan dokumentasi itu juga tak punya kesan tanggungjawab terhadap liputannya. Ada kesan tayangan itu dibikin lebih “dramatis.” Misalnya banyak pernyataan Mike tentang street punk yang dipotong, yang konteks ucapannya “Street punk adalah kawan-kawan yang tengah mencari jati dirinya.” Umumnya street punk adalah anak usia remaja, yang putus sekolah, menjadi pengamen dan merasa menemukan jatidiri dari musik atau lagu-lagu punk.
Tentu saja, “dramatisasi” yang kental muncul dari gambar punker yang dikejar-kejar itu. Kesannya memang mereka dianggap seperti penjahat, atau dalam kamus birokrasi Indopahit disebut “sampah masyarakat.” Tayangan itu akhirnya jatuh dalam stigmatisasi, sesuatu yang dilawan kelompok Taring Babi selama ini, bahwa punk itu jahat, berdosa—pokoknya yang berkonotasi negatif, dan penilainnya cuma hitam-putih. Pendek kata, tayangan itu memberikan kesan monoton: Marjinal dianggap punk yang baik, sementra street punks buruk. Padahal dunia punk tak sesederhana itu. Saya kira media di Jakarta harus mulai memikirkan tanggungjawab terhadap liputan-liputannya. Paling tidak mereka punya ombudsman yang bisa jadi tempat warga mengadu!
Bagi saya sendiri, punk dekat dengan media tak perlu dijadikan suatu soal yang aneh. Yang penting mereka bisa menjaga identitasnya dari sistem mapan itu. Tidak meninggalkan lingkungan pinggiran mereka yang selama ini menjadi tempat lahir dan sumber kreasi serta relasi sosial juga pilihan politisnya. Relasi media diperlukan untuk menyebarkan gagasan punk, yakni ‘Do it Yourself’—sebagaimana ucapan David Bryne, leader grup punk Talking Heads juga legenda punk New York pada BBC TV tahun 1995. Mereka memasuki sistem yang mapan, media mainstream, justru untuk menyebarkan gugatan terhadap kemapanan yang hipokrit. Marjinal bahkan diliput oleh radio Voice of Human Rights dan juga terakhir ia muncul dalam tayangan Elshinta TV.
Andy Bennett dalam “Culture of Popular Music,” menuturkan punk London bahkan memiliki hubungan dekat dengan media. Ini merujuk perbedaan dengan grup punk dari New York, awal kelahiran musik punk tahun 60an, yang memilih menghindari bahkan bersikap antipati terhadap media. Musik punk memang kemudian lebih populer di tanah Inggris, melalui kehadiran Sex Pistols dengan apa yang disebut gelombang perlawanan ‘Anarchy in U.K.’ Banyak anggapan salah soal sejarah musik punk karena kepopuleran ini.
Dalam tulisan saya, yang diminta Helmi Haska untuk zine “Black Cat’ edisi ketiga nanti, saya mengutip istilah Claire Holt, pemikir kesenian Indonesia dari Cornell University, untuk menyamakan situasi pengalaman musik Marjinal dengan perkembangan berbagai seni tradisi di nusantara. Saya mengutip apa yang disebut Holt “gerak osmosis,” yaitu proses kebudayaan dari luar yang tidak asal diduplikat mentah-mentah. Ada selalu pengaruh asing yang muncul, misalnya pengaruh India pada cerita Ramayana versi Jawa. Tapi hikayat Ramayana Jawa tetaplah milik folklore Jawa.
Ini terjadi juga dalam Marjinal. Musik punk, yang hukum bakunya memainkan dua not nada menjadi semacam hukum univeral. Dalam Marjinal hal itu senantiasa ada, tapi lagu-lagu Marjinal menggunakan bahasa Melayu, juga ada sejenis harmonisasi. Lagu-lagu Marjinal bukan asal musik keras, vokal gahar, dan teriak-teriak yang melenting jauh dari titik-titik nada. Mereka paham akan harmonisasi. Lagu ‘Luka Kita’ tentang duka tsunami Aceh, misalnya, memakai koor anak-anak kampung sekitar kontrakan mereka, Setu Babakan, juga sebelumnya diiringi petikan gitar akustik dan bahkan ditutup suara dentuman dari ember plastik!
Mereka juga menyitir anekdot Betawi macam ‘ngehe’ atau ‘madikipe.’ Mereka bilang globalisasi itu ‘tai laso’—kata umpatan dari Manado. Mereka juga memakai istilah rakyat Makassar untuk menyebut gotong-royong, ‘Rencong Mak Rencong’ sebagai judul lagu tentang persaudaran interpersonal antar rakyat kecil. Dalam satu desain bikinan Bobby, sepotong wajah Che Guevara memakai baret yang terkenal itu, diadopsi menjadi wajah Benyamin Sueb. Jakmania, suporter Persija, suka mengibar-ibarkan baliho wajah ‘Che Ben’ tersebut pada saat klub sepakbolanya bermain di Senayan.
Pada akhirnya, punk bukanlah sekadar musik. Ia soal sikap tentang ‘Do it Yourself.’ Soal kemandirian. Sukarno menyebutnya ‘berdikari’ alias berdiri di kaki sendiri. Saya suka mengutip ucapan Pramoedya Ananta Toer mengenai arti mandiri itu. Dia bilang “Semua kekayaan kehidupan berada di dalam tubuh kita.” Bukan kebetulan pada satu ketika Marjinal plus komunitas Taring Babi pernah mendapuk almarhum Pram sebagai “Datuk Punk.”
Well, dalam acara perayaan ulangtahun Marjinal di Newseum itu, ada satu pengunjung yang datang belakangan. Tampilannya rapih, kemeja putih, jas disampirkan di lengan, dan pantolan hitam. Dia berkacamata. Menebarkan senyum. Dia datang dan segera membeli satu kaos Marjinal. Saya menyalaminya. Saya mengenalnya. Dia Fadjroel Rahman.
Jadi di acara punk ini, ada seseorang yang akhir-akhir ini rajin berkampanye sebagai calon presiden independen.
Fadjroel bilang pada Mujib, “kalau bukan karena Mike, saya nggak datang.” Dia menyebut “calon presiden independen juga adalah marjinal!” Dia tertawa.
Saya penasaran soal proses peninjauan kembali undang-undang Pemilu yang kelompoknya ajukan ke Mahkamah Konstitusi. Itu aktivitasnya yang getol dilakukan saban hari. Sudah tujuh kali sidang, katanya. Tadi siang ada calon bupati yang diijinkan dari independen. Itu kesembilan kalinya. “Kalau presiden independen diloloskan, bisa jungkir-balik partai-partai!” kata Fajdroel.
Saya juga bertemu Een, seorang punk cum dosen. Dia pengajar hukum di Universitas Pancasila. Dia juga jadi narasumber dalam liputan ‘Urban’ RCTI. Orangnya kalem. Topi menutupi kepalanya yang plontos, mengenakan jaket. Dia lebih memilih sudut di ujung meja bar bersama seorang temannya. Tampaknya Een lebih suka memerhatikan jalannya acara tersebut.
Haska selalu menjadi mediator acara setelah sesi selesai. Marjinal memainkan dua lagu lagi. Dan selalu ada yang menuju ke dekat panggung, anak-anak punk yang remaja, berjoget atau sekadar mengikuti lirik lagu sembari menggoyang kepala atau mengacung-acungka telunjuk. Kemudian ada kesempatan bagi pengunjung untuk tampil. Saya menunggu mereka memainkan lagunya, tapi saya pamit di tengah satu lagu, karena ternyata telinga saya lebih menyukai Marjinal yang menyanyi.
Saya membawa teman saya, namanya Ipung, dan kami keluar bersama tapi bertemu Mike di pinggir jalan, sedang membeli rokok. Kami ngoborol sejenak. Mike bilang bahwa menjadi punk itu gampang dan bisa dilakukan dalam satu jam. Lu beli kaos di Pasar Baru. Lalu pakai anting. Celana ketat. Rambut mohawk. Selesai.
Tapi punk bukan soal gaya. Ini “do yourself.” Jadilah dirimu sendiri, kata Mike.
Ipung, yang baru kali ini bertemu Marjinal meski sudah mendengar lama ceritanya dari saya, menyimak betul ucapan Mike.
Saya bilang Marjinal harus pikirkan juga soal situasi kekinian. Kerusakan hutan. Lumpur lapindo. Isu lingkungan. Banjir. Dan sebagainya. Perlu juga memikirkan soal kebangsaan. Saya menunggu, seraya berharap, suatu saat saya bisa mendengar Marjinal bikin lagu tentang Papua, atau menyitir ‘mop-mop’ Papua yang lucu tapi warganya menderita itu. Saya membayangkan seorang Arnold Ap dari Jakarta yang bicara Papua dalam satu lagu dan populer di jalan-jalan, sebagaimana lagu Marjinal umumnya. Arnop Ap adalah seniman rakyat Papua yang dibunuh Kopassus tahun 80-an.
Di akhir pembicaraan, sambil guyonan, Mike minta saya mencatat ucapannya. Saya mencatat ucapannya adalah uraian dia setahun silam. Intinya tentang kebebasan dan melawan sistem. Ternyata sudah setahun saya tak ketemu dengan Marjinal dan malam itu, pada saat ulangtahun mereka, kami bertemu lagi.
Mike bilang, “Supaya ludah ogut gak kebuang percuma...”
Kami bertiga tertawa. ***
koran-marjinal.blogspot.com
DISANA-SINI SEMUA PUN BERJANJI
PARTAI POLITIK JUGA WAKIL RAKYATNYA
PEMBANGUNAN, KERAKYATAN, KEMAKMURAN, KEADILAN
HANYALAH BASA-BASI
DISANA-SINI BANYAK PARTAI POLITIK
DISANA-SINI ADA WAKIL RAKYATNYA
SALING JEGAL, SALING HADANG
SALING SIKAT, SALING SIKUT
YANG PENTING BISA MENANG
KATANYA KITA SUDAH MERDEKA
TAPI BANYAK PENGGUSURAN DIMANA-MANA
KATANYA ADIL SUDAH MERATA
TAPI BANYAK PENGEMIS DIJALANAN
PERCUMA SAJA PUNYA PARTAI POLITIK
YANG HIDUP ENAK HANYA PARA KORUPTOR
RAKYAT SAKIT, RAKAT SUSAH
RAKYAT PANIK, RAKYAT BINGUNG
SIAPA YANG PEDULI
KATANYA KITA SUDAH MERDEKA
TAPI BANYAK PENGGUSURSN DIMANA-MANA
KATANYA ADIL SUDAH MERATA
TAPI BANYAK PENGEMIS DIJALANAN
Even though valentine is still a month ahead, it will be much better if you have a good plan about the gift that you will send to your wife. You might think that it is not an important day, but if you want to show her about your care and adoration, this is the perfect time. Among so many options of gifts, chocolate and flowers are really boring, why don't you give her something that will make her feel more sexy and confident? Something that you and your wife can enjoy it together?
Take a look at flirtylingerie.com this website has tremendous amount collection of sexy lingerie. Made from various materials, the sexy lingerie featured in this website will be suitable with any taste. They are available in various styles that will make any woman who wear them will looks sexy. You can make her feel confident wearing something that she will not wear on public area.
The sexy lingerie is available for you to purchase online. You can browse through the website and pick your favorite. They will have it shipped immediately to your home after you made the payment. Enjoy your valentine and make your wife feel appreciated with your favorite sexy lingerie.
